LINGKUNGAN HIDUP

Jaga Keberlanjutan, WWF Usul Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia

Seorang warga mengamati pohon Binuang Laki berukuran besar di Hutan Hujan Tropis Kahung, Desa Belangian, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (21/8/2024). Foto: Antara
Seorang warga mengamati pohon Binuang Laki berukuran besar di Hutan Hujan Tropis Kahung, Desa Belangian, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (21/8/2024). Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengusulkan adanya transformasi sistem pembiayaan kehutanan di Indonesia guna memperkuat perlindungan hutan sekaligus mendukung pencapaian target keberlanjutan lingkungan nasional.

Menurut Sustainable Finance Manager WWF Indonesia Risyad Tri Setiaputra, kesenjangan pembiayaan sektor kehutanan Indonesia saat ini mencapai sekitar lima miliar dolar AS per tahun sehingga diperlukan transformasi seperti perubahan arah kebijakan investasi agar lebih mendukung keberlanjutan pengelolaan hutan.

“Kondisi ini menunjukkan pembiayaan yang merusak hutan jauh lebih besar dibandingkan dana konservasi yang tersedia saat ini. Jika tidak segera diperbaiki maka target lingkungan nasional akan semakin sulit dicapai,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (8/4).
Berdasarkan kajian WWF bersama Conservation Strategy Fund (CSF), aliran dana positif untuk sektor kehutanan tercatat sekitar 244 juta dolar AS per tahun. Sementara itu, aliran dana negatif mencapai 3,4 miliar dolar AS yang sebagian besar berasal dari sektor swasta berbasis lahan.

Dalam kesempatan yang sama, Indonesia Country Director CSF Indonesia Desta Pratama menilai ketimpangan tersebut mencerminkan perlunya perubahan arah kebijakan investasi agar lebih mendukung keberlanjutan pengelolaan hutan.

“Perlu ada pergeseran investasi agar lebih mendukung kegiatan ramah lingkungan serta mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan saat ini. Langkah tersebut penting untuk memastikan pembiayaan mendukung perlindungan hutan dan keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang,” kata Desta.

Lebih lanjut, dipaparkan pula hasil analisis studi yang menunjukkan kebutuhan pembiayaan untuk mencapai target kebijakan kehutanan nasional mencapai sekitar 5,3 miliar dolar AS per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang bagi penguatan pembiayaan sektor kehutanan.
Risyad lmenyampaikan bahwa transformasi sistem keuangan menjadi salah satu langkah penting untuk menutup kesenjangan tersebut, termasuk melalui penguatan instrumen pembiayaan hijau dan peningkatan transparansi.

“Transformasi sistem keuangan menjadi penting melalui penguatan instrumen seperti obligasi hijau serta pengembangan pasar karbon yang kredibel saat ini. Selain itu, transparansi dan manajemen risiko lingkungan harus diperkuat dalam sistem pembiayaan nasional,” ujar Risyad.

WWF dan CSF berharap sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dapat mempercepat perbaikan sistem pembiayaan kehutanan secara berkelanjutan guna mendukung pencapaian target iklim serta menjaga kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.