EKBIS

Timur Tengah Memanas, Kadin: Alarm Ketahanan Energi dan Pangan

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie. Foto: Antara
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie. Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan sebagai fondasi stabilitas nasional.

Anindya mengungkapkan meski dampak besar terhadap dunia usaha belum terlihat signifikan, tanda-tanda gangguan rantai pasok dan logistik mulai dirasakan pelaku usaha. Karena itu, dunia usaha harus tetap waspada, terutama menghadapi potensi kenaikan harga minyak yang dapat menekan ruang fiskal, nilai tukar, hingga inflasi.

“Kita mesti pandai-pandai memikirkan bagaimana geopolitik ini berdampak pada ekonomi Indonesia dan apa yang harus dikuatkan. Outlook ekonomi dunia sudah berubah, jadi kita tidak bisa menganggap enteng,” katanya di Jakarta, Jumat (14/3).

Ia menekankan perlunya efisiensi serta kerja sama erat dengan pemerinttah untuk menentukan program prioritas yang mampu mempercepat efek berganda bagi perekonomian.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga komoditas, khususnya minyak, terutama jika terjadi penutupan Selat Hormuz.

Ia menyebut kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas Indonesia, menekan surplus neraca perdagangan, sekaligus mempengaruhi neraca pembayaran.

Purbaya menambahkan ketidakpastian global juga bisa memicu arus modal keluar (capital outflow) yang berimbas pada pasar saham, obligasi, serta nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan.

“Pemerintah terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent agar kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” katanya ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Rabu (11/3).