EKBIS

Pemerintah Pastikan Stok Aman, Harga Bahan Pokok PascaLebaran Masih Naik-Turun

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan bahwa pasokan kebutuhan pokok secara umum tetap tercukupi. Pemerintah juga terus memantau distribusi agar stok stabil di seluruh pasar.
Dokumentasi - Menteri Perdagangan Budi Santoso saat sidak di Pasar Wage Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025). Foto: Bulog Kediri
Dokumentasi - Menteri Perdagangan Budi Santoso saat sidak di Pasar Wage Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025). Foto: Bulog Kediri
apakabar.co.id, JAKARTA – Pemerintah memastikan pasokan dan stok kebutuhan pokok secara nasional tetap aman pascaLebaran. Meski demikian, harga bahan pokok di sejumlah daerah masih terus mengalami fluktuasi, akibat dipengaruhi distribusi yang belum sepenuhnya pulih dan faktor cuaca.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan, pemerintah terus memantau pergerakan harga bahan pokok sekaligus menjaga distribusi agar tetap stabil di pasar. Secara umum pasokan masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Stok aman, dan kami terus pastikan distribusinya berjalan baik agar harga tetap terkendali,” kata Budi saat meninjau pasar di Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (28/3).

Namun, ia mengakui sejumlah komoditas masih mengalami kenaikan harga, salah satunya cabai rawit merah. Kenaikan harga dipicu oleh cuaca yang telah menghambat proses panen di sejumlah daerah sentra produksi.

“Kenaikan harga cabai rawit merah sejak awal puasa dipengaruhi cuaca. Sementara cabai merah keriting relatif stabil, bahkan masih ada di bawah harga eceran tertinggi,” ujarnya.

Selain faktor cuaca, belum pulihnya aktivitas pasar juga ikut memengaruhi harga bahan pokok pasca Lebaran. Budi menyebut, belum semua pedagang kembali berjualan dan sebagian distributor masih dalam tahap pemulihan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan para pemasok, termasuk petani dan distributor, agar pasokan kembali normal ke pasar.

“Kami komunikasikan terus dengan para pemasok, yang penting bagaimana pasokan bisa kembali lancar masuk ke pasar-pasar,” kata dia.

Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per Jumat (27/3), harga sejumlah komoditas tercatat mengalami perubahan dibandingkan awal Ramadan pada 18 Februari 2026.

Minyak goreng sawit curah menjadi komoditas dengan kenaikan tertinggi, dari Rp17.944 menjadi Rp19.036 atau naik 6,09 persen. Kenaikan juga terjadi pada daging sapi paha belakang sebesar 5,90 persen, daging ayam ras 5,77 persen, serta cabai rawit merah sebesar 4,64 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Contohnya, Cabai merah keriting yang turun hingga 35,41 persen, cabai merah besar turun 27,06 persen, dan bawang merah turun 9,87 persen.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan kondisi harga bahan pokok yang masih naik-turun telah mendorong pemerintah melakukan intervensi melalui program pasar murah.

“Karena masih ada harga yang belum turun, pemerintah segera melakukan pasar murah. Di Monas nanti ada hampir 100 ribu paket, ada beras, minyak dan lain-lain. Daerah-daerah juga melakukan hal yang sama,” kata Zulhas.

Ia menambahkan, pemantauan harga bahan pokok dilakukan setiap hari, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di berbagai daerah. Dalam peninjauan tersebut, Zulhas mencatat harga telur relatif stabil, sementara daging ayam mengalami kenaikan tipis. 

Cabai merah keriting justru harganya turun, namun harga cabai naik untuk jenis rawit merah. Meski demikian, ia memastikan stok kebutuhan pokok masih dalam kondisi terkendali. 

Saat ini, menurut Zulhas, situasi pasar belum sepenuhnya normal, itu karena baru sekitar 60 hingga 70 persen pedagang yang kembali berjualan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas harga bahan pokok tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga kelancaran distribusi. Ketika rantai pasok belum pulih sepenuhnya, gejolak harga menjadi sulit dihindari.

Di sisi lain, ketergantungan pada pasokan yang berasal dari daerah tertentu, utamanya untuk komoditas sensitif seperti cabai, membuat harga mudah terdampak faktor cuaca. Tanpa perbaikan sistem distribusi dan penguatan produksi di berbagai wilayah, pola kenaikan harga seperti ini berpotensi terus berulang, bahkan di luar momentum hari besar seperti Lebaran.