EKBIS

ICPI Dorong Penurunan Harga Avtur demi Perkuat Konektivitas Pariwisata

Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menilai harga avtur perlu diturunkan untuk memperkuat konektivitas transportasi udara dan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata nasional.
Ilustrasi - Aktivitas penerbangan di landasan pacu selatan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (28/11/2024). Foto: ANTARA
Ilustrasi - Aktivitas penerbangan di landasan pacu selatan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (28/11/2024). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menilai harga Aviation Turbine Fuel (avtur) di Indonesia perlu segera diturunkan. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat konektivitas transportasi udara dan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata nasional.

Ketua Umum ICPI Azril Azhari menjelaskan mahalnya harga tiket pesawat saat ini menjadi salah satu penghambat utama pergerakan wisatawan. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari tingginya harga avtur di Indonesia yang disebut sebagai yang tertinggi di kawasan ASEAN.

“Selain masalah infrastruktur dan konektivitas, ada persoalan pokok yaitu biaya tiket pesawat yang masih sangat mahal, sementara daya beli masyarakat terus menurun. Harga tiket yang tinggi tidak lepas dari harga avtur yang paling mahal di ASEAN,” kata Azril di Jakarta, Selasa (27/1).

Azril menilai pemerintah perlu segera membahas persoalan tersebut, terlebih menjelang periode liburan yang berdekatan dengan perayaan Imlek dan bulan Ramadan. Ia menyebut momentum libur panjang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendorong pergerakan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Menurut Azril, pembahasan penurunan harga avtur idealnya melibatkan sejumlah pihak strategis, mulai dari Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, hingga Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kolaborasi lintas kementerian dinilai penting agar kebijakan yang diambil bersifat komprehensif.

Ia mengungkapkan, tingginya harga avtur berdampak langsung pada mahalnya tiket penerbangan antardestinasi. Berdasarkan hasil penelitiannya di Singapura, kondisi tersebut bahkan membuat beberapa maskapai besar enggan membuka rute ke Indonesia karena pertimbangan biaya operasional.

Di sisi lain, Azril juga mengingatkan adanya tantangan baru di sektor penerbangan global. Mulai 1 Januari 2026, sejumlah negara seperti Singapura akan menerapkan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebesar 1 persen, yang ditargetkan meningkat menjadi 3 hingga 5 persen pada 2030.

“Harga SAF bisa 6 sampai sepuluh kali lebih mahal dari avtur biasa. Ini dilakukan untuk menjaga kualitas udara dan menekan emisi CO2. Ditambah lagi, ICAO telah menyesuaikan liability sebesar 17,9 persen sejak akhir Desember, berdampak pada kenaikan biaya asuransi,” paparnya.

Azril menilai kondisi tersebut justru memperkuat alasan perlunya penurunan harga avtur di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa kebijakan potongan harga yang sempat disampaikan pemerintah sebelumnya belum menyentuh akar persoalan, karena hanya berasal dari aspek ground handling, bukan harga avtur itu sendiri.

Selain itu, langkah ini juga dinilai penting untuk mengantisipasi potensi pembatasan maskapai Indonesia di negara-negara yang telah menerapkan SAF, sekaligus mencegah beban denda akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi internasional.

Azril turut menyoroti menurunnya daya beli masyarakat akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai daerah. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin kesulitan menjangkau tiket pesawat.

Ke depan, ia berharap pemerintah lebih mengandalkan kajian ilmiah dalam mengembangkan pariwisata nasional. Tidak hanya dari sisi infrastruktur dan konektivitas, tetapi juga dalam pengembangan wisata minat khusus dan wisata gastronomi yang tetap menjaga kearifan lokal.

“Perlu diingat, sektor pariwisata berpotensi menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia jika dikelola secara tepat,” pungkas Azril.