LINGKUNGAN HIDUP
Menteri LH Anugerahkan ProKlim 2025: Aksi Komunitas dari Desa ke Kota Perkuat Ketahanan Iklim dan Turunkan Emisi
apakabar.co.id, JAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menganugerahkan Program Komunitas untuk Iklim (ProKlim) 2025. Program yang dijalankan oleh Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon ini bertujuan membina komunitas berbasis tapak melalui aksi adaptasi dan mitigasi iklim di tingkat RW, dusun, desa, dan kelurahan. ProKlim mendorong penguatan ketahanan iklim wilayah sekaligus membangun gaya hidup rendah emisi gas rumah kaca.
Pada 2025, sebanyak 1.327 lokasi mendaftar ProKlim melalui Sistem Registri Nasional–Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI) KLH/BPLH. Peserta berasal dari 33 provinsi, 163 kabupaten, dan 59 kota. Setelah melalui proses penilaian, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, menyerahkan 26 Trofi ProKlim Lestari dan 50 Trofi ProKlim Utama. Selain itu, Apresiasi Pembina ProKlim diberikan kepada 25 pemerintah daerah (4 provinsi, 12 kabupaten, dan 9 kota), serta Apresiasi Pendukung ProKlim kepada 9 pihak pendukung (8 dunia usaha dan 1 lembaga).
Menteri Hanif menegaskan ProKlim sebagai pilar aksi iklim berbasis masyarakat yang konkret dan berkelanjutan. “ProKlim adalah langkah nyata bangsa Indonesia untuk berperan aktif dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Semangat yang lahir dari desa, kelurahan, hingga kota inilah yang menjadi energi besar bagi pencapaian target NDC Indonesia. Arahan global di COP30 menegaskan pentingnya aksi di tingkat tapak—dan ProKlim adalah jawaban kita,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya mempercepat skala dan kualitas ProKlim. “Kita harus mempercepat skala dan kualitas ProKlim: lebih banyak lokasi, dukungan teknis yang kuat dari pemerintah daerah, dan sinergi nyata dengan dunia usaha serta perguruan tinggi. Ketika komunitas diberdayakan, solusi iklim yang adil dan berkelanjutan akan lahir dari akar rumput,” kata Menteri Hanif. Ia juga menyoroti dampak ekonomi lokal yang dihasilkan aksi komunitas, seperti pengembangan pupuk organik, pemilahan sampah, ekonomi sirkular, energi terbarukan, dan inovasi pengelolaan lingkungan sesuai kebutuhan desa.
Dalam kesempatan itu, Menteri Hanif mengingatkan urgensi perubahan iklim berdasarkan data ilmiah. Suhu permukaan laut Indonesia meningkat 0,25 hingga 1°C dibanding era 1980-an dan diperkirakan mencapai 1,7°C pada akhir abad ini. Kenaikan tersebut memicu perubahan sirkulasi laut, pergeseran musim, serta meningkatnya potensi badai tropis di wilayah timur dan utara—yang dampaknya terlihat pada bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi tersebut, tegasnya, menuntut respons cepat berupa aksi adaptasi dan mitigasi di tingkat tapak.
Ia menegaskan bahwa ProKlim berperan penting memperkuat ketahanan sektor air, pangan, energi, kesehatan, ekosistem, dan penanggulangan bencana. Program ini sejalan dengan mandat Nationally Determined Contribution (NDC), National Adaptation Plans (NAPs), serta kebijakan nasional termasuk Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Peningkatan kualitas dan jumlah lokasi ProKlim diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya desa dan kelurahan berketahanan iklim, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Menteri Hanif juga menekankan pentingnya peran pemerintah provinsi sebagai pendamping utama kabupaten/kota. Ia mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan—dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil—agar inovasi dan pendampingan di tingkat tapak semakin kuat dan merata.
Salah satu penerima penghargaan, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, yang menerima penghargaan Pembina ProKlim tingkat pemerintah kota, menyampaikan apresiasinya. “Penghargaan ini memotivasi kami untuk memastikan kecamatan dan kelurahan di Kota Bogor terus aktif menjaga dan mengelola lingkungan hidupnya. Upaya ini berdampak pada ketahanan lokal dan kontribusi nyata terhadap mitigasi serta adaptasi perubahan iklim,” ujarnya. Dedie berharap ProKlim berjalan berkelanjutan melalui kolaborasi yang saling menguatkan antar pemangku kepentingan.
Acara ditutup dengan seruan Menteri Hanif. “Dari desa-desa ini, dari kampung-kampung iklim ini, Indonesia sedang menulis masa depan iklimnya sendiri. Semua aksi kecil akan menjadi lompatan besar bagi generasi berikutnya.”
Editor:
ANDREY MICKO
ANDREY MICKO