NEWS

3 Dekade Anak-Anak Kampung Sadang Bertahan dengan Rakit

Selama lebih dari 30 tahun, anak-anak Kampung Sadang di tepian Waduk Saguling harus mengandalkan rakit bambu untuk berangkat sekolah.
Sejumlah anak menaiki sebuah rakit ketika jam pulang sekolah dari SDN Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Foto: ANTARA
Sejumlah anak menaiki sebuah rakit ketika jam pulang sekolah dari SDN Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Foto: ANTARA
apakabar.co.id - Jarum jam belum menunjukkan pukul 06.00 WIB ketika aktivitas di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, mulai hidup.

Di antara rumah-rumah yang berdiri di tepian Waduk Saguling, anak-anak berseragam sekolah berjalan berkelompok menuju sebuah rakit bambu yang sudah menunggu di bibir waduk. Tas sekolah tergantung di punggung mereka, sementara di hadapan terbentang hamparan air yang harus diseberangi sebelum pelajaran dimulai.

Satu per satu anak menaiki rakit. Mereka duduk rapat sambil menjaga tas dan perlengkapan sekolah. Tak lama kemudian rakit bergerak perlahan, ditarik menggunakan tali yang membentang dari satu sisi waduk ke sisi lainnya.

Tujuannya adalah Kampung Gombong, lokasi SD Negeri Budiharja berdiri.

Bagi orang luar, pemandangan itu mungkin terlihat tidak biasa. Namun bagi warga Kampung Sadang, itulah rutinitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Jalan Sekolah yang Terputus Waduk

Secara jarak, Kampung Sadang dan sekolah tidak terpisah terlalu jauh. Namun keberadaan Waduk Saguling membuat akses langsung terputus.

Tanpa jembatan penghubung, anak-anak hanya memiliki dua pilihan. Menyeberang menggunakan rakit atau berjalan kaki melalui jalur darat yang memutar.

Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik, mengatakan jalur darat menuju sekolah mencapai hampir empat kilometer.
Dengan berjalan kaki, anak-anak membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di sekolah. Waktu tersebut terasa semakin berat karena siswa kini harus sudah berada di kelas sejak pukul 06.30 WIB.

“Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya sampai dari sana ke sini 10 menit juga atau 5 menit. Itu sangat diperlukanlah jembatannya,” ujar Taufik.

Saat ini terdapat 16 siswa SD Negeri Budiharja yang masih bergantung pada rakit setiap hari.

Mereka terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.

Bagi sekolah, persoalan tersebut bukan hanya soal jarak tempuh. Akses menuju pendidikan yang aman dan layak menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Kekhawatiran Seorang Ibu

Rutinitas yang sama juga dijalani Santi Nur Setiani. Anak keduanya yang kini duduk di bangku kelas tiga SD setiap hari harus menyeberangi waduk untuk berangkat sekolah.

Biasanya, warga dan ketua RT membantu mengantar anak-anak menuju rakit. Tidak ada moda transportasi lain yang dapat digunakan secara langsung menuju sekolah.

“Tidak ada transportasi yang lain,” kata Santi.

Meski rakit menjadi solusi tercepat, kekhawatiran tetap menghantui para orang tua.

Ketika hujan turun atau permukaan waduk dipenuhi eceng gondok, perjalanan menjadi lebih sulit. Namun anak-anak tetap harus berangkat agar tidak tertinggal pelajaran.

Santi mengaku paling khawatir ketika anak-anak bercanda saat berada di atas rakit.

“Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” ujarnya.

Jika tidak ada warga yang membantu mengantar, anak-anak terpaksa berjalan kaki melalui jalur darat.

“Paling setengah jam kalau cepat,” katanya.

Bertahan Sejak 1990

Ketua RT 05 Kampung Sadang, Agus Sumpena, mengatakan penggunaan rakit untuk membantu anak-anak bersekolah telah berlangsung sejak sekitar tahun 1990.

Pada awalnya, setiap orang tua mengantar anak masing-masing menggunakan rakit sederhana. Namun seiring waktu, sekolah kemudian menyediakan rakit umum yang digunakan khusus untuk penyeberangan siswa.

“Ini dari penyeberangan anak sekolah, khususnya dari tahun 90. Kalau dulu dari orang tua masing-masing, kemudian diadakan oleh kepala sekolah, dibuat rakit umum khusus untuk penyeberangan anak sekolah,” katanya.

Sejak saat itu, rakit menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kampung Sadang.

Namun rakit bambu tidak dapat bertahan selamanya. Dalam dua hingga tiga tahun, bambu biasanya mulai lapuk dan harus diganti.

Warga kemudian bergotong royong membeli bambu baru dan membuat rakit pengganti secara swadaya.

Menurut Agus, hingga saat ini sedikitnya enam kali rakit telah berganti.

“Kadang-kadang dua-tiga tahun sudah rusak, ganti lagi. Kadang-kadang swadaya bikin. Ini beli bambu, swadaya bikin rakit buat penyeberangan anak sekolah,” ujarnya.

Dalam sekali perjalanan, rakit dapat mengangkut sekitar 15 hingga 20 anak.

Pagi hari digunakan untuk mengantar siswa ke sekolah, sedangkan siang hari kembali digunakan untuk menjemput mereka pulang.

Bukan Hanya untuk Sekolah

Bagi warga Kampung Sadang, rakit bukan sekadar sarana pendidikan.

Rakit juga menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari masyarakat. Warga menggunakannya untuk menuju kebun, membawa hasil pertanian, berjualan hingga memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Karena itu, kebutuhan terhadap jembatan dirasakan seluruh warga, bukan hanya anak-anak sekolah.
“Harapan warga memang dari dulu kalau dibikin jembatan, kalau dibikin jembatan ini enaklah buat penyeberangan, khususnya anak sekolah,” kata Agus.

Harapan tersebut kembali menguat setelah video penyeberangan anak-anak menggunakan rakit bambu beredar luas di media sosial.

Dalam video itu, sejumlah siswa SD hingga SMP terlihat menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit untuk berangkat sekolah.

Bagi warga Kampung Sadang, pemandangan itu adalah keseharian yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Namun bagi masyarakat luas, perjalanan tersebut menjadi gambaran nyata tentang perjuangan memperoleh akses pendidikan.

Perhatian publik itu kemudian mendapat respons dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menyatakan tim Dinas PUPR Jawa Barat akan meninjau lokasi untuk mengkaji kemungkinan pembangunan akses penyeberangan permanen.

Bagi warga Kampung Sadang, rencana tersebut menghadirkan secercah harapan baru. Setelah lebih dari 30 tahun mengandalkan rakit bambu, mereka berharap generasi berikutnya tidak lagi harus memulai hari sekolah dengan menyeberangi waduk menggunakan rakit.