LIFESTYLE

NusaAKsara: Saat AI jadi Penjaga Aksara Nusantara yang Terancam Hilang

Teknologi AI modern kini mampu memahami dan menghasilkan teks dalam puluhan bahasa. Namun, sebagian besar sistem tersebut dibangun dengan basis alfabet Latin, sehingga banyak bahasa dan aksara tradisional di berbagai negara belum mendapatkan perhatian yang memadai.
Monash University gunakan AI untuk mendukung pelestarian DNA budaya Indonesia. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Monash University gunakan AI untuk mendukung pelestarian DNA budaya Indonesia. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), muncul kekhawatiran baru yang jarang dibahas publik. Kekhawtiran akan hilangnya bahasa dan aksara tradisional Indonesia seiring digitalisasi di semua sendi kehidupan.

Teknologi AI modern kini mampu memahami dan menghasilkan teks dalam puluhan bahasa. Namun, sebagian besar sistem tersebut dibangun dengan basis alfabet Latin, sehingga banyak bahasa dan aksara tradisional di berbagai negara belum mendapatkan perhatian yang memadai.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan besar. Sebagai negara yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah serta beragam aksara tradisional. Ketimpangan digital tersebut berpotensi mempercepat hilangnya warisan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun secara turun temurun.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti internasional yang dipimpin Assistant Professor Alham Fikri Aji dan Associate Professor Derry Wijaya memperkenalkan NusaAKsara, sebuah tolok ukur inovatif yang dirancang untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali aksara-aksara asli Indonesia melalui teknologi AI.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara Monash University Indonesia, Monash University Australia, dan MBZUAI, serta dipublikasikan dalam Proceedings of the 63rd Annual Meeting of the Association for Computational Linguistics.

Ancaman digital terhadap aksara tradisional
Perkembangan internet dan teknologi digital memang membawa banyak manfaat. Namun di sisi lain, tuntutan penggunaan alfabet Latin membuat banyak aksara tradisional semakin jarang digunakan.

Padahal, aksara tradisional bukan hanya alat tulis. Di dalamnya tersimpan berbagai pengetahuan penting mengenai sejarah, hukum, perdagangan, pengobatan, hingga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh generasi terdahulu.

Ketika sebuah aksara tidak lagi digunakan, generasi muda perlahan kehilangan kemampuan untuk membaca dokumen bersejarah yang menjadi bagian dari identitas mereka. Akibatnya, warisan budaya yang seharusnya menjadi sumber pembelajaran justru terasa asing bagi masyarakatnya sendiri.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan ahli linguistik Hywel Coleman yang mengungkapkan bahwa hilangnya sebuah bahasa berarti hilangnya pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

AI kesulitan memahami aksara nusantara
Salah satu temuan penting dalam penelitian NusaAKsara adalah rendahnya kemampuan AI modern dalam memahami aksara tradisional Indonesia.

Ketika para peneliti menguji berbagai model AI terkini pada aksara Jawa, Sunda, dan Lontara, hasilnya cukup mengejutkan. Sebagian besar model menunjukkan kemampuan yang hampir nol. Bahkan sistem AI yang sangat canggih sering gagal mengenali karakter dasar dan menghasilkan teks yang tidak masuk akal.

Saat ini, sebagian besar data yang digunakan untuk melatih AI berasal dari bahasa Inggris dan bahasa lain yang menggunakan alfabet Latin. Akibatnya, aksara lokal Indonesia hampir tidak mendapatkan ruang dalam proses pengembangan teknologi AI global.

Kondisi tersebut menciptakan lingkaran masalah. Karena data aksara lokal sedikit, AI tidak mampu memahaminya dengan baik. Karena AI tidak mendukung aksara lokal, penggunaannya semakin berkurang. Pada akhirnya, aksara tradisional semakin terpinggirkan di era digital.

NusaAKsara hadir sebagai solusi

Melalui NusaAKsara, para peneliti berusaha memutus lingkaran tersebut. Berbeda dengan banyak proyek AI yang hanya mengandalkan sumber digital, tim peneliti turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan materi pembelajaran. Mereka mengoleksi sekitar 75 buku dan manuskrip dari pasar lokal maupun koleksi pribadi yang masih menyimpan teks dalam berbagai aksara tradisional.

Proses pengumpulan data dilakukan bersama penutur asli, pendidik, dan komunitas pelestari budaya, termasuk komunitas Aksara di Nusantara. Ribuan halaman kemudian ditranskripsi, ditransliterasi, dan diterjemahkan secara manual.

Pendekatan ini sangat penting karena memungkinkan AI mempelajari bukan hanya bentuk huruf, tetapi juga konteks budaya yang terkandung di dalam teks.

Dengan demikian, NusaAKsara tidak sekadar menjadi basis data teknis, melainkan juga jembatan antara teknologi modern dan warisan budaya Indonesia.

Aksara Lampung hidup kembali
Salah satu pencapaian paling menarik dari proyek ini adalah upaya mengakomodasi aksara Lampung.

Hingga saat ini, aksara Lampung belum memiliki dukungan Unicode yang memadai. Artinya, aksara tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam standar penulisan digital global dan sangat sulit digunakan di internet.

Tim peneliti kemudian membangun kerangka kerja khusus agar aksara Lampung dapat diproses dalam sistem AI. Langkah ini menjadi terobosan penting karena memberikan ruang digital bagi aksara yang selama ini nyaris tidak terlihat dalam ekosistem teknologi modern.

Dengan adanya dukungan tersebut, peluang pelestarian aksara Lampung di masa depan menjadi jauh lebih besar.

Meski berbasis teknologi canggih, manfaat NusaAKsara sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Di bidang pendidikan, teknologi ini dapat membantu sekolah mengajarkan aksara leluhur dengan metode yang lebih modern dan menarik bagi generasi muda.

Di bidang hukum, AI berpotensi membantu menafsirkan dokumen lama, akta tanah bersejarah, hingga catatan hukum yang ditulis menggunakan aksara tradisional.

Sementara dalam aspek identitas budaya, NusaAKsara memastikan bahwa keberagaman lokal tetap mendapat tempat di tengah dominasi teknologi global.

Associate Professor Derry Wijaya menegaskan bahwa sistem penulisan lokal Indonesia bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan gudang pengetahuan yang sangat berharga.

AI untuk melestarikan bukan menyeragamkan
Kehadiran NusaAKsara menunjukkan bahwa AI tidak harus menjadi alat yang menyeragamkan budaya dunia. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjaga keberagaman dan memperkuat identitas lokal.

Melalui proyek ini, Monash University Indonesia memperlihatkan bagaimana inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. NusaAKsara menjadi bukti bahwa masa depan AI tidak hanya tentang kecanggihan mesin, tetapi juga tentang bagaimana teknologi membantu manusia menjaga warisan yang membentuk jati dirinya.

Di tengah ancaman punahnya berbagai aksara tradisional, NusaAKsara menghadirkan harapan baru: masa depan di mana aksara Nusantara tidak hanya bertahan, tetapi juga hidup kembali di era digital.