OPINI
Memahami Kanker, Memahami Manusia
Oleh: Dito Anurogo*
Setiap 4 Februari, Hari Kanker Sedunia datang seperti jeda yang memaksa kita menata ulang cara memandang penyakit.
Selama bertahun-tahun, kanker (karsinoma) sering diperlakukan sebagai musuh tunggal. Sesuatu yang harus “dikalahkan” dengan senjata paling keras.
Metafora perang memang mudah dipahami, namun ada harga yang diam-diam dibayar. Metafora itu cenderung mereduksi manusia menjadi medan tempur, menjadikan keberhasilan semata-mata ukuran respons tumor, dan menganggap efek samping sebagai korban yang “wajar”.
Padahal, menurut perspektif onkologi modern, semakin jelas bahwa kanker bukan hanya perkara sel yang bermutasi. Ia adalah peristiwa biologis, psikologis, sosial, dan moral, yang berjalan serempak di tubuh seseorang, di rumahnya, di tempat kerjanya, di sistem layanan kesehatan yang ia tempuh, dan di bahasa yang dipakai keluarga untuk menamai ketakutan.
Tema United by Unique untuk periode 2025–2027, yang diusung Union for International Cancer Control, terasa seperti koreksi halus terhadap kebiasaan lama itu. Ia bukanlah sekadar slogan, melainkan pergeseran pusat gravitasi dari “penyakit” ke “pribadi”.
Unik, dalam konteks kanker, bukan romantisasi penderitaan. Unik adalah fakta ilmiah sekaligus fakta etika. Secara ilmiah, setiap tumor punya jejak molekuler yang berbeda: mutasi, pola ekspresi gen, profil protein, dan ekologi mikro-lingkungan yang tidak pernah benar-benar sama.
Secara etika, setiap pasien memiliki nilai hidup yang berbeda: apa yang ia anggap layak dipertahankan, apa yang ia takutkan, apa yang ia ingin pahami, dan apa yang ia perlukan dari layanan kesehatan agar tetap merasa utuh sebagai manusia.
Menurut perspektif nanoimmunoherbogenomics (nanoteknologi, imunologi, genomika, dan bioaktif tumbuhan), keunikan itu tampak bukan sebagai slogan, melainkan sebagai peta kerja. Di sana, masa depan tatalaksana kanker tidak dipahami sebagai pencarian “peluru ajaib” tunggal, tetapi sebagai upaya merakit kotak alat yang sangat personal.
Ada pasien yang memerlukan pembedahan presisi dan radioterapi terukur, ada yang memerlukan terapi sistemik berbasis target molekuler, ada yang paling diuntungkan oleh strategi imunoterapi, dan ada yang memerlukan orkestrasi semuanya, diiringi dukungan nutrisi, psikologis, paliatif, dan sosial.
Kunci yang sering luput; yang tercanggih bukan selalu yang tertepat, dan yang paling tepat bukan selalu yang paling keras.
Melalui Reaksi, Menuju Intersepsi
Salah satu perubahan paling filosofis dalam onkologi adalah pergeseran dari reaktif menjadi antisipatif. Selama dekade panjang, sistem kesehatan bergerak ketika tumor sudah tampak. Kita menunggu sesuatu menjadi nyata, lalu bertindak sekuat mungkin.
Kini ilmu mulai membuktikan bahwa kanker sering punya masa preklinis yang dapat diukur. Maksudnya, fase ketika risiko tumbuh, ketika perubahan seluler mulai mengumpulkan daya, ketika lingkungan mikro mulai menjadi "ramah" bagi keganasan.
Pada tahap ini, perawatan bukan lagi hanya mengobati penyakit yang sudah muncul, tetapi berusaha mencegah agar penyakit tidak berkembang lebih jauh.
Kondisi seperti MGUS (yang bisa berkembang menjadi kanker darah) atau Barrett’s esophagus (yang meningkatkan risiko kanker kerongkongan) mengajarkan kita bahwa “sehat” dan “sakit” tidak selalu terpisah jelas. Ada wilayah abu-abu yang membutuhkan kewaspadaan klinis, bukan kepanikan.
MGUS (Monoclonal Gammopathy of Undetermined Significance) adalah keadaan ketika darah mengandung protein abnormal dari sel sumsum tulang. Biasanya tidak berbahaya, tetapi tetap harus dipantau karena kadang bisa berubah menjadi kanker darah.
“Intersepsi” bukan berarti semua orang langsung diberi obat. Artinya, risiko dikelola dengan bukti medis, penuh kehati-hatian, dan dengan pertimbangan jujur antara manfaat dan risiko.
Dari sudut pandang ilmu baru seperti nanoimmunoherbogenomics, muncul peluang yang dulu terasa mustahil: pencegahan yang lebih canggih. Bukan sekadar menambah obat, tetapi mengatur ulang lingkungan sel sebelum kanker terbentuk. Caranya bisa dengan mengarahkan obat anti-inflamasi, memperkuat sistem imun bawaan, atau mengurangi peradangan kronis di jaringan yang berisiko.
Namun, setiap kali teknologi membuka kemungkinan baru, muncul pertanyaan etis: siapa yang boleh mendapatkannya, kapan tepatnya digunakan, dengan syarat apa, dan siapa yang bertanggung jawab jika prediksi ternyata salah?
Dinamika untuk Merasa Berdaya
Di Indonesia, pembicaraan kanker hampir selalu bersinggungan dengan herbal. Ada yang menertawakan, ada yang menuhankan. Dua sikap itu tidak produktif, dan sering melukai pasien yang hanya sedang mencari cara agar merasa punya kendali atas hidupnya.
Dari perspektif farmakologi dan bioetika, posisi yang lebih manusiawi adalah dialog yang disiplin. Maksudnya, bioaktif tumbuhan diperlakukan sebagai kandidat ilmiah, bukan sekadar cerita; sekaligus diperlakukan sebagai realitas budaya, bukan sekadar gangguan.
Sebagian senyawa tumbuhan memang memiliki aktivitas biologis, berupa: modulasi inflamasi, stres oksidatif, atau jalur sinyal tertentu. Tetapi “memiliki aktivitas” tidak sama dengan “aman dan efektif” pada konteks kanker.
Pasien yang menjalani kemoterapi atau terapi target, interaksi obat itu nyata. Beberapa senyawa dapat mempengaruhi enzim metabolisme di hati, mengubah kadar obat, lalu menggeser keseimbangan manfaat-risiko. Prinsip yang paling melindungi pasien sering kali sederhana: apa pun yang dikonsumsi, harus dibicarakan terbuka dengan tim klinis, bukan disembunyikan demi menghindari perdebatan.
Seni Menjaga Kualitas Hidup
Ada satu pembenaran besar yang perlu terus diulang: perawatan paliatif bukan sinonim menyerah. Paliatif adalah seni menjaga kualitas hidup, mengelola nyeri, mual, sesak, kecemasan, gangguan tidur, dan beban psikososial, sejak awal perjalanan, bukan hanya di ujung.
Bukti yang berkembang menunjukkan bahwa integrasi paliatif sejak dini dapat membuat pasien merasa lebih manusiawi dalam proses yang sering membuat orang merasa seperti objek prosedur.
Di sisi lain, onkologi modern juga mulai belajar “mengurangi” dengan berani. De-eskalasi—misalnya menghindari tindakan tertentu pada pasien berisiko rendah agar morbiditas tidak bertambah tanpa manfaat yang setara. Ini menunjukkan kedewasaan klinis.
Pedoman yang dikeluarkan American Society of Clinical Oncology dan komunitas ilmiah lainnya kian sering memasukkan pertimbangan nilai pasien, bukan hanya angka statistik. Ini bukan semata soal efisiensi, tetapi soal keadilan terhadap tubuh. Tubuh pasien bukan ladang uji, melainkan rumah yang masih harus ditinggali setelah terapi selesai.
Luka Sunyi Biaya Perawatan
Di ruang publik, kanker sering dibicarakan dengan bahasa ilmiah, tetapi penderitaan pasien sering terjadi pada hal-hal yang tidak masuk laporan patologi: antrean panjang, rujukan berlapis, jarak yang jauh, biaya transportasi, kehilangan pendapatan, kelelahan caregiver, ketidakpastian jadwal radioterapi, dan kebingungan administrasi.
“Toksisitas finansial” adalah toksisitas yang membuat terapi berhenti diam-diam.
Di Indonesia, keberadaan BPJS Kesehatan adalah penopang besar, tetapi tantangan akses dan ketersediaan layanan tetap nyata di banyak daerah. Onkologi yang sungguh manusiawi tidak hanya bertanya “obat apa”, tetapi juga “bagaimana pasien dapat menjangkau obat itu tanpa kehilangan hidupnya yang lain?”
Pada akhirnya, “United by Unique” dapat dibaca sebagai pernyataan etika. Keunikan pasien bukan gangguan bagi protokol, melainkan alasan protokol ada. Keunikan juga berarti kita tidak boleh menyederhanakan pengalaman kanker menjadi satu garis lurus.
Ada pasien yang ingin agresif karena ia merasa punya tanggungan hidup. Ada pasien yang memilih lebih tenang karena ia ingin hari-harinya tidak habis di rumah sakit. Ada keluarga yang meminta diagnosis disembunyikan demi “melindungi”, sementara pasien sebenarnya ingin tahu agar bisa menata hidupnya.
Di sinilah onkologi bertemu filsafat. Tentang otonomi, kasih, kebenaran, dan batas-batas keputusan yang dapat disebut “baik”.
Kita bisa merayakan kemajuan. Mulai dari intersepsi pra-kanker yang lebih nyata, presisi multimodal yang makin tajam, AI yang membantu menenun data, terapi sel yang makin cerdas, nanoteknologi yang makin terarah, hingga dialog yang lebih dewasa tentang bioaktif tumbuhan.
Namun, peringatan 4 Februari mengajak kita untuk menjaga pusatnya tetap sama. Manusia yang sedang menjalani sesuatu yang besar, sering kali tanpa pernah meminta hal itu datang.
Boleh jadi, di ruang konsultasi nan sunyi, pertanyaan paling menentukan tetap bukan pertanyaan yang paling canggih, melainkan pertanyaan yang paling manusiawi. Apa yang ingin dipertahankan, apa yang sanggup dijalani, apa yang perlu diketahui, siapa yang ingin diajak berjalan bersama.
Juga, bagaimana onkologi presisi tetap setia menemani umat manusia hingga akhir masa.
*) Dokter riset, dosen FKIK Unismuh Makassar, peneliti Inovasi Molekuler Indonesia
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY



