LIFESTYLE

Stres Kerja Sering Dianggap Wajar, Psikolog UI Ingatkan Risiko Burnout yang Tak Disadari

Stres yang dibiarkan tanpa disadari berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Itu karena banyak orang memaksakan diri bekerja meski tubuh dan pikirannya sudah berada dalam kondisi tertekan.
Ilustrasi - alam budaya kerja, stres kerap dipersepsikan sebagai konsekuensi yang harus diterima. Foto: hatiplong
Ilustrasi - alam budaya kerja, stres kerap dipersepsikan sebagai konsekuensi yang harus diterima. Foto: hatiplong
apakabar.co.id, JAKARTA - Tekanan kerja yang tinggi kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari dunia profesional. Deadline ketat, target kinerja (KPI), jam kerja panjang, hingga tuntutan atasan sering dinormalisasi sebagai “risiko jabatan”. 

Namun, di balik anggapan tersebut, stres yang dibiarkan tanpa disadari justru berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Ayu S. Sadewo, menjelaskan stres sering kali tidak dikenali oleh pekerja karena dianggap sebagai kondisi yang wajar dalam rutinitas kerja sehari-hari. Akibatnya, banyak orang tetap memaksakan diri bekerja meski tubuh dan pikirannya sudah berada dalam kondisi tertekan.

Hal ini disampaikan Ayu dalam kegiatan Health Talk bertajuk Mind Matters: Menciptakan Ruang Aman untuk Sadar, Peduli, dan Saling Mendukung yang digelar Perum LKBN ANTARA di Wisma Antara B, Jakarta, Rabu (28/1).

Menurut Ayu, stres baru diakui ketika dampaknya mulai mengganggu fungsi kerja dan hubungan sosial. “Banyak orang tidak merasa dirinya stres. Mereka baru sadar ketika sudah mudah marah, defensif, menarik diri, atau merasa lelah terus-menerus,” ujarnya.

Dalam budaya kerja yang kompetitif, ketahanan mental kerap dimaknai sebagai kemampuan menahan tekanan tanpa mengeluh. Profesionalisme sering diukur dari seberapa kuat seseorang bertahan dalam beban kerja tinggi, bukan dari kemampuannya mengenali batas diri. 

Pandangan ini, kata Ayu, membuat banyak pekerja enggan mengakui kelelahan mental karena takut dianggap lemah atau tidak kompeten.

Padahal, tidak semua stres bersifat buruk. Ayu menjelaskan stres jangka pendek masih tergolong normal dan bahkan dapat membantu seseorang tetap fokus, waspada, dan produktif. 

Masalah muncul ketika stres berlangsung lama, tidak dikelola, dan terus diabaikan. Dalam kondisi ini, stres dapat berkembang menjadi burnout, yaitu kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada turunnya motivasi, konsentrasi, dan kinerja.

Burnout tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya diawali oleh tekanan yang menumpuk, minimnya waktu pemulihan, serta tidak adanya ruang aman untuk mengekspresikan beban kerja. 

Dalam konteks pekerja kantoran, contohnya bisa berupa tuntutan menyelesaikan laporan dengan tenggat harian, target KPI yang terus meningkat, atau jam kerja yang memanjang tanpa jeda jelas antara pekerjaan dan waktu pribadi.

Ayu juga menekankan bahwa stres tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan verbal. Perubahan kecil seperti menurunnya fokus, meningkatnya kesalahan kerja, sering menunda tugas, atau enggan berinteraksi dengan rekan kerja kerap menjadi sinyal awal yang luput diperhatikan.

Di sisi lain, masih ada anggapan bahwa terlalu banyak membicarakan kesehatan mental justru melemahkan etos kerja dan daya saing. Ayu menilai pandangan ini perlu diluruskan. 

Menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tekanan, melainkan memahami kapan tekanan perlu direspons dan kapan tubuh serta pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti dan pulih.

Ia mengajak pekerja, terutama generasi muda dan pekerja kantoran, untuk mulai lebih peka terhadap tanda-tanda stres sejak dini. Dengan kesadaran tersebut, stres dapat dikelola secara sehat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar, baik bagi individu maupun lingkungan kerja.