SPORT

Jonatan dan Raymond/Joaquin Runner-Up, Tuan Rumah Tanpa Gelar Juara di Indonesia Open 2026

Ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Foto: PBSI
Ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Foto: PBSI
apakabar.co.id, JAKARTA – Harapan publik tuan rumah untuk merayakan gelar juara di ajang Polytron Indonesia Open 2026 harus tertunda. Dua wakil Indonesia yang tampil di partai final, yakni Jonatan Christie di sektor tunggal putra serta pasangan muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di ganda putra, gagal mengangkat trofi setelah takluk dari lawan masing-masing di hadapan ribuan penonton yang memadati Istora Senayan, Minggu (7/6).

Di sektor ganda putra, pasangan muda Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin harus mengakui keunggulan unggulan Malaysia, Nur Izzuddin Mohd Rumsani/Goh Sze Fei, dalam pertandingan tiga gim yang berlangsung sengit. Setelah tampil impresif dan merebut gim pertama dengan skor meyakinkan 21-13, Raymond/Joaquin justru kehilangan kendali permainan pada dua gim berikutnya dan akhirnya kalah 21-13, 18-21, 10-21.

“Pertandingan tadi menjadi pelajaran penting buat kami. Secara keseluruhan saya rasa kami sudah mengeluarkan kemampuan terbaik. Tapi pasangan Malaysia benar-benar luar biasa karena mereka tetap fokus dan mampu menjaga pikiran mereka sepanjang pertandingan,” ujar Joaquin.


Ia mengakui bahwa kehilangan momentum saat unggul menjadi titik balik yang menentukan hasil pertandingan.

“Kami sebenarnya mengontrol pertandingan dari awal gim pertama sampai kedudukan 14-8 di gim kedua. Setelah lawan mendapatkan beberapa poin, mungkin mereka melihat kami sempat bingung dan mereka langsung memanfaatkan situasi itu,” katanya.

Pada gim penentuan, pengalaman pasangan Malaysia yang telah malang melintang di berbagai turnamen elite dunia terlihat jelas. Raymond/Joaquin kesulitan keluar dari tekanan dan terus tertinggal hingga akhirnya harus menyerahkan gelar kepada lawan.

Raymond menilai pengalaman menjadi faktor penting dalam duel tersebut.

“Lawan punya pengalaman yang sangat banyak di turnamen besar. Kami harus belajar untuk lebih fokus dan menjaga konsentrasi, terutama ketika sedang unggul,” ujarnya.

Meski gagal juara, pencapaian menembus final turnamen level Super 1000 menjadi pengalaman berharga bagi pasangan muda Indonesia tersebut. Mereka membawa pulang banyak pelajaran, terutama soal menjaga fokus dan momentum ketika berada di atas angin.

Sementara itu, harapan Indonesia di sektor tunggal putra yang bertumpu pada Jonatan Christie juga belum berbuah manis. Pebulu tangkis andalan Merah Putih itu harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan pemain muda Kanada, Victor Lai, dalam dua gim langsung 19-21, 8-21.

Kekalahan tersebut memang menyisakan kekecewaan, tetapi tetap menjadi pencapaian terbaik Jonatan sepanjang penampilannya di Indonesia Open. Sebelumnya, prestasi terbaik Jonatan di turnamen ini hanyalah mencapai semifinal pada edisi 2021.

Di hadapan para pendukung yang tetap memberikan dukungan hingga akhir pertandingan, Jonatan menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permintaan maaf karena belum mampu mempersembahkan gelar juara.

“Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung saya. Maaf saya belum bisa memberikan hasil yang paling maksimal yaitu medali emas. Tapi ini yang bisa saya lakukan dan saya persembahkan,” kata Jonatan.


Usai rangkaian turnamen yang padat dalam beberapa pekan terakhir, Jonatan mengaku ingin mengambil jeda sejenak untuk memulihkan kondisi mental sebelum kembali menghadapi agenda besar berikutnya seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games.

“Saya ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu, menjauh sebentar dari bulutangkis supaya lebih tenang dan bisa membersihkan pikiran setelah tiga minggu pertandingan berturut-turut,” ujarnya.

Di sisi lain, kemenangan Victor Lai menjadi catatan bersejarah bagi bulutangkis Kanada. Ia menjadi pemain tunggal putra Kanada pertama yang mampu menjuarai Indonesia Open.