LIFESTYLE
Dokter Ingatkan Risiko Penyakit Anak Meningkat Saat Banjir
apakabar.co.id, JAKARTA – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia memaksa ribuan warga mengungsi. Di tengah kondisi darurat tersebut, bayi dan anak menjadi kelompok paling rentan mengalami gangguan kesehatan, terutama akibat keterbatasan air bersih, sanitasi, dan pola hidup di pengungsian.
Dokter Spesialis Anak dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI mengatakan, lingkungan banjir meningkatkan risiko paparan kuman penyebab penyakit pada bayi dan anak, yang sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna.
“Penyakit yang paling sering terjadi adalah diare dan gangguan saluran cerna, akibat air minum dan makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit,” kata Leonirma dikutip ANTARA, Rabu (28/1).
Ia menjelaskan, diare pada bayi dan anak dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi, karena cadangan cairan tubuh mereka lebih sedikit dibanding orang dewasa.
Selain diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga banyak ditemukan di pengungsian. Udara lembap, suhu dingin, dan kepadatan pengungsi mempermudah penularan virus dan bakteri penyebab infeksi.
Penyakit kulit pun kerap muncul akibat kontak langsung dengan air banjir yang kotor.
Air banjir berpotensi mengandung bakteri berbahaya, termasuk Leptospira dari urine tikus, yang dapat menyebabkan leptospirosis. Genangan air pascabanjir juga meningkatkan risiko demam berdarah dengue.
Leonirma mengimbau orang tua waspada terhadap tanda awal penyakit pada anak, seperti diare, batuk dan pilek yang memberat, demam tinggi, napas cepat atau berat, anak tampak sangat lemas, serta kelainan kulit yang tidak membaik.
Dalam kondisi pengungsian, ia menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk memastikan air minum aman, mencuci tangan sebelum menyuapi anak, serta menghindari anak bermain di genangan air.
“Untuk bayi, ASI adalah pilihan paling aman dan higienis, terutama saat akses air bersih terbatas,” ujarnya.
Sementara itu, dokter dan ahli gizi masyarakat Dr dr Tan Shot Yen, MHum menyoroti risiko pemberian makanan dan minuman yang tidak sesuai usia di pengungsian. Menurutnya, distribusi bantuan pangan yang tidak terkoordinasi sering kali berdampak buruk pada kesehatan bayi dan anak.
“Banyak bayi justru diberi susu formula atau produk kemasan, padahal ketersediaan air bersih tidak selalu memadai. Ini meningkatkan risiko diare,” kata Tan.
Ia mendorong pendirian dapur pemberian makan bayi dan anak (PMBA) di lokasi pengungsian untuk memastikan asupan gizi sesuai usia dan proses pengolahan yang aman.
Kedua dokter sepakat, perlindungan kesehatan bayi dan anak saat banjir membutuhkan peran orang tua, tenaga kesehatan, serta pengelola pengungsian.
Edukasi tentang kebersihan, gizi, dan tanda bahaya penyakit dinilai penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan.
Orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti dehidrasi, sesak napas, demam tinggi, kejang, muntah berulang, atau luka yang menunjukkan tanda infeksi.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

