OPINI

Transformasi Budaya Kerja Berbasis WFH

Ilustrasi buruh atau pekerja. Foto: Reuters
Ilustrasi buruh atau pekerja. Foto: Reuters
Oleh: Eko Wahyuanto*

Pemerintah melalui Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/III/2026 menerapkan skema kerja Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan. Kebijakan ini mentransformasi budaya kerja nasional menjadi adaptif dan efisien.

​Di tengah ekonomi dunia yangg terus menggerus fiskal, optimalisasi penggunaan energi dan sumber daya menjadi kunci memperkuat ketahanan ekonomi nasional berkelanjutan. Langkah ini sangat strategis bagi masa depan bangsa.

​Kebijakan WFH satu hari dalam sepekan bertumpu pada kekuatan pondasi digital nasional. Perubahan mengharuskan setiap organisasi, baik pemerintah maupun swasta, bermigrasi dari pola kerja konvensional menuju sistem digital.

​Penggunaan aplikasi manajemen, sistem absensi daring, dan platform kolaborasi visual, memungkinkan koordinasi tetap berjalan tanpa kendala jarak. Digitalisasi menjadi instrumen kendali produktivitas dalam sebuah sistem lebih transparan.

​Setiap sistem kerja dan capaian kinerja Key Performance Indicators atau indikator kinerja utama dapat dipantau dan terekam secara real-time. Mekanisme ini memastikan pengalihan aktivitas kerja tetap terkontrol.

​Mekanisme ini memastikan WFH merupakan pengalihan aktivitas kerja ke ruang efisien secara energi, tetapi tetap terkontrol secara administratif. Hal tersebut menjaga integritas profesionalisme dalam setiap tugas negara.

Mesin Efisiensi

​Dalam kacamata manajemen publik, WFH bertindak sebagai mesin efisiensi. Menekan biaya operasional dan menciptakan penghematan dari pengurangan penggunaan fasilitas kantor dalam satu hari merupakan sebuah keuntungan bagi anggaran.

Biaya barang dan jasa, seperti penggunaan air bersih, perlengkapan kantor, hingga pemeliharaan rutin mekanikal-elektrikal gedung, dapat ditekan signifikan. Hal ini menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat dan stabil.

​Selain itu, efisiensi waktu bagi pekerja memiliki dampak ekonomi tidak langsung tetapi nyata. Pengurangan durasi perjalanan rumah-kantor menurunkan tingkat kelelahan mental dan fisik para pegawai secara masif.

​Pekerja dengan waktu istirahat cukup akan menjadi jauh lebih berkualitas. Efisiensi pada akhirnya akan meningkatkan daya saing perusahaan dan birokrasi Indonesia dalam menghadapi tantangan persaingan global masa kini.

​​Indonesia merumuskan kebijakan dengan mengambil pelajaran dari praktik terbaik di berbagai negara. Islandia telah membuktikan bahwa pengurangan jam kerja tanpa pemotongan upah justru mampu menjaga produktivitas tetap stabil.

​Belgia memberikan hak kepada pegawainya untuk tidak terhubung dengan urusan pekerjaan di luar jam kantor. Hak memutus kontak digital ini sangat penting guna menjaga kesehatan mental para pekerja.

​Beberapa negara lain bahkan menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu. Di Inggris, uji coba skala besar menunjukkan bahwa 92% perusahaan memilih melanjutkan skema kerja fleksibel tersebut.

​Hasilnya terjadi penurunan angka pengunduran diri pegawai dan penghematan biaya rekrutmen. Indonesia memilih skema WFH satu hari sepekan sebagai bentuk transisi moderat, berorientasi pada hasil terukur.

Dampak Keekonomian

​Data PT PLN memberikan gambaran kalkulatif potensi efisiensi listrik. Sektor perkantoran memiliki beban listrik tinggi pada siang hari, terutama untuk penggunaan pendingin udara sentral dan pencahayaan gedung.

​Jika diasumsikan terdapat 50.000 gedung non-esensial menerapkan WFH, maka penghematan beban listrik diperkirakan mencapai 200 kWh per gedung setiap hari. Ini merupakan angka penghematan yang sangat fantastis bagi negara.

​Dengan hitung-hitungan tarif listrik Rp1.500 per kWh, maka penghematan tagihan listrik nasional mencapai Rp15 miliar per hari. Potensi anggaran belanja barang bisa dihemat sebesar Rp780 miliar setahun.

​Angka ini menunjukkan pengurangan beban di pusat bisnis jauh lebih besar daripada kenaikan beban di pemukiman. Penggunaan energi di kantor bersifat masif dan terpusat sehingga efisiensinya sangat terasa.

​Sementara di sektor transportasi efisiensi dapat ditekan luar biasa melalui WFH. Berdasar kalkulasi mentah, pengurangan mobilitas pekerja secara serentak berdampak pada penurunan konsumsi bahan bakar minyak secara nasional.

​Estimasi pemerintah menunjukkan terdapat sekitar 5 juta kendaraan mobil dan motor tidak bergerak untuk urusan komuting. Hal ini mengurangi kepadatan lalu lintas dan menghemat cadangan energi fosil kita.

​Jika satu kendaraan rata-rata menghemat 2 liter BBM, maka terjadi pengurangan konsumsi 10 juta liter BBM per hari. Ini merupakan langkah nyata dalam melakukan penghematan sumber daya alam.

​Negara dapat menghemat pengeluaran anggaran sebesar Rp20 miliar per hari dari subsidi energi. Secara tahunan, efisiensi dari sisi subsidi energi transportasi ini menembus angka Rp1,04 triliun rupiah.

​Penurunan konsumsi tidak hanya menyehatkan fiskal, tetapi juga membantu menurunkan kebergantungan pada impor minyak mentah. Ini memperkuat kedaulatan energi nasional dalam jangka panjang bagi seluruh rakyat Indonesia.

*) Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik