OTOTEKNO
NASA Siaga! Kebocoran Udara di ISS Memaksa Astronaut Berlindung di Crew Dragon
Para astronaut yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sempat diperintahkan berlindung di pesawat ruang angkasa Crew Dragon pada Jumat (5/6) setelah kebocoran udara terdeteksi di kompartemen Rusia dari laboratorium antariksa tersebut.
apakabar.co.id, JAKARTA - Para astronaut yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sempat diperintahkan berlindung di pesawat ruang angkasa Crew Dragon pada Jumat (5/6). Instruksi tersebut dikeluarkan setelah kebocoran udara terdeteksi di kompartemen Rusia menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan.
Insiden tersebut menyoroti tantangan besar yang harus dihadapi para penghuni ISS, yang mengorbit Bumi setiap 90 menit pada ketinggian kurang lebih 400 kilometer di atas permukaan planet. Meski situasi akhirnya berhasil dikendalikan dan tidak berujung pada evakuasi, peristiwa itu menunjukkan betapa cepat kondisi darurat di luar angkasa dapat mengubah aktivitas para astronaut.
Juru bicara NASA, Bethany Stevens, dalam pernyataannya di media sosial X menjelaskan bahwa langkah perlindungan dilakukan sebagai tindakan pencegahan saat badan antariksa Rusia, Roscosmos, melakukan upaya perbaikan terhadap kebocoran udara yang terjadi di modul layanan Zvezda.
"Untuk berjaga-jaga, anggota Crew-12 NASA dan seorang astronaut NASA lainnya diperintahkan berlindung di pesawat ruang angkasa Crew Dragon yang berlabuh di stasiun luar angkasa," kata Stevens, Sabtu (6/6).
Astronot yang diminta masuk ke Crew Dragon antara lain astronaut NASA Jack Hathaway, Jessica Meir, Chris Williams, astronaut Badan Antariksa Eropa (ESA) Sophie Adenot, serta kosmonot Rusia Andrey Fedyaev.
Crew Dragon sendiri berfungsi sebagai kendaraan transportasi sekaligus kapsul penyelamat yang selalu siap digunakan jika terjadi keadaan darurat di ISS. Dengan masuk ke dalam kapsul tersebut, para awak memiliki jalur evakuasi cepat apabila situasi memburuk.
Namun, sekitar 90 menit setelah prosedur perlindungan diberlakukan, kondisi dinilai cukup aman. Roscosmos memutuskan menghentikan sementara pekerjaan perbaikan struktural, dan NASA kemudian menginstruksikan para awak untuk kembali menjalankan aktivitas normal di stasiun luar angkasa.
"NASA menginstruksikan anggota kru di dalam Dragon untuk mengakhiri prosedur perlindungan aman dan kembali ke operasi yang direncanakan di Stasiun Luar Angkasa Internasional," ujar Stevens.
Kebocoran udara yang menjadi sumber kekhawatiran ini bukanlah masalah baru. NASA dan Roscosmos telah berbulan-bulan berupaya mencari penyebab pasti retakan yang muncul di modul layanan Zvezda, salah satu komponen penting ISS yang berada di segmen Rusia.
Menurut laporan Reuters, kedua badan antariksa bahkan sempat berbeda pandangan mengenai penyebab kebocoran maupun metode terbaik untuk memperbaikinya. Seorang pejabat senior NASA yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa tingkat kebocoran yang sebelumnya relatif kecil mengalami peningkatan pada Jumat (5/6).
"Kebocoran udara meningkat dari sekitar satu pon udara per hari menjadi dua pon per hari," kata pejabat tersebut.
Peningkatan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keselamatan awak dan integritas struktur ISS. Roscosmos kemudian memutuskan melakukan upaya perbaikan yang lebih besar untuk mengatasi masalah tersebut.
Laporan juga menyebutkan dua kosmonot Rusia, Sergey Kud-Sverchkov dan Sergei Mikayev, berencana menggunakan gergaji untuk mengakses area yang diduga menjadi sumber kebocoran. Namun, NASA disebut tidak sepakat dengan pendekatan tersebut karena mempertimbangkan risiko tambahan terhadap struktur stasiun.
Stevens menegaskan bahwa retakan pada modul Zvezda telah lama menjadi perhatian serius.
"Retakan-retakan itu selalu menjadi perhatian yang dipantau NASA dengan sangat cermat. NASA dan Roscosmos terus bekerja untuk menentukan penyebab utamanya, sementara Roscosmos melakukan langkah mitigasi operasional dan perbaikan parsial secara berkala," ujarnya.
Meski sempat menimbulkan ketegangan, insiden tersebut tidak mengganggu keberlangsungan misi Ekspedisi 74 yang saat ini berlangsung di ISS. Misi tersebut dimulai pada 8 Desember dan dijadwalkan berakhir pada musim panas tahun ini.
ISS sendiri merupakan proyek kerja sama internasional yang diluncurkan pada 1998 dan mulai dihuni manusia secara permanen sejak tahun 2000. Selama hampir 27 tahun operasinya, belum pernah terjadi evakuasi penuh akibat kebocoran udara maupun kondisi darurat lainnya.
Peristiwa terbaru ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi antariksa terus berkembang, kehidupan di luar Bumi tetap menyimpan berbagai risiko. Kebocoran kecil sekalipun dapat berkembang menjadi ancaman serius yang memaksa para astronaut menghentikan pekerjaan mereka dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hitungan menit.
NASA dan Roscosmos kini melanjutkan koordinasi untuk memastikan sumber kebocoran dapat diatasi secara permanen demi menjaga keselamatan seluruh awak yang tinggal dan bekerja di laboratorium luar angkasa terbesar milik umat manusia tersebut.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK