EKBIS
Harga LNG Turun, ASAKI: Pacu Optimisme Industri
apakabar.co.id, JAKARTA - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) meyakini keputusan pemerintah menurunkan harga liquefied natural gas (LNG) untuk industri akan mendorong optimisme pelaku usaha dalam meningkatkan produksi dan memperkuat daya saing sektor manufaktur.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan kebijakan tersebut dinilai memberikan kepastian usaha sekaligus membuka ruang ekspansi industri keramik nasional.
"Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah atas perhatian dan langkah cepat yang telah diambil. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy dalam keterangan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Senin (29/6).
Ia mengatakan kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi industri keramik yang sebelumnya menghadapi tekanan tingginya biaya energi, mengingat memangkas harga LNG dari semula 20-23 dolar AS per MMBTU menjadi 13 dolar AS per MMBTU.
Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi 9,5-10 dolar AS per MMBTU, atau setara sekitar 38-40 persen dari total biaya produksi.
Penurunan biaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan operasional industri sekaligus menekan risiko pengurangan tenaga kerja maupun pemutusan hubungan kerja (PHK).
Meski demikian, ia mengatakan ASAKI berharap pemerintah dapat kembali meningkatkan porsi alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi sekitar 70-80 persen, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari China dan India.
Selain membantu menjaga keberlangsungan industri, kebijakan energi yang lebih kompetitif juga diyakini akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.
Dengan membaiknya kepastian pasokan gas dan iklim usaha, menurut dia, industri keramik nasional optimistis dapat merealisasikan rencana ekspansi pada periode 2025-2029.
Rencana tersebut meliputi penambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, investasi senilai Rp12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru.
Sebelumnya, Pemerintah memutuskan menurunkan harga liquefied natural gas untuk sektor industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU dari semula sekitar 20-23 dolar AS per MMBTU sebagai langkah menjaga daya saing industri nasional, sekaligus mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kebijakan tersebut diambil setelah pemerintah merespons aspirasi pelaku industri di tengah kenaikan harga gas dunia yang membebani biaya produksi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil koordinasi intensif antara pemerintah dan DPR dalam menyikapi dinamika geopolitik global yang berdampak pada sektor gas nasional.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY