SPORT
Indonesia Masters Jadi Tolok Ukur, PBSI Benahi Program Menuju All England
apakabar.co.id, JAKARTA – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, menilai hasil Indonesia Masters 2026 belum sepenuhnya ideal meski Indonesia berhasil meraih satu gelar dan satu posisi runner-up.
Namun demikian, turnamen level Super 500 tersebut menjadi cerminan penting dari proses pembinaan yang tengah dijalankan PBSI, khususnya dalam menyiapkan generasi muda menuju target jangka panjang.
“Dari hasil Indonesia Masters, alhamdulillah kita mendapat satu gelar dan satu finalis. Ini tentu bukan hasil terbaik, tapi kalau kita melihat perjalanan satu tahun kepengurusan ini dan membandingkan dengan Indonesia Masters tahun lalu, ada progres yang cukup jelas,” ujar Eng Hian.
Pada Indonesia Masters edisi sebelumnya, Indonesia memang mencatat dua finalis, namun mayoritas diisi pemain senior. Berbeda dengan tahun ini, Eng Hian menyoroti kemunculan pemain-pemain muda yang mulai mampu menembus babak semifinal hingga final, termasuk Alwi Farhan meraih gelar juara tunggal putra di Indonesia Masters 2026.
“Di tahun ini, semifinalis dan finalis kita sebagian besar berasal dari pemain generasi muda. Tahun lalu mereka bahkan belum diperhitungkan, sekarang progresnya sudah terlihat,” jelasnya.
PBSI, lanjut Eng Hian, akan segera melakukan evaluasi menyeluruh sebagai bagian dari persiapan menuju turnamen besar berikutnya, terutama All England yang rencananya digelar pada 3-8 Maret mensatang.
Ia menegaskan bahwa level kompetisi dan kualitas lawan di turnamen Super 1000 tersebut akan jauh lebih tinggi dibanding Indonesia Masters.
“Ini menjadi tugas saya dan tim pelatih untuk membuat program yang tepat agar atlet-atlet yang sudah berprestasi di Indonesia Masters bisa kembali tampil maksimal di All England,” tegasnya.
Selain menyoroti pemain muda, Eng Hian juga mengungkapkan evaluasi terhadap pemain senior, khususnya sektor ganda putra. Ia berharap pemain-pemain berpengalaman mampu menunjukkan hasil yang lebih konsisten di turnamen level tinggi.
“Kita tetap mengharapkan hasil yang lebih baik dari pemain senior, terutama di level 750 dan 1000. Untuk Fajar/Fikri, memang di sini kalah dari pemain yang lebih muda, tapi itu sudah menjadi bahan utama dalam program latihan kami,” katanya.
Eng Hian mengakui adanya perubahan pola permainan yang sedang diadaptasi Fajar/Fikri. Menurutnya, proses adaptasi tersebut tidak mudah dan membutuhkan waktu.
“Kalau rekan-rekan media mengikuti, ada perubahan pola. Mereka sedang beradaptasi dan itu tidak mudah. Tapi targetnya jelas, All England, Indonesia Open, hingga puncaknya Asian Games,” ungkapnya.
Kontrol Ekspektasi untuk Pemain Muda
Menjawab sorotan terhadap pemain muda seperti Alwi Farhan serta Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang tampil impresif di kandang sendiri, Eng Hian menegaskan pentingnya mengelola ekspektasi publik agar tidak menjadi beban bagi atlet.
“Ini bukan hanya PR PBSI, tapi PR bersama. Kami butuh dukungan media untuk menciptakan iklim bulutangkis yang positif dan adil. Yang main bagus dibilang bagus, yang belum maksimal tetap didukung tanpa berlebihan,” ujarnya.
Menurutnya, PBSI tidak bisa sepenuhnya mengontrol komentar netizen, namun pemberitaan media yang proporsional diyakini dapat membantu atlet mengurangi tekanan di luar lapangan.
Eng Hian juga mengonfirmasi adanya catatan khusus bagi beberapa pasangan yang performanya belum optimal, termasuk Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana. Evaluasi dilakukan berdasarkan Key Performance Indicator (KPI) yang diterapkan secara menyeluruh, baik untuk atlet senior maupun junior.
“Kami sudah berdiskusi langsung dengan atlet. Kalau perubahan sudah maksimal tapi performa belum meningkat, maka opsi perombakan pasangan bisa menjadi solusi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa degradasi atlet dari Pelatnas juga murni berdasarkan hasil evaluasi KPI. Beberapa atlet ganda campuran sebelumnya telah terkena dampak kebijakan tersebut.
“Kita punya batas minimum KPI. Kalau jauh di bawah itu, tentu ada konsekuensi. Ini berlaku untuk semua,” tegas Eng Hian.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

