LINGKUNGAN HIDUP

Dari Jalan Sehat hingga Tukar Sampah, Cara Warga Sukabumi Belajar Peduli Lingkungan

Melalui program SCG Mentari, perusahaan mendorong perubahan kebiasaan masyarakat secara bertahap. Fokus utamanya bukan hanya pada pengumpulan sampah, tetapi pembentukan kesadaran sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Sejak didirikan pada tahun 2024, sampah yang terkelola melalui program SCG Mentari mencapai lebih dari 7 ton sampah. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Sejak didirikan pada tahun 2024, sampah yang terkelola melalui program SCG Mentari mencapai lebih dari 7 ton sampah. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kini semakin tumbuh di tengah masyarakat. Salah satu contoh datang dari Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, yang baru saja bergabung dalam program pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat bernama SCG Mentari (Menjaga Lingkungan Tetap Lestari).

Program ini digagas oleh SCG melalui anak perusahaannya, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi. Penambahan Desa Tanjungsari sebagai wilayah binaan baru disosialisasikan lewat kegiatan fun walking yang digelar pada 19 Januari 2026 di SDN Citigeu. 

Kegiatan tersebut bukan sekadar jalan sehat, tetapi juga menjadi ajang edukasi lingkungan yang melibatkan langsung warga desa.

Sebanyak 282 warga dari berbagai kalangan ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka diajak mengumpulkan sampah rumah tangga yang kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Skema sederhana ini menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal praktik pemilahan sampah sekaligus memahami bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar.

Melalui program SCG Mentari, perusahaan mendorong perubahan kebiasaan masyarakat secara bertahap. Fokus utamanya bukan hanya pada pengumpulan sampah, tetapi pada pembentukan kesadaran sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Pendekatan ini penting mengingat persoalan sampah kerap berawal dari minimnya pemahaman soal pemilahan dan pengelolaan sejak awal.

Sejak diluncurkan pada 2024, SCG Mentari berkembang menjadi komunitas pecinta lingkungan yang melibatkan berbagai profesi, mulai dari guru, mahasiswa, pedagang, pelajar, hingga masyarakat umum. Dari komunitas ini lahir para SCG Warrior Mentari, relawan yang telah mendapatkan pembinaan untuk menjadi penggerak pengelolaan sampah di wilayah tempat tinggalnya masing-masing.

Hingga kini, program tersebut telah melibatkan lebih dari 1.000 warga dan berhasil mengelola lebih dari 7 ton sampah. Sampah yang terkumpul tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi semen. 

Langkah ini menjadi contoh bagaimana pendekatan ekonomi sirkular dapat diterapkan secara nyata, sekaligus membantu mengurangi beban lingkungan.

Pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi juga melihat program ini sebagai mitra strategis dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan warga dinilai penting untuk menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks, terutama di daerah dengan aktivitas ekonomi dan permukiman yang terus berkembang.

“Kami mengapresiasi program SCG Mentari sebagai langkah nyata dunia usaha dalam mendukung upaya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan,” ungkap Nunung Nurhayati selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi dalam pernyataannya, Rabu (28/1).

Program ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. "Melalui kolaborasi seperti ini, kami berharap kesadaran dan partisipasi masyarakat terus meningkat sehingga tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan," katanya.

Program SCG Mentari mencerminkan upaya dunia usaha untuk terlibat langsung dalam isu lingkungan, tidak hanya melalui teknologi atau kebijakan internal, tetapi lewat interaksi sehari-hari dengan masyarakat. Dengan melibatkan warga secara aktif dan konsisten, perubahan kecil seperti memilah sampah di rumah diharapkan dapat menjadi kebiasaan kolektif yang berdampak besar bagi lingkungan.

Langkah ini menunjukkan bahwa isu sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan persoalan bersama. Ketika masyarakat diberi ruang untuk terlibat dan merasakan manfaat langsung, pengelolaan lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.