NEWS
Putra Barabai Diganjar Jenderal Kehormatan oleh Presiden Prabowo
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah penganugerahan pangkat kehormatan kepada sejumlah tokoh nasional pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80, satu nama memiliki kedekatan khusus dengan masyarakat Kalimantan, yaitu Brigjen Pol (Purn) Taufiq Effendi.
Putra kelahiran Barabai, Kalimantan Selatan, ini menerima penghargaan dari Presiden Prabowo Subianto atas perjalanan panjang pengabdiannya di kepolisian, pemerintahan, dan parlemen.
Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan pangkat kehormatan Republik Indonesia kepada tiga purnawirawan Polri dalam upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Satuan Latihan Brimob Polri, Cikeas, Kabupaten Bogor, Rabu (2/7/2026).
Selain mantan Ketua MPR RI sekaligus ajudan terakhir Soekarno, Irjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto dan mantan Ketua KPK Irjen Pol (Purn) Taufiequrachman Ruki, penghargaan tersebut juga diberikan kepada Taufiq.
Taufiq merupakan putra daerah kelahiran Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, pada 12 April 1941. Ia meniti karier panjang di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia sebelum dipercaya menduduki berbagai jabatan penting di tingkat nasional.
Selama berdinas di Polri, Taufiq banyak berkecimpung di bidang intelijen. Ia pernah menjabat berbagai posisi intelijen mulai dari kepala seksi intelijen hingga Wakil Asisten Intelijen Polda Nusa Tenggara. Kariernya juga sempat bersinggungan dengan penanganan kejahatan narkotika di lingkungan Kepolisian RI.
Pada 1966, ia bertugas sebagai Liaison Officer Dinas Hubungan Luar Negeri Polri. Pengalamannya di bidang kepolisian internasional diperkuat melalui pendidikan di International Police Academy, Washington DC, Amerika Serikat, serta pelatihan Drug Enforcement di Amerika Serikat pada 1977.
Karier Taufiq berlanjut hingga dipercaya menjadi Staf Ahli Kapolri sebelum mengakhiri masa dinasnya dengan pangkat brigadir jenderal polisi.
Di bidang akademik, Taufiq juga menempuh pendidikan magister bisnis dan meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Institut Bisnis Manajemen Jayabaya pada 1993. 2011 silam, ia bahkan lulus ujian promosi doktor di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat cum laude dalam bidang studi ilmu hukum administrasi negara.
Setelah pensiun dari kepolisian, Taufiq memasuki dunia politik dan pemerintahan. Ia aktif di Partai Demokrat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal serta terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Selatan.
Namanya semakin dikenal luas ketika Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menunjuknya sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) periode 2004–2009.
Gusti Taufiq Effendi juga tercatat pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Jhonlin Group, di mana ia memimpin pengawasan strategis atas tata kelola korporasi pada induk holding milik Haji Isam tersebut.
2024 lalu, Taufiq genap berusia 84 tahun. Di balik karier panjangnya sebagai polisi, anggota DPR, hingga menteri, Taufiq Effendi dikenal memiliki filosofi hidup yang sederhana tentang kepemimpinan dan perubahan.
Ia pernah berujar bahwa perubahan besar tidak bisa dimulai dengan keinginan mengubah orang lain, melainkan dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Menurutnya, langkah sekecil apa pun lebih berarti daripada tidak memulai sama sekali.
"Saya akhirnya menyadari bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Maka, mulailah dari langkah kecil, yang penting bergerak. Jangan koler (malas)," ujar Taufiq ketika itu kepada media ini.
Salah satu kisah yang kerap diceritakan Taufiq Effendi adalah ketika ia tiba-tiba mendapat panggilan untuk menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu ia mengira hanya akan dimintai pandangan seperti biasa.
Namun pertemuan tersebut justru berujung pada tawaran masuk kabinet sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Taufiq mengaku tidak pernah membayangkan akan menerima amanah tersebut karena sepanjang kariernya lebih dikenal sebagai perwira Polri dan anggota DPR RI.
Pengalaman itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup sering kali bergerak ke arah yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. "Yang selalu saya pegang hanyalah satu, yaitu penggalan Al-Fatihah. iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în," ujarnya.
Penganugerahan pangkat kehormatan dari Presiden Prabowo menjadi pengakuan negara atas perjalanan panjang pengabdian Taufiq di bidang kepolisian, pemerintahan, dan pelayanan publik.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga menganugerahkan pangkat kehormatan kepada Sidarto Danusubroto. Sidarto dikenal sebagai ajudan terakhir Presiden pertama RI Soekarno yang mulai bertugas pada 6 Februari 1967 di tengah masa transisi politik pasca-Supersemar.
Penugasan tersebut menjadikan Sidarto salah satu saksi langsung periode terakhir kehidupan politik Bung Karno. Setelah meniti karier panjang di kepolisian, ia kemudian aktif di dunia politik, menjadi anggota DPR/MPR RI selama tiga periode, Ketua MPR RI pada 2013–2014, serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
"Menganugerahkan pangkat secara istimewa kepada purnawirawan Kepolisian Negara Republik Indonesia atas jasanya yang luar biasa untuk bangsa dan negara RI," kata Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) Mayjen TNI Wahyu Yudhayana.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR