NEWS

Prabowo Bertemu 1.200 Guru Besar Soshum, Apa Saja yang Dibahas?

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di kediamannya kawasan Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (23/11/2025), membahas kehutanan dan pertambangan. Foto: Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di kediamannya kawasan Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (23/11/2025), membahas kehutanan dan pertambangan. Foto: Sekretariat Presiden
apakabar.co.id, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengajak dialog 1.200 guru besar, dekan, dan rektor bidang sosial humaniora dari berbagai perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta se-Indonesia di halaman tengah Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (15/1) pagi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Stella Christie mengungkapkan pertemuan tersebut merespons keresahan akademisi mengenai persoalan sosial humaniora yang merasa diabaikan oleh pemerintah.

"Justru, khusus hari ini, Bapak Presiden mengumpulkan (guru besar bidang, red.) sosial humaniora," katanya sebelum acara dimulai di Istana Kepresidenan.
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi mengungkapkan pertemuan tersebut bermaksud untuk menyampaikan pandangan Presiden Prabowo mengenai situasi dan kondisi negara terkini. Termasuk di antaranya mengenai kondisi geopolitik dan rencana besar yang akan dikerjakan.

Pras memaparkan tema pendidikan menjadi fokus utama yang dibahas, mengingat pendidikan dipandang sebagai pondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Upaya tersebut berjalan seiring dengan target swasembada pangan dan swasembada energi, serta penguatan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Selain itu, topik lain yang akan dibahas yakni mengenai target percepatan pemenuhan kebutuhan dokter yang saat ini mengalami kekurangan di atas 100.000 orang dokter.
Peningkatan kualitas perguruan tinggi dalam negeri juga menjadi salah satu topik yang akan dibahas. Pemerintah berencana akan menghitung ulang beban operasional di setiap perguruan tinggi negeri.

"Kita menyadari bahwa sesungguhnya amanat konstitusi kita harus mencerdaskan kehidupan bangsa, dan salah satunya melalui pendidikan di tingkat universitas sehingga kalau memungkinkan kita sedang mencoba menghitung bagaimana universitas-universitas ini dapat maju dan berkualitas, dan tidak memberatkan dari sisi pembiayaan bagi masyarakat atau bagi mahasiswa," jelasnya.