EKBIS
Rupiah Terus Melemah, Industri Otomotif Tertekan Berat!
apakabar.co.id, JAKARTA - Pakar industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Puwadi mengungkapkan industri otomotif nasional akan turut tertekan seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang sudah mencapai Rp17.944 per dolar AS.
Situasi tersebut harga kendaraan berpotensi mengalami kenaikan karena margin industri biaya produksi yang tertekan karena komponen dan bahan baku otomotif masih memiliki kandungan impor yang cukup tinggi.
"Kondisi tersebut membuat meningkatnya nilai tukar dolar langsung berdampak pada kenaikan biaya operasional di lini perakitan kendaraan," katanya di Jakarta, Kamis (11/6).
Menurut peneliti pusat penelitian multidisiplin teknologi terapan untuk sistem transportasi NCSTT ITB yang kerap meneliti perihal industri otomotif, termasuk mobil listrik dan ekosistemnya tersebut, mengatakan, industri otomotif Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap komponen dan bahan baku impor.
Selain meningkatkan biaya produksi, pelemahan kurs rupiah juga berpotensi menggerus margin industri. Agus menjelaskan, kenaikan harga barang impor akibat imported inflation akan menambah beban pelaku usaha otomotif.
Di sisi lain, kenaikan harga kendaraan dinilai tidak dapat dihindari. Hal itu karena harga komponen yang digunakan dalam proses produksi sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Akademisi gelar doktor Teknik Tenaga Listrik ITB itu memperkirakan tekanan terhadap industri otomotif akan semakin terasa dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan.
Khusus untuk kendaraan buatan dalam negeri, Agus menilai model yang masih memiliki kandungan impor tinggi akan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Kondisi ini berpotensi menimbulkan polarisasi yang tajam di pasar otomotif.
Selain itu, ketidakpastian kurs juga membuat produsen menghadapi kesulitan dalam menyusun target produksi, menentukan harga jual, serta merancang strategi promosi.
Meski demikian, Agus menyebut pelaku industri yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) relatif tetap optimistis. Mereka menilai kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga tidak berdampak buruk terhadap industri otomotif dalam jangka panjang.
"Namun Gaikindo relatif cukup optimistis kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga tidak berdampak buruk dalam jangka panjang," pungkasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

