LINGKUNGAN HIDUP
Teknologi Baru Ubah Limbah Plastik Campuran jadi Material Bernilai Tinggi
Para ilmuwan dari Universitas Teknologi Nanyang - Singapura, mengembangkan metode baru daur ulang kemasan plastik campuran tanpa menggunakan pelarut kimia berbahaya, sebuah pendekatan yang membuat limbah plastik menjadi lebih mudah ditangani.
apakabar.co.id, JAKARTA – Kabar baik bagi upaya pengurangan sampah plastik dunia. Para ilmuwan dari Universitas Teknologi Nanyang Singapura (NTU Singapore) berhasil mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan kemasan plastik campuran didaur ulang dengan lebih mudah dan aman tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.
Temuan ini dinilai dapat menjadi solusi bagi salah satu jenis limbah plastik yang selama ini paling sulit ditangani, yakni kemasan berlapis yang banyak digunakan untuk membungkus mi instan, makanan ringan, kopi, dan berbagai produk makanan kemasan lainnya.
Teknologi baru tersebut diberi nama Depolymerisation-Induced Polymer Separation (DIPS) atau pemisahan polimer yang diinduksi depolimerisasi.
Melalui metode ini, berbagai jenis plastik yang sebelumnya menyatu dalam satu kemasan dapat dipisahkan sehingga masing-masing material dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.
Sampah plastik kemasan masalah besar
Kemasan makanan modern umumnya dibuat dari beberapa lapisan plastik yang berbeda. Kombinasi material ini membuat kemasan menjadi kuat, ringan, tahan bocor, dan mampu menjaga kualitas produk lebih lama.
Namun di balik keunggulannya, kemasan seperti ini menimbulkan masalah besar ketika menjadi sampah.
Profesor Hu Xiao, peneliti utama dalam proyek tersebut, menjelaskan bahwa berbeda dengan botol plastik yang umumnya terbuat dari satu jenis bahan, kemasan makanan terdiri dari beberapa jenis plastik yang direkatkan menjadi satu.
"Kondisi tersebut membuat proses pemisahan dan daur ulang menjadi sangat sulit," ujar Profesor Hu dalam keterangannya kepada apakabar, Rabu (10/6).
Akibatnya, sebagian besar limbah kemasan berlapis berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar melalui proses insinerasi.
Padahal jumlah sampah plastik terus meningkat setiap tahun. Produksi plastik global bahkan diperkirakan mencapai 736 juta ton pada tahun 2040 jika tidak ada perubahan signifikan dalam pola produksi dan pengelolaannya.
Menurut Profesor Hu, penggunaan kemasan plastik campuran semakin luas di berbagai produk sehari-hari.
“Kami melihat semakin banyak kemasan plastik campuran digunakan dalam produk makanan. Namun hingga saat ini, mendaur ulangnya secara aman dan efisien masih menjadi tantangan besar,” katanya.
Tidak menggunakan pelarut berbahaya
Salah satu keunggulan utama teknologi DIPS, terang Profesor Hu, adalah tidak diperlukannya pelarut kimia yang memang berbahaya bagi lingkungan.
Metode ini menggunakan proses yang dikenal sebagai ekstrusi reaktif, yaitu teknik yang umum dipakai dalam industri plastik.
Dalam proses tersebut, salah satu jenis plastik yang disebut PET akan bereaksi dengan gliserol, bahan yang relatif murah dan mudah diperoleh. Reaksi tersebut membuat PET terurai menjadi bentuk yang berbeda sehingga dapat dipisahkan dari jenis plastik lain, seperti polipropilena (PP).
"Menariknya, pemisahan terjadi secara otomatis selama proses berlangsung tanpa memerlukan tahapan tambahan yang rumit," terang Profesor Hu.
Karena tidak menggunakan pelarut dan dapat dijalankan pada tekanan ruangan, teknologi ini dianggap lebih aman. Selain itu, berpotensi menekan biaya operasional dibandingkan metode daur ulang kimia yang selama ini digunakan.
Hasil daur ulang lebih berkualitas
Dalam uji laboratorium, para peneliti menemukan bahwa plastik PP yang berhasil dipisahkan tetap memiliki kualitas yang sangat baik.
Material hasil daur ulang mampu mempertahankan hingga 90 persen kekuatan aslinya. Artinya, plastik tersebut masih cukup kuat untuk digunakan kembali dalam berbagai produk baru.
Hasil ini menjadi kabar penting bagi industri daur ulang yang selama ini menghadapi masalah penurunan kualitas material setelah diproses berulang kali.
"Selain menghasilkan plastik yang lebih berkualitas, teknologi DIPS juga membuka peluang pemanfaatan material hasil pemisahan untuk berbagai kebutuhan industri bernilai tinggi," papar Profesor Hu.
Komponen PET yang diperoleh dari proses tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan khusus untuk industri energi terbarukan, termasuk material pengganti epoksi yang digunakan pada bilah turbin angin.
Potensi ekonomi sangat besar
Sejauh ini, para peneliti menilai teknologi ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar.
Jika limbah plastik campuran dapat didaur ulang secara efisien dalam skala industri, nilai ekonomi yang dihasilkan diperkirakan mencapai lebih dari US$250 miliar atau sekitar Rp4.000 triliun per tahun.
Penulis utama penelitian, Kathirvel Periasamy, menjelaskan bahwa timnya berupaya menjembatani kesenjangan antara penelitian laboratorium dan kebutuhan industri.
“Dengan menyederhanakan proses pemisahan dan menghilangkan penggunaan pelarut, kami ingin membuat daur ulang plastik menjadi lebih layak secara ekonomi dan lebih ramah lingkungan,” katanya.
Saat ini tim peneliti tengah menyiapkan kerja sama dengan berbagai mitra industri untuk menguji teknologi tersebut dalam skala yang lebih besar.
Jika berhasil diterapkan secara luas, teknologi DIPS berpotensi menjadi salah satu solusi penting dalam mengurangi tumpukan sampah plastik dunia.
"Sekaligus mendukung terciptanya ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan," tandasnya.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK