NEWS

Ketika Mamalia Jadi Konten Viral: Bahaya di Balik Video “Pesut Mahakam Joget”

Viral “pesut joget” bukan hanya salah identifikasi, tetapi juga mencerminkan bahaya menjadikan satwa dilindungi sebagai konten.
Seekor pesut Mahakam terekam kamera sedang bermain di permukaan air. Foto: Ivan Yusfi Noor via RASI
Seekor pesut Mahakam terekam kamera sedang bermain di permukaan air. Foto: Ivan Yusfi Noor via RASI
apakabar.co.id, JAKARTA — Video viral yang memperlihatkan seorang perempuan mengangkat dan menggoyangkan seekor mamalia laut kembali menyita perhatian publik. Namun di balik sebutan “pesut Mahakam joget” yang ramai beredar, tersimpan persoalan yang lebih mendasar, viralitas tanpa literasi yang dapat membahayakan satwa dilindungi, serta manusia itu sendiri.

Penelusuran media ini menunjukkan fakta satwa dalam video tersebut bukan pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam yang kini berstatus kritis. Ahli pesut dari Yayasan Rasi (RASI), Danielle Kreb, memastikan bahwa mamalia tersebut merupakan finless porpoise, spesies berbeda yang secara sekilas kerap disalahartikan karena kemiripan bentuk tubuh.

“Sekilas memang mirip, tetapi itu bukan pesut Mahakam. Finless porpoise juga satwa yang dilindungi,” kata Danielle saat dikonfirmasi, Senin (12/1).

Kesalahan identifikasi, menurut Danielle, kerap terjadi akibat minimnya pemahaman publik mengenai mamalia laut. Padahal, perbedaan antara pesut Mahakam dan finless porpoise cukup jelas, terutama dari habitat alaminya. Pesut Mahakam hanya hidup di perairan tawar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sementara sementara finless porpoise  merupakan mamalia laut yang hidup di wilayah pesisir dan perairan laut dangkal.


Perbedaan habitat tersebut sekaligus menjadi petunjuk bahwa lokasi kejadian dalam video bukan berada di Kalimantan Timur. Berdasarkan informasi yang diterima Yayasan Rasi, peristiwa tersebut diduga terjadi di Jambi, atau Sumatra, meskipun lokasi pastinya masih dalam penelusuran.

“Lokasi tepatnya memang belum diketahui, tapi kemungkinan besar bukan di Kaltim. Kasus ini sudah dilaporkan ke pihak berwenang, dan akun TikTok yang mengunggah video tersebut juga sudah tidak aktif,” ujar Danielle.

Meski identifikasi pesut Mahakam telah diluruskan, Yayasan Rasi menegaskan bahwa substansi persoalan tetap sama. Interaksi fisik terhadap mamalia laut, apalagi untuk kepentingan konten media sosial, merupakan tindakan yang berisiko dan tidak dibenarkan.

Danielle mengingatkan mamalia laut, baik dalam kondisi hidup maupun mati, berpotensi membawa bakteri dan virus yang dapat membahayakan manusia jika disentuh tanpa pengetahuan dan prosedur yang tepat. Selain risiko kesehatan, perlakuan yang keliru juga dapat memperparah kondisi satwa yang sebenarnya masih memiliki peluang untuk diselamatkan.

Sebagai bagian dari edukasi publik, Yayasan Rasi mengimbau masyarakat pesisir dan bantaran sungai agar tidak menjadikan satwa liar sebagai objek tontonan atau hiburan. Jika menemukan mamalia laut terjerat jaring dalam kondisi hidup, masyarakat diminta segera membantu melepaskannya dengan memastikan lubang pernapasan berada di atas permukaan air agar satwa tetap bisa bernapas.
“Lumba-lumba bisa dibedakan dengan ikan dari sirip ekornya yang horizontal, bukan vertikal,” jelas Danielle.

Sementara itu, apabila mamalia laut ditemukan dalam kondisi mati, masyarakat diimbau tidak menyentuh atau memindahkan bangkai satwa secara sembarangan. Laporan dapat disampaikan melalui aparat desa setempat untuk diteruskan ke Wilayah Kerja BPSPL terdekat, atau langsung ke call center Kementerian Kelautan dan Perikanan di nomor 141.

Kasus viral ini sekaligus menjadi pengingat bahwa empati tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi ancaman. Di tengah upaya konservasi yang terus menghadapi tantangan, menjadikan satwa dilindungi sebagai konten hiburan justru berpotensi mempercepat tekanan terhadap spesies yang kelangsungannya semakin rapuh.

Sebagai catatan, pesut Mahakam saat ini berstatus kritis (critically endangered) dalam daftar merah IUCN dan tercantum dalam Apendiks I CITES, kategori perlindungan tertinggi bagi spesies terancam punah. Berdasarkan pendataan Yayasan Rasi hingga akhir 2024, populasi pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 ekor, menjadikannya salah satu mamalia air tawar paling terancam di dunia.