LIFESTYLE

Tips Penuhi Gizi Anak Saat Belajar Puasa

Ilustrasi anak dan ibu tengah berbuka puasa. Foto: istimewa
Ilustrasi anak dan ibu tengah berbuka puasa. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA – Dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia, dr. Afiffa Mardhotillah, Sp.A, mengingatkan orang tua untuk memastikan anak benar-benar siap sebelum menjalani ibadah puasa.

Menurutnya, anak yang mulai belajar berpuasa membutuhkan perhatian ekstra, terutama dalam hal kesiapan fisik dan pemenuhan gizi harian.

“Beberapa hal yang perlu dipastikan adalah usia dan kesiapan mental anak. Pastikan si kecil sudah cukup matang serta dalam kondisi sehat,” ujar dr. Afiffa dikutip dari Antara, Kamis (26/2).


Menurut dokter yang praktik di RS Pondok Indah itu, tantangan utama anak yang baru belajar puasa adalah berkurangnya nafsu makan serta meningkatnya risiko dehidrasi.

Anak usia sekolah rata-rata membutuhkan cairan sekitar 1–2 liter per hari, tergantung berat badan dan aktivitasnya. Karena waktu minum menjadi terbatas selama Ramadan, orang tua perlu mengatur strategi agar kebutuhan tersebut tetap terpenuhi.

Dr. Afiffa menyarankan pembagian konsumsi cairan secara bertahap yaitu 25 persen saat berbuka, 25 persen saat makan malam, 25 persen sebelum tidur, dan 25 persen saat sahur. 

Jika anak bosan dengan air putih, infused water dengan campuran buah segar bisa menjadi alternatif agar anak tetap tertarik minum.

“Yang penting cairannya tetap terpenuhi. Jangan tunggu anak merasa sangat haus,” katanya.

Selain cairan, komposisi gizi seimbang juga menjadi kunci. Orang tua perlu memastikan asupan karbohidrat, protein, lemak, serta serat terpenuhi dengan baik.

Untuk sumber energi, ia menyarankan memilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah seperti nasi merah, kentang, atau oats. Jenis makanan ini membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil sehingga anak tidak cepat merasa lapar di siang hari.

Sebaliknya, makanan dan minuman tinggi gula sebaiknya dihindari, baik saat sahur maupun berbuka. Lonjakan gula darah yang terlalu cepat justru bisa membuat anak lebih cepat lemas setelahnya.

Dalam pemenuhan protein, dr. Afiffa menyebut kebutuhan anak setidaknya 10–15 persen dari total kalori harian. Protein dapat diperoleh dari telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, maupun susu.


Menu sahur dan berbuka pun sebaiknya disesuaikan dengan selera anak agar mereka tetap bersemangat menjalani puasa.

“Boleh disesuaikan dengan masakan yang disukai anak. Yang penting tetap seimbang gizinya,” ujarnya.

Dengan perencanaan yang tepat, puasa tidak hanya menjadi latihan spiritual, tetapi juga momen membangun kebiasaan makan sehat sejak dini. Orang tua pun diharapkan aktif memantau kondisi anak, terutama jika muncul tanda-tanda lemas berlebihan, pusing, atau dehidrasi.

Puasa bagi anak bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga proses belajar disiplin dan menjaga kesehatan secara menyeluruh.