NEWS

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Indonesia dan Tetapkan Hari Sejarah Nasional

Peluncuran  buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Lantai 1 Kompleks Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, pada Minggu, (14/12).
Peluncuran buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Lantai 1 Kompleks Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, pada Minggu, (14/12).
apakabar.co.id, JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Lantai 1 Kompleks Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, pada Minggu, (14/12). Peluncuran buku ini sekaligus menandai penetapan 14 Desember sebagai Hari Sejarah Nasional.

"Hari sejarah ini terkait tadi dengan seminar sejarah yang diselenggarakan tanggal 14 hingga 17 Desember 1957. Satu seminar sejarah pertama ketika itu dan ini dijadikan hari sejarah berdasarkan usul dari masyarakat sejarawan Indonesia," ujar Fadli.

Fadli menjelaskan bahwa buku sejarah Indonesia tersebut disusun selama kurang lebih satu tahun oleh 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di Indonesia. Para penulis berasal dari beragam latar belakang keilmuan, mulai dari sejarawan hingga arkeolog, yang masing-masing menulis sesuai dengan bidang keahliannya.

“Buku ini dikerjakan oleh para ahli, termasuk arkeolog yang menulis tentang sejarah awal peradaban dan akar peradaban Nusantara. Setiap bagian ditulis sesuai kompetensi masing-masing sejarawan,” kata Fadli.

Ia menilai kehadiran buku ini sangat penting karena Indonesia sudah cukup lama tidak melakukan pembaruan penulisan sejarah nasional. Fadli menyinggung bahwa penulisan sejarah Indonesia sebelumnya terakhir dilakukan melalui Indonesia dalam Arus Sejarah pada 2012, yang isinya pun belum mencakup dinamika politik dan sosial pascareformasi secara utuh.

“Pemilu 1999 saja tidak ditulis, apalagi pemilu-pemilu setelah itu. Padahal sejarah terus berjalan dan perlu diperbarui berdasarkan riset serta temuan-temuan terbaru,” ujarnya.

Menurut Fadli, buku ini diharapkan menjadi salah satu rujukan penting dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat identitas nasional. Penetapan Hari Sejarah pada 14 Desember, lanjutnya, merujuk pada Seminar Sejarah Nasional pertama yang diselenggarakan pada 14–17 Desember 1957, dan merupakan aspirasi dari komunitas sejarawan Indonesia.

“Ini bagian dari upaya kita untuk memperkuat identitas dan menemukan kembali jati diri bangsa. Sejarah nasional adalah fondasi penting dalam proses itu,” katanya.

Fadli menegaskan Kementerian Kebudayaan berperan sebagai fasilitator dalam penulisan sejarah, tanpa melakukan intervensi terhadap isi karya para sejarawan. Ia bahkan mengaku belum membaca secara menyeluruh buku yang diluncurkan karena sepenuhnya mempercayakan substansi kepada para penulis.

“Satu paragraf pun saya tidak pernah lihat sebelumnya. Tidak ada intervensi. Ini murni karya para sejarawan,” tegasnya.

Ia juga membuka ruang terhadap masukan dan kritik, mengingat buku ini masih dalam tahap peluncuran awal dan belum dicetak secara massal. Revisi dan penyempurnaan, menurutnya, merupakan hal yang lazim dalam penerbitan karya sejarah.

Ke depan, Fadli menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan akan melanjutkan penulisan sejarah-sejarah tematik dan periodik secara lebih mendalam, antara lain sejarah periode 1945–1950, sejarah Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, hingga sejarah awal peradaban Nusantara, yang akan ditulis secara komprehensif oleh para ahli. Ia juga mendorong penulisan sejarah lokal dan tematik secara lebih luas.

“Tulislah buku sejarah sebanyak-banyaknya, termasuk sejarah daerah, kota, tokoh, dan pahlawan. Sejarah itu harus terbuka,” ujarnya.

Menurut Fadli, keterbukaan dalam penulisan sejarah justru menjadi kekuatan bangsa, agar generasi mendatang dapat memahami masa lalu secara kritis dan kontekstual, seiring dengan perkembangan zaman.