LINGKUNGAN HIDUP

Hadapi Perubahan Iklim, Akademisi Ingatkan Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan

Petani mengemas hasil panen padi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (22/6/2026). Foto: ANTARA
Petani mengemas hasil panen padi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (22/6/2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Samrat) Manado Prof Dr Joy Tulung mengatakan pemerintah perlu memperkuat ketahanan pangan terhadap perubahan iklim saat ini di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

"Dalam jangka menengah, pemerintah perlu memperkuat ketahanan pangan daerah melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim," kata Joy di seperti dilansir Antara, Rabu (12/8).

Joy mengatakan pengembangan teknologi pertanian, sistem irigasi yang lebih baik, pemanfaatan informasi prakiraan cuaca, serta penguatan rantai pasok dan logistik menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga.

Lebih lanjut ia mengatakan mengingat karakteristik Sulawesi Utara sebagai wilayah kepulauan, efisiensi sistem distribusi antar pulau juga harus menjadi perhatian agar biaya logistik tidak menjadi sumber inflasi baru.
Pada akhirnya, kata Joy, inflasi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi yang buruk. Inflasi yang masih berada pada tingkat yang terkendali merupakan indikator bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Namun demikian, ia mengatakan ketika tekanan inflasi mulai berasal dari berbagai kelompok pengeluaran secara bersamaan dan diperkuat oleh faktor eksternal seperti cuaca ekstrem, maka kewaspadaan harus ditingkatkan.

Sinergi yang kuat antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, BPS, TPID, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama agar inflasi Sulawesi Utara tetap berada dalam kisaran yang sehat, daya beli masyarakat tetap terjaga, dan pertumbuhan ekonomi daerah hingga akhir tahun dapat berlangsung secara berkelanjutan, ujar dia.

Ia mengatakan inflasi Sulawesi Utara pada Agustus 2026 perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena sumber tekanan inflasi kali ini tidak hanya berasal dari komoditas pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh kenaikan biaya pendidikan, khususnya pada kelompok perguruan tinggi.

Kondisi itu memiliki karakteristik yang berbeda dengan inflasi yang disebabkan oleh komoditas pangan musiman. Jika harga cabai, tomat, atau bawang umumnya akan kembali menurun ketika pasokan membaik, maka kenaikan biaya pendidikan cenderung bersifat lebih permanen selama satu tahun akademik.

Dengan demikian, lanjutnya, inflasi inti (core inflation) berpotensi mengalami peningkatan dan memberikan tekanan yang lebih panjang terhadap tingkat harga secara umum.
Ke depan hingga akhir tahun, tantangan inflasi diperkirakan masih cukup besar. Berbagai prakiraan menunjukkan bahwa fenomena cuaca ekstrem berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan harga dan ketersediaan pasokan komoditas strategis.

Kerja sama antardaerah juga perlu diperkuat untuk menjamin pasokan pangan dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan sehingga fluktuasi harga dapat ditekan.

Di samping itu, katanya, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan penguatan cadangan pangan pemerintah harus dilakukan secara lebih intensif, terutama menjelang periode Natal dan Tahun Baru ketika permintaan masyarakat biasanya meningkat.