EKBIS
Kapal Pertamina Tertahan di Hormuz: Dampak Konflik Global Mulai Terasa ke Indonesia
Dua kapal tanker milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi nasional dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak langsung ke Indonesia. Dua kapal tanker milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di jalur pelayaran strategis tersebut, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi nasional dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memastikan telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak Iran agar kapal tanker tersebut dapat melintas dengan aman.
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa Teheran telah memberikan respons positif atas permintaan tersebut. Meski begitu, belum ada kepastian kapan kapal-kapal tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.
"Proses teknis dan operasional masih berjalan di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil," ujar Nabyl dikutip Antara, Sabtu (28/3).
Adapun langkah tindak lanjut telah dilaksanakan oleh sejumlah pihak terkait pada aspek teknis dan operasional. Hanya saja belum bisa dipastikan kapan kapal tanker Indonesia bisa keluar dari Selat Hormuz.
Picu gangguan energi
Krisis ini bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut tidak hanya merusak berbagai fasilitas umum, tetapi juga menewaskan ribuan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah dan membatasi akses di Selat Hormuz. Ketegangan ini berkembang menjadi semacam blokade de facto di jalur vital tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa pada pasokan energi dunia.
Sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di kawasan tersebut sejak konflik memanas. Banyak kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terpaksa menunggu di perairan terbuka karena risiko keamanan yang tinggi.
Situasi ini membuat ekspor minyak dari kawasan Teluk terganggu, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Iran terapkan pembatasan selektif
Meski situasi memanas, Iran tidak sepenuhnya menutup Selat Hormuz. Teheran menerapkan kebijakan selektif dengan hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu untuk melintas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut negara-negara seperti Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak tetap diperbolehkan melewati jalur tersebut. Selain itu, Malaysia, Thailand, Bangladesh, hingga Jepang segera mendapat akses atau tengah dalam proses negosiasi.
Sebaliknya, kapal-kapal yang dianggap terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel tidak diizinkan melintas.
Kebijakan ini membuat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menjadi sangat terbatas dan tidak menentu, tergantung pada dinamika politik dan diplomasi masing-masing negara.
Risiko nyata Indonesia
Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketergantungan pada impor minyak membuat gangguan di Selat Hormuz berpotensi langsung memengaruhi kondisi dalam negeri.
Tertahannya kapal tanker Pertamina menjadi sinyal awal bahwa distribusi energi nasional bisa terganggu jika situasi berlarut-larut. Dalam jangka pendek, hal itu akan menekan pasokan BBM dan berpotensi mendorong kenaikan harga.
Selain itu, dampak lanjutan juga bisa dirasakan di sektor ekonomi, mulai dari meningkatnya biaya logistik hingga tekanan terhadap inflasi.
Meski pemerintah telah bergerak cepat melalui jalur diplomasi dan mendapatkan respons positif dari Iran, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan energi nasional masih menghadapi tantangan.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup Selat Hormuz sepenuhnya, tetapi hanya membatasi akses bagi kapal-kapal tertentu. Teheran juga menekankan bahwa mereka tidak menginginkan sekadar gencatan senjata, melainkan pengakhiran konflik secara menyeluruh.
Dengan situasi yang masih memanas, jalur pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan belum akan sepenuhnya normal dalam waktu dekat. Selama konflik belum mereda, gangguan terhadap pasokan energi global akan terus menjadi ancaman.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi penting untuk dicermati, karena dampaknya tidak hanya terasa di tingkat global, tetapi juga bisa menjangkau kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama terkait harga BBM dan stabilitas ekonomi.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK