NEWS

Karhutla Paksa Orangutan Mengungsi, Enam Diselamatkan dalam Sepekan

Kebakaran hutan dan lahan tak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga memutus jalur hidup satwa liar.
BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI saat evakuasi orang utan di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Foto: ANTARA
BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI saat evakuasi orang utan di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap orangutan tidak selalu datang dalam bentuk kobaran api yang mendekat. Dalam banyak kasus, satwa dilindungi itu justru terdorong keluar dari habitatnya ketika jalur menuju hutan terputus dan sumber pakan alami semakin sulit dijangkau.

Kondisi tersebut terjadi di Kalimantan Barat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat telah menyelamatkan 15 individu orangutan yang terdampak karhutla sepanjang satu bulan terakhir.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kebakaran menyebabkan sejumlah orangutan terjebak di lanskap perkebunan karena kehilangan akses menuju kawasan hutan yang masih tersisa.

“Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan. Mereka akhirnya terjebak di lanskap perkebunan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung,” ujarnya, Kamis (11/9).

Kasus terbaru terjadi di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Dalam dua operasi penyelamatan yang dilakukan pada 4 dan 8 September, tim gabungan mengevakuasi enam individu orangutan dari kawasan perkebunan campuran milik warga.

Mereka terdiri atas dua induk beserta anaknya dan dua individu remaja. Keenamnya diberi nama Mama Nopi dan anaknya Nopi, Mama Noni dan anaknya Noni, serta dua orangutan remaja bernama Naufal dan Nopan.
Menurut Argitoe, keberadaan orangutan di sekitar perkebunan terdeteksi setelah tim menerima laporan dari masyarakat. Saat dilakukan pemantauan, diketahui akses satwa menuju habitat alaminya telah terganggu akibat kebakaran yang terjadi di sekitar kawasan tersebut.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan penyelamatan satwa menjadi bagian penting dalam penanganan dampak karhutla karena kebakaran tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mempersempit ruang hidup satwa liar.

“YIARI mendukung penuh upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat dalam merespons dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar,” katanya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan karhutla menyebabkan terganggunya akses satwa terhadap sumber pakan dan wilayah jelajahnya.

Karena itu, selain upaya pemadaman, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menyelamatkan satwa yang terdampak.

“Pencegahan karhutla tetap menjadi pilihan utama. Namun ketika kebakaran telah terjadi, keterlibatan masyarakat untuk mendeteksi dan melaporkan keberadaan satwa terdampak menjadi bagian penting dalam penanganan dampaknya,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan satwa liar yang keluar dari habitatnya, terutama di wilayah yang terdampak maupun terancam kebakaran hutan dan lahan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan orangutan di area perkebunan maupun permukiman kerap meningkat saat musim kemarau dan kebakaran meluas. Kondisi itu menjadi indikator bahwa karhutla tidak hanya menciptakan krisis lingkungan, tetapi juga memperbesar konflik antara manusia dan satwa liar akibat menyusutnya ruang hidup di alam. (ant)