NEWS

IKN Bukan Tanah Kosong: Aji Galeng dan Jejak Peradaban di Sepaku

Di Kalimantan Timur, bahkan setelah Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari dicatat sejarah, figur-figur lokal lain nyaris tak mendapatkan ruang.
Bambang Arwanto, penulis dan juga Ketua Yayasan Aji Galeng bersama pengurus saat ziarah ke makam Aji Galeng di Desa Muara Lembakan, Penajam Paser Utara. Foto: Bambang Arwanto.
Bambang Arwanto, penulis dan juga Ketua Yayasan Aji Galeng bersama pengurus saat ziarah ke makam Aji Galeng di Desa Muara Lembakan, Penajam Paser Utara. Foto: Bambang Arwanto.
apakabar.co.id, BALIKPAPAN - Narasi besar Ibu Kota Nusantara (IKN) kerap dimulai dari masa depan, seolah-olah Sepaku adalah ruang hampa yang menunggu diisi peradaban baru. Padahal, jauh sebelum titik nol pembangunan negara ditetapkan, wilayah ini telah memiliki penjaga, tata kuasa, dan sejarah perlawanan. Aji Galeng, panembahan Telake–Balik abad ke-19, menjadi bukti bahwa kawasan IKN bukan tanah kosong, melainkan lanskap peradaban yang nyaris dilupakan.

Kalimantan selama ini berada di pinggiran historiografi Indonesia. Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, narasi sejarahnya sering tenggelam oleh dominasi Jawa-sentris dalam kurikulum nasional. Publik mengenal Perang Diponegoro atau Perang Paderi, sementara kisah perlawanan dan tata kelola lokal di belantara Borneo kerap dipandang sebagai riak kecil kolonialisme.

Di Kalimantan Timur, bahkan setelah sejarah Perang Banjar dengan Pangeran Antasari dicatat, figur-figur lokal lain jarang diangkat secara sistematis. Padahal, seperti ditegaskan sejarawan Sartono Kartodirdjo, seperti dikutip dari antarasejarah lokal adalah syarat mutlak untuk memahami sejarah nasional secara utuh. Tanpanya, Indonesia dibangun di atas ingatan yang pincang.
Kekosongan itulah yang coba diisi Bambang Arwanto bersama Safardy Bora melalui buku Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri dan Peletak Peradaban. Buku ini bukan sekadar biografi tokoh lokal, melainkan upaya melawan amnesia sejarah, terutama di wilayah yang kini menjadi pusat kekuasaan politik baru negara.

Penjaga Telake–Balik


Bagi masyarakat modern yang kini memadati Penajam Paser Utara hingga Kutai Kartanegara, nama Aji Galeng mungkin terdengar asing. Namun pada awal abad ke-19, Panembahan Lambakan, nama lain Aji Galeng, adalah poros kekuasaan di wilayah Telake–Balik.

Ia tumbuh dari tempaan fisik, spiritual, dan intelektual. Kisah keberhasilannya menaklukkan puluhan jawara, serta pengembaraan menuntut ilmu hingga Kerakup Bentian (Kutai Barat), membentuk karakter pemimpin yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga matang secara nalar.

Kekuatan Aji Galeng tidak semata terletak pada senjata, melainkan pada diplomasi. Dalam lanskap politik pesisir Kalimantan Timur, dengan Kesultanan Kutai Kartanegara dan Paser sebagai episentrum kekuasaan, ia tampil sebagai penjaga keseimbangan.
apakabar.co.id/news/menteri-ham-no-comment-atas-gelar-pahlawan-soeharto/
Garis zuriatnya menjalin hubungan antara Kesultanan Paser, Kutai Kartanegara, hingga Kerajaan Wajo di Sulawesi. Ia juga merangkul Suku Dayak Lawangan melalui konsep Diwa Siwi atau Nyempolo, sebuah etos gotong royong tanpa pamrih yang memperkuat kohesi sosial.

Tanah Hadiah, Tanah Berdaulat

Telake dan Balik bukan wilayah sembarangan. Keduanya merupakan tanah hadiah hasil diplomasi perkawinan antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai Kartanegara. Tanah Telake diberikan Sultan Paser kepada Sultan Aji Muhammad Idris, Sultan Kutai ke-14, yang menikahi Andin Duyah bergelar I Doya Aji Putri Agung Putri. 

Sementara Tanah Balik menjadi hadiah atas perkawinan Sultan Salehuddin, Sultan Kutai ke-16, dengan Aji Ratu Jawiah. Tanah Telake terbentang mulai dari Muara Telake sampai Kepala Telake dan sepanjang anak Sungai Telake dan Toyu hingga Kepala Toyu (Sepaku), serta sepanjang Sungai Pias. Sementara Tanah Balik berpusat di Tanjung Jumlai hingga Balikpapan dan Samboja. Wilayah Telake–Balik inilah yang kini masuk kawasan IKN. 

Aji Galeng dipercaya menjaga tanah perkawinan ini, bukan sekadar sebagai penguasa lokal, tetapi sebagai penyangga kedaulatan dan stabilitas kawasan. 

Tahun 1820 menjadi titik krusial. Inggris berupaya menganeksasi gua-gua sarang burung walet di Kepala Toyu (Sepaku), komoditas bernilai tinggi pada masa itu. Pasukan Inggris menyusuri jalur pedalaman melalui kebun rotan milik Sultan Salehuddin, bergerak dari Muara Pahu ke Bongan, lalu turun ke Sepaku.

Perlawanan datang dari pasukan sepangan raja yang dipimpin Aji Galeng. Inggris dipukul mundur hingga ke pantai Balik. Kemenangan ini mengukuhkan keyakinan Sultan Salehuddin bahwa Aji Galeng layak menjaga Tanah Telake–Balik sebagaimana amanat Sultan Paser, Sultan Ibrahim Alamsyah.

Pada 1821, seperti mengutip artikel milik Kaltim Post, Aji Galeng dinobatkan sebagai panembahan. Namun perjuangan belum usai. Tahun 1825, Belanda mencoba menguasai kembali gua-gua walet di Sepaku dan Toyu. Pertempuran berlangsung selama 93 hari dan kembali dimenangkan oleh pasukan Aji Galeng.

Perlawanan ini bukan semata konflik militer, melainkan pernyataan kedaulatan ekonomi. Aji Galeng menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kesadaran atas hak dan pengelolaan sumber daya alamnya sendiri.

Kisah Panembahan Aji Galeng juga menjadi ruang kompromi sejarah panjang antara Kesultanan Paser dan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, dua kekuasaan yang relasinya sempat renggang sejak kehadiran Belanda di Kutai pada 1635. Diplomasi perkawinan dan tanah hadiah menjadi jalan damai yang dijaga oleh figur seperti Aji Galeng.

Melawan Mitos Tanah Kosong

Menulis sejarah Aji Galeng bukan perkara mudah. Minimnya sumber tertulis membuat Bambang Arwanto, keturunan generasi kelima Aji Galeng, bertumpu pada sejarah lisan yang hidup dalam ingatan kolektif para tetua adat.

Dalam tradisi akademik, sumber lisan kerap diposisikan di bawah arsip kolonial. Namun bagi masyarakat yang tradisi tulisnya terpinggirkan, ingatan adalah arsip yang bertahan. Tantangannya adalah verifikasi agar narasi tidak jatuh menjadi mitos.
Terbit pada 2025, buku ini menemukan momentumnya. Narasi perpindahan IKN tak seharusnya dibungkus dengan istilah tabula rasa, seolah-olah Kalimantan Timur adalah kanvas kosong yang siap diisi peradaban baru.

Kisah Aji Galeng adalah bantahan atas anggapan itu. Jauh sebelum istana negara dirancang, Telake–Balik telah menjadi pusat peradaban yang berdaulat, religius, dan memiliki sistem sosial yang mapan.

Menghadirkan kembali Aji Galeng ke ruang publik hari ini bukan sekadar romantisme masa lalu. 
Ia adalah pengingat bahwa pembangunan masa depan hanya akan bermakna jika berpijak pada ingatan sejarah—agar masyarakat lokal tidak menjadi tamu di tanahnya sendiri.