NEWS
MapBiomas Sumber Data Terestrial, Jurnalis Didorong Ungkap Deforestasi dan Dampaknya
Yustinus dari Yayasan Auriga Nusantara menjelaskan bahwa MapBiomas dapat menjadi sumber data terestrial penting bagi jurnalis untuk melacak perubahan tutupan lahan secara berbasis citra satelit.
apakabar.co.id, JAKARTA — Pemanfaatan data terbuka menjadi kunci dalam mengungkap persoalan deforestasi di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Yustinus Seno dari Tim Informasi dan Data Yayasan Auriga Nusantara dalam seminar bertajuk Dari Data ke Dampak: Tantangan Akses Data Terbuka atas Eksploitasi Sumber Daya Alam yang digelar di Swiss-Bel Residences Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (25/2).
Dalam pemaparannya, Yustinus menjelaskan bahwa MapBiomas Indonesia dapat menjadi sumber data terestrial penting bagi jurnalis untuk melacak perubahan tutupan lahan secara berbasis citra satelit. Platform MapBiomas Indonesia menyediakan beragam lapisan data (layers) seperti batas administrasi, konsesi, hingga penggunaan lahan yang dapat difilter sesuai kebutuhan liputan.
"MapBiomas membantu jurnalis membaca perubahan bentang alam secara lebih objektif karena datanya berbasis spasial dan dapat ditelusuri per wilayah," ujar Yustinus.
Meski demikian, ia juga menekankan adanya keterbatasan dalam penggunaan MapBiomas, terutama terkait penarikan kesimpulan. Menurutnya, platform tersebut berfungsi sebagai penyedia data, bukan alat yang secara otomatis memberikan analisis akhir atas suatu peristiwa lingkungan.
"Data di MapBiomas itu bisa difilter berdasarkan banyak layer, seperti batas administrasi atau area tertentu, termasuk wilayah konsesi. Namun, kami tidak menyimpulkan secara langsung. Platform ini menyediakan data, sedangkan kesimpulan tetap harus dianalisis oleh pengguna, termasuk jurnalis," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa infografis yang tersedia umumnya menampilkan gambaran besar, seperti tren per provinsi atau wilayah luas, tetapi belum selalu menjawab konteks spesifik di tingkat lokasi atau perusahaan. Karena itu, pembacaan data tetap perlu dilakukan secara bertahap dan kontekstual agar tidak terjadi kesimpulan yang keliru.
Latar belakang penggunaan data ini menjadi semakin penting mengingat catatan Auriga Nusantara menunjukkan hilangnya sekitar 261.575 hektar hutan alam sepanjang 2024. Angka tersebut mencerminkan tekanan yang terus terjadi terhadap hutan alam akibat ekspansi industri dan eksploitasi sumber daya alam.
Dampak deforestasi tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan memperparah krisis iklim, tetapi juga memicu konflik sosial di berbagai wilayah, terutama yang berkaitan dengan ruang hidup masyarakat dan investasi berbasis lahan.
Dalam konteks ini, jurnalis dinilai memiliki peran strategis dalam mengungkap persoalan deforestasi kepada publik serta mendorong akuntabilitas kebijakan. Namun, keterbatasan akses data dan kemampuan membaca data spasial masih menjadi tantangan dalam liputan lingkungan.
Melalui pemanfaatan data terbuka seperti MapBiomas, Yustinus berharap jurnalis dapat memperkuat liputan berbasis bukti.
"Platform ini kami sediakan agar data bisa diakses dan ditelusuri langsung. Tapi penting diingat, data adalah dasar analisis, bukan kesimpulan akhir," tegasnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum peluncuran Pasopati Journalist Fellowship yang berfokus pada penguatan kapasitas jurnalis dalam mengungkap dampak deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Melalui pendekatan berbasis data, diharapkan liputan lingkungan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu mendorong keadilan lingkungan dan perlindungan hak warga di wilayah terdampak.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK