SPORT

Fondasi Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030 Kian Matang

Ketum PSSI Erick Thohir saat menjadi pembicara dalam acara forum Water Break PSSI Pers bertajuk “96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030” yang digelar di GBK Arena, Jakarta, Kamis (16/4). Foto: pssipers
Ketum PSSI Erick Thohir saat menjadi pembicara dalam acara forum Water Break PSSI Pers bertajuk “96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030” yang digelar di GBK Arena, Jakarta, Kamis (16/4). Foto: pssipers
apakabar.co.id, JAKARTA — Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memanfaatkan momentum hari ulang tahun ke-96 sebagai titik refleksi sekaligus penguat optimisme menuju target besar: lolos ke Piala Dunia 2030. 

Semangat tersebut mengemuka dalam forum Water Break PSSI Pers bertajuk “96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030” yang digelar di GBK Arena, Jakarta, Kamis (16/4).

Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh penting sepak bola nasional, antara lain anggota Komite Eksekutif PSSI Hasnuryadi Sulaiman, mantan pemain timnas Rochy Putiray, pengamat sepak bola Hadi Gunawan, serta jurnalis senior Kesit B. Handoyo. Hadir pula Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersama sejumlah pemangku kepentingan sepak bola nasional lainnya.


Dalam sambutannya, Erick Thohir menegaskan perjalanan sepak bola Indonesia memang belum sempurna. Namun, ia menilai perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan arah positif yang patut diapresiasi.

Menurutnya, kompetisi domestik mulai menunjukkan peningkatan kualitas. Salah satu indikatornya terlihat dari perbaikan peringkat liga Indonesia di Asia yang naik dari posisi 25 ke peringkat 18.

“Tim nasional memang belum konsisten, tetapi program pembinaan tetap berjalan. Tim U-17 terus dipersiapkan, sepak bola putri juga terus didorong,” ujarnya.

Lebih jauh, Erick menegaskan target lolos ke Piala Dunia 2030 bukan sekadar mimpi, melainkan visi yang harus diperjuangkan sejak sekarang, termasuk melalui kepemimpinan pelatih timnas John Herdman.

“Kita harus punya mimpi bersama. Dengan kerja keras dan dukungan semua pihak, mudah-mudahan kita bisa membuka lembaran baru menuju Piala Dunia 2030,” katanya optimistis.

Pandangan senada disampaikan pengamat sepak bola Hadi Gunawan. Ia menilai kualitas skuad timnas Indonesia saat ini merupakan salah satu yang terbaik sepanjang sejarah.

Menurutnya, Indonesia pernah berada pada level yang setara dengan Jepang dan Korea Selatan pada era 1980-an, sebelum akhirnya tertinggal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren peningkatan kembali terlihat signifikan.

“Sekarang banyak pemain Indonesia bermain di Eropa. Secara kualitas tim, ini salah satu generasi terbaik yang pernah kita miliki,” ujarnya.

Sementara itu, Hasnuryadi Sulaiman menilai peningkatan peringkat FIFA, kemunculan pemain muda potensial, serta pembenahan kompetisi domestik menjadi indikator nyata bahwa fondasi menuju Piala Dunia 2030 sedang dibangun.

“Program menuju 2030 sudah disusun. Jika 1985 dianggap generasi terbaik, maka tim saat ini juga layak disebut yang terbaik yang kita miliki,” kata Hasnuryadi.

Jurnalis senior Kesit Budi Handoyo menambahkan, antusiasme publik terhadap timnas menjadi modal sosial yang sangat penting dalam perjalanan menuju panggung dunia.

“Kita bisa lihat bagaimana masyarakat selalu menantikan laga timnas di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dukungan seperti ini harus terus dijaga,” ujarnya.


Ia juga menyoroti semakin kuatnya kedalaman skuad timnas Indonesia saat ini, terlebih dengan hadirnya pemain yang berkarier di kompetisi elite Eropa seperti Serie A, Ligue 1, hingga Bundesliga.

Sementara itu, Rochy Putiray menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan dari seluruh elemen sepak bola nasional, bukan hanya saat tim meraih kemenangan.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan penuh. Jangan hanya mencari kesalahan. Pemain naturalisasi juga harus menjadi motivasi bagi pemain lokal untuk terus berkembang,” ujarnya.

Dengan berbagai perkembangan positif tersebut, optimisme menuju Piala Dunia 2030 kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan target yang mulai terasa realistis untuk diwujudkan bersama.