LINGKUNGAN HIDUP
Viral Anak Gajah Kalimantan Terjebak di Perkebunan Sawit
Hasil penelusuran awal menunjukkan rekaman tersebut diduga berasal dari luar wilayah Indonesia.
apakabar.co.id, JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan video viral yang memperlihatkan seekor anak gajah terjebak di perkebunan sawit bukan berasal dari wilayah Indonesia.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut Dwi Januanto Nugroho mengatakan pihaknya telah melakukan identifikasi terhadap video tersebut setelah ramai dilaporkan masyarakat melalui media sosial.
“Hasil identifikasi menunjukkan bahwa spesies gajah yang tampak dalam video tersebut adalah Gajah Borneo (Elephas maximus borneensis), subspesies Gajah Asia yang endemik Pulau Kalimantan dan termasuk satwa dilindungi,” kata Dwi dalam keterangan dari Jakarta, dikutip Sabtu (7/3).
Ia menjelaskan Kemenhut kemudian melakukan penelusuran lanjutan secara digital, termasuk melacak akun media sosial yang pertama kali mengunggah video tersebut.
Dari hasil analisis terhadap afiliasi akun dan berbagai indikator digital, ditemukan indikasi bahwa lokasi pengambilan video tidak berada di Indonesia.
“Berdasarkan analisis mendalam terhadap afiliasi akun dan berbagai indikator digital, terdapat dugaan kuat bahwa lokasi pembuatan konten berada di perkebunan kelapa sawit di kawasan Tawau, Sabah, Malaysia,” ujarnya.
Meski demikian, Kemenhut menyatakan tetap akan mendalami informasi tersebut untuk memastikan seluruh fakta secara komprehensif.
Dwi juga mengimbau masyarakat agar tetap aktif melaporkan dugaan kejahatan di sektor kehutanan, termasuk yang berkaitan dengan satwa dilindungi. Laporan dapat disampaikan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) maupun Balai Gakkum di wilayah masing-masing, serta melalui kanal pelaporan daring.
Sebelumnya, video yang memperlihatkan seekor induk gajah bersama anaknya terjebak lumpur di area perkebunan sawit viral di sejumlah platform media sosial. Dalam kolom komentar, sejumlah warganet tampak menandai akun BKSDA dan Kemenhut agar otoritas segera menindaklanjuti peristiwa tersebut.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR
