NEWS

Ratusan Gempa Guncang Bengkulu 2025, BMKG: Waspadai Ancaman Megathrust Enggano

BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu mencatat sebanyak 627 kejadian gempa bumi terjadi sejak Januari hingga Desember 2025. Sebagian besar gempa yang terjadi merupakan gempa berkedalaman dangkal.
Petugas BMKG Stasiun Fatmawati Bengkulu saat menunjukkan aktivitas angin dan cuaca di Provinsi Bengkulu, Kamis (1/1/2026). Foto: ANTARA
Petugas BMKG Stasiun Fatmawati Bengkulu saat menunjukkan aktivitas angin dan cuaca di Provinsi Bengkulu, Kamis (1/1/2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2025 mengalami aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kepahiang mencatat sebanyak 627 kejadian gempa bumi terjadi sejak Januari hingga Desember 2025. 

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Detalia Nurutami, menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, 32 gempa di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebagian besar gempa yang terjadi di Bengkulu merupakan gempa berkedalaman dangkal. 

“Selama tahun 2025, kami mencatat sebanyak 627 kejadian gempa di Provinsi Bengkulu, dengan 32 kejadian gempa yang dirasakan oleh masyarakat,” ujar Detalia di Kota Bengkulu, Jumat (2/1).

Menurut BMKG, gempa-gempa tersebut didominasi magnitudo kecil hingga menengah, yakni berada pada rentang magnitudo 2,0 hingga 4,0. Meski relatif kecil, frekuensi gempa yang cukup sering menunjukkan bahwa Bengkulu merupakan wilayah dengan aktivitas tektonik yang tinggi dan perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Sejauh ini, BMKG mencatat beberapa wilayah di Bengkulu yang relatif sering mengalami gempa bumi. Daerah tersebut antara lain Pulau Enggano di Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, serta Kabupaten Kaur. 

"Lokasi-lokasi ini berada di dekat jalur subduksi dan sesar aktif yang menjadi sumber utama aktivitas gempa," ujarnya.

Salah satu gempa bumi paling signifikan sepanjang 2025 terjadi pada 23 Mei 2025 pukul 02.52 WIB dengan kekuatan magnitudo 6,0. Gempa itu disebabkan oleh aktivitas deformasi di bawah kerak bumi dan dirasakan cukup kuat oleh masyarakat Bengkulu. 

Dampak gempa tersebut, kata Detalia, tercatat berada pada skala IV hingga V Modified Mercalli Intensity (MMI), yang menimbulkan kerusakan di sejumlah titik.

BMKG melaporkan kerusakan berupa 5 (lima) unit rumah di Kabupaten Bengkulu Tengah dan 192 unit rumah di Kota Bengkulu. Selain itu, beberapa fasilitas umum seperti sekolah, masjid, gedung perkantoran, serta Balai Buntar di Kota Bengkulu juga mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

Ancaman Megathrust Enggano
Indonesia menghadapi ancaman gempa besar dari zona Megathrust seiring lokasi yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Indonesia memiliki setidaknya 13 hingga 14 segmen Megathrust. 

Salah satu segmen yang paling berisiko adalah Segmen Enggano, yang berada di lepas pantai barat Sumatera.

Dikutip dari CNBC, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan bahwa energi di zona subduksi terus terkunci dan bertambah seiring waktu. 

“Semakin lama energi yang terkumpul ini akan mencapai titik pelepasannya melalui pergerakan mendadak yang memicu gempa bumi sangat kuat,” ujarnya.

Jika energi tersebut dilepaskan secara bersamaan, gempa yang terjadi bisa mencapai magnitudo 8,7. Guncangan besar ini berpotensi memicu tsunami dengan ketinggian hingga 20 meter. Tsunami tersebut tidak hanya berdampak di pesisir selatan Jawa, tetapi juga dapat menjalar ke wilayah Banten, Lampung, bahkan hingga pesisir utara Jakarta.

Rahma memperkirakan tsunami di pesisir Banten bisa mencapai ketinggian 4 hingga 8 meter, sementara wilayah Lampung yang menghadap Selat Sunda berpotensi terdampak secara menyeluruh. Untuk Jakarta, tsunami diprediksi setinggi 1 hingga 1,8 meter dan tiba sekitar 2,5 jam setelah gempa besar terjadi.

Senada, ahli Seismologi BMKG, Pepen Supendi, dalam penelitiannya menyebut zona Megathrust di selatan Sumatera hingga selatan Jawa Barat berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 8,9 dengan periode ulang sekitar 400 tahun. 

“Jika gempa tersebut terjadi, tsunami yang dihasilkan dapat mencapai ketinggian maksimum sekitar 34 meter di beberapa titik,” jelas Pepen dalam jurnal berjudul On the Potential for Megathrust Earthquakes and Tsunamis off the Southern Coast of West Java and Southeast Sumatra, Indonesia.

Menurut Pepen, rata-rata tinggi tsunami di pantai Sumatera bisa mencapai sekitar 11,8 meter, sementara di pantai selatan Jawa sekitar 10,6 meter. “Nilai ini tergolong sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan dampak besar di wilayah pesisir,” tulisnya.

Melihat potensi ancaman tersebut, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko. Edukasi kebencanaan, sistem peringatan dini, serta perencanaan tata ruang berbasis risiko bencana perlu terus diperkuat agar dampak gempa dan tsunami dapat ditekan seminimal mungkin.

Tingginya aktivitas kegempaan membuat BMKG Stasiun Geofisika Bengkulu terus mengimbau masyarakat agar selalu waspada. Masyarakat diminta memahami langkah-langkah mitigasi bencana gempa bumi, mulai dari mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga bencana, hingga mengetahui tindakan aman saat gempa terjadi.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi atau isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi resmi terkait gempa dan potensi bencana diharapkan hanya bersumber dari BMKG atau instansi pemerintah yang berwenang.