EKBIS

HSG Dibuka Menguat di Tengah Harapan BI Tahan Suku Bunga

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya menilai kenaikan IHSG mencerminkan sentimen positif investor yang cenderung menahan aksi jual sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter dalam negeri.
Ilustrasi - Pekerja memantau grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Treasury BTN, Jakarta. Foto: ANTARA
Ilustrasi - Pekerja memantau grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Treasury BTN, Jakarta. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Kamis (19/2) dengan penguatan, seiring optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan tetap bertahan di level saat ini.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 47,22 poin atau 0,57 persen ke posisi 8.357,45. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 3,83 poin atau 0,46 persen ke level 842,37. 

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya menilai kenaikan tersebut mencerminkan sentimen positif investor yang cenderung menahan aksi jual sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter dalam negeri.

"IHSG pada Kamis diproyeksikan bergerak menguat," tulis Tim Riset Lotus dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (19/2).

Hal itu terutama didorong oleh ekspektasi pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan menentukan arah suku bunga acuan.

Berdasarkan konsensus dari 12 institusi, BI diperkirakan akan menahan suku bunga di level 4,75 persen. Kebijakan itu dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan. 

"Sikap menahan suku bunga juga dianggap sebagai langkah hati-hati agar tidak memicu volatilitas berlebihan di pasar obligasi dan saham," tulis Lotus.

Dari sisi fundamental, inflasi Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan (year on year) dan masih dalam kategori terkendali. Kondisi tersebut memberi ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter ke depan. 

Namun, analis menilai peluang penurunan suku bunga kemungkinan baru akan terbuka mulai Maret 2026, tergantung dinamika inflasi dan pergerakan pasar global.

Di sisi lain, data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal IV-2025 meningkat menjadi 431,7 miliar dolar AS. Kenaikan tersebut terutama berasal dari utang pemerintah yang dipicu masuknya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN). 

Meski berpotensi memberi tekanan pada Rupiah dan pasar obligasi, struktur ULN masih dinilai relatif sehat, dengan rasio terhadap PDB sebesar 29,9 persen dan dominasi utang jangka panjang mencapai 85,7 persen.

Sentimen eksternal juga turut menopang pergerakan IHSG. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed periode Januari 2026 menunjukkan mayoritas pejabat sepakat menahan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen. 

Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan terkait langkah lanjutan, antara peluang penurunan suku bunga jika inflasi melandai dan opsi kenaikan jika tekanan inflasi masih tinggi di atas target 2 persen.

Penguatan pasar global turut memberikan dorongan positif. Bursa saham Eropa pada perdagangan Rabu (18/02) kompak menguat, dengan Euro Stoxx 50 naik 1,34 persen, FTSE 100 Inggris menguat 1,23 persen, DAX Jerman naik 1,12 persen, dan CAC Prancis menguat 0,81 persen.

Di Amerika Serikat, Wall Street juga ditutup di zona hijau. Indeks S&P 500 naik 0,56 persen ke 6.881,31, Nasdaq menguat 0,78 persen ke 22.753,63, dan Dow Jones bertambah 0,26 persen ke 49.662,66. Tren positif ini mencerminkan meningkatnya selera risiko investor global.

Sementara di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat 421,19 poin atau 0,74 persen ke level 57.565,00 dan Straits Times naik 46,14 poin atau 0,93 persen ke 4.984,72. Adapun indeks Shanghai dan Hang Seng masih libur dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen domestik yang stabil, ekspektasi kebijakan BI, serta penguatan pasar global menjadi katalis utama penguatan IHSG. Namun, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan suku bunga dan dinamika inflasi global yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar ke depan.