NEWS

Hujan Mengintai Sejumlah Kota Besar Hari Ini, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG memprakirakan mayoritas kota besar di Indonesia berpotensi mengalami cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas ringan pada Senin (2/2).
Ilustraasi - awan gelap bergelayut di langit Kota Batam, Rabu (3/9/2025). Foto: ANTARA
Ilustraasi - awan gelap bergelayut di langit Kota Batam, Rabu (3/9/2025). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan mayoritas kota besar di Indonesia berpotensi mengalami cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas ringan pada Senin (2/2). 

Informasi itu disampaikan melalui sistem peringatan dini cuaca BMKG dan ditujukan agar masyarakat dapat mengantisipasi aktivitas harian.

Untuk wilayah Sumatera, sejumlah kota besar seperti Medan, Bengkulu, Padang, Pekanbaru, Jambi, Palembang, dan Bandar Lampung diprakirakan diguyur hujan ringan hingga sedang. Sementara itu, Aceh dan Tanjung Pinang diprediksi berawan.

Di Pulau Jawa, hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi secara cukup merata di Banten, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, hingga Surabaya. Kondisi ini menunjukkan pola cuaca basah masih mendominasi wilayah padat penduduk.

Wilayah Kalimantan juga tidak luput dari potensi hujan. Kota Palangkaraya, Samarinda, dan Pontianak diprakirakan mengalami hujan ringan. Namun, BMKG mengingatkan adanya potensi hujan lebat disertai kilat di Banjarmasin dan Tanjung Selor.

Sementara itu, Bali, Mataram, dan Kupang diperkirakan diguyur hujan ringan. Di Sulawesi, hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi di Mamuju dan Makassar. Kota Kendari berisiko mengalami hujan lebat disertai kilat, sedangkan Palu, Gorontalo, dan Manado diprakirakan berawan tebal.

Untuk wilayah timur Indonesia, BMKG memprakirakan Ambon, Sorong, Manokwari, dan Jayapura berawan. Nabire dan Jayawijaya berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang, sementara Merauke berisiko mengalami hujan lebat disertai kilat.

Operasi modifikasi cuaca
Di tengah prakiraan cuaca tersebut, BMKG juga menanggapi maraknya narasi di media sosial yang menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai “bom waktu” jika dilakukan terus-menerus. BMKG menegaskan narasi tersebut keliru dan tidak didukung oleh fakta ilmiah.

BMKG menjelaskan bahwa OMC merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi serta dampak perubahan iklim yang kian nyata.

Salah satu isu yang sering disalahpahami adalah munculnya istilah cold pool atau kolam dingin. BMKG menegaskan, fenomena ini bukan dampak dari OMC, melainkan proses meteorologi alami. Cold pool terjadi ketika air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, lalu membentuk massa udara dingin yang bergerak ke permukaan.

BMKG juga membantah anggapan bahwa OMC dapat memindahkan atau menumpuk hujan secara sembarangan hingga memicu banjir besar di wilayah tertentu. Setiap operasi dilakukan dengan perhitungan atmosfer yang ketat dan terus dipantau oleh para ahli.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap memantau informasi cuaca resmi dan tidak mudah percaya pada narasi yang menyesatkan di media sosial. Dengan memahami prakiraan cuaca dan konteks ilmiah di balik kebijakan mitigasi, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi potensi cuaca ekstrem tanpa terjebak informasi keliru.