LINGKUNGAN HIDUP
Jejak yang Masih Tersisa di Hutan Kutai
Tak semua penghuni hutan mudah ditemukan. Sebagian hanya meninggalkan jejak, sebagian lain baru muncul setelah berbulan-bulan menunggu di depan kamera jebak.
apakabar.co.id, SANGATTA – Di tengah bentang alam Kalimantan Timur yang terus berubah oleh perkembangan kawasan permukiman, industri, dan aktivitas ekonomi lainnya, Taman Nasional Kutai masih menjadi rumah bagi ratusan spesies satwa liar.
Di balik rapatnya hutan tropis yang membentang dari wilayah Kota Bontang, Kabupaten Kutai Timur hingga Kabupaten Kutai Kartanegara itu, kehidupan terus berlangsung. Orangutan bergelantungan dari tajuk ke tajuk pohon, bekantan menyusuri kawasan pesisir dan mangrove, sementara banteng liar Kalimantan tetap mempertahankan keberadaannya di habitat yang semakin terbatas.
Balai Taman Nasional Kutai mencatat sedikitnya 324 spesies fauna hidup di kawasan konservasi seluas 193.753,42 hektare tersebut. Keanekaragaman itu terdiri atas 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, serta 38 jenis fauna gua.
Bagi para pengelola kawasan, angka tersebut bukan sekadar data. Di baliknya tersimpan pekerjaan panjang untuk memastikan satwa-satwa tersebut tetap memiliki ruang hidup yang aman.
“Kami memberikan perhatian khusus pada satwa yang berstatus terancam punah seperti orangutan Kalimantan timur laut, bekantan, dan banteng liar Kalimantan,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Syaiful Bahri.
Memantau keberadaan satwa liar di kawasan seluas itu tentu bukan perkara mudah. Banyak spesies hidup jauh dari jalur manusia dan cenderung menghindari keberadaan orang.
Karena itu, pengelola kini memanfaatkan teknologi seperti drone thermal dan kamera jebak untuk membantu pengawasan habitat maupun pemantauan populasi satwa.
Hasilnya kerap menghadirkan kejutan.
Menurut Syaiful, kamera jebak yang dipasang di sejumlah titik membutuhkan waktu hingga beberapa bulan sebelum satwa mulai terbiasa dan terekam aktivitasnya. Namun kesabaran itu berbuah hasil ketika lensa kamera kembali menangkap keberadaan macan dahan, satwa yang sempat diduga sudah tidak lagi ditemukan di kawasan tersebut.
“Instrumen kamera jebak sangat membantu dalam menemukan kembali satwa langka,” katanya.
Tak hanya itu, rekaman kamera juga mendokumentasikan keberadaan sejumlah satwa lain, termasuk burung tokhtor Kalimantan serta memastikan eksistensi burung kuau yang sebelumnya sempat ditemukan di wilayah Rantau Pulung, Kutai Timur.
Di balik upaya perlindungan satwa, Taman Nasional Kutai juga terus memperkuat kerja sama dengan berbagai lembaga konservasi.
Salah satunya melalui kolaborasi dengan Yayasan Jejak Pulang di Samboja yang saat ini melakukan kajian kelayakan habitat sebagai lokasi pelepasliaran orangutan yang telah siap kembali ke alam bebas.
Kerja sama juga dijalin dengan Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) untuk mendukung perlindungan populasi banteng liar Kalimantan yang tersisa di kawasan taman nasional.
Namun menjaga satwa liar bukan hanya soal teknologi dan penelitian. Bagi pengelola TNK, masa depan kawasan konservasi juga bergantung pada keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Karena itu, pendekatan konservasi mulai dipadukan dengan pengembangan wisata minat khusus dan program perhutanan sosial yang melibatkan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Harapannya, masyarakat tidak hanya menjadi saksi keberadaan satwa liar, tetapi juga ikut menjadi penjaga hutan yang menopang kehidupan mereka.
Sebab di tengah berbagai perubahan yang terjadi di Kalimantan Timur, Taman Nasional Kutai masih menyimpan sesuatu yang semakin langka: ruang bagi alam untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Di sana, jejak-jejak kehidupan liar masih tersisa, menandakan bahwa hutan Kutai belum kehilangan para penghuninya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

