OPINI

Krisis Iklim: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata

Foto udara kendaraan bermotor melaju perlahan saat menembus genangan air rob di jalur Pantura Demak KM 10 di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (13/5/2023). Foto: ANTARA
Foto udara kendaraan bermotor melaju perlahan saat menembus genangan air rob di jalur Pantura Demak KM 10 di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (13/5/2023). Foto: ANTARA
Oleh: Marzuki*

Dunia memanas lebih cepat dari yang diperkirakan. Berbagai rekor iklim dunia pecah sepanjang 2023–2025.

Dr Caroline Sandford dalam artikel yang diterbitkan di Weather tahun 2025 melaporkan bahwa suhu rata-rata Bumi pada tahun 2024 mencapai 1,55 derajat celciu di atas tingkat praindustri, menjadikannya tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern. Bahkan, suhu global meningkat sekitar 0,25 derajat dibandingkan tahun 2023, lonjakan yang sangat besar dalam satu tahun.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut periode sejak 2023 sebagai awal dari “era global boiling”. Padahal, dunia selama ini berupaya membatasi kenaikan suhu global pada kisaran 1,5 derajat celcius sesuai target Persetujuan Paris (Paris Agreement). Terlampauinya ambang tersebut menjadi sinyal bahwa krisis iklim berkembang lebih cepat dari perkiraan.

Percepatan pemanasan ini berkaitan erat dengan kondisi lautan. Menurut Dr Joseph Giguere dalam Environmental Research: Climate (2024), tahun 2023 mencatat rekor tertinggi suhu permukaan laut dan kandungan panas laut global. Karena lautan menyerap lebih dari 90 persen kelebihan panas akibat pemanasan global, perubahan suhu laut menjadi indikator penting arah perubahan iklim.

Di wilayah kutub, kondisi juga semakin mengkhawatirkan. Dr Minghu Ding dalam Advances in Climate Change Research (2025) melaporkan bahwa luas es laut di Antartika dan Arktik mencapai titik terendah dalam sejarah pengamatan modern. Arktik bahkan memanas hampir tiga kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Secara ilmiah, percepatan pemanasan global sejak 2023 dipicu oleh kombinasi peningkatan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, ketidakseimbangan energi Bumi, transisi cepat dari La Niña menuju El Niño kuat pada 2023, serta pemanasan lautan yang mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah pengamatan.

Para ilmuwan juga mulai menemukan indikasi bahwa pemanasan global tidak selalu berlangsung secara bertahap dan linear, tetapi dapat terjadi melalui lonjakan-lonjakan yang dipicu pelepasan panas besar dari lautan ke atmosfer.

Indonesia di Garis Depan Krisis Iklim

Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026, Indonesia mengangkat tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” dengan tagar #NowForClimate. Tema ini sangat relevan karena dunia kini tidak lagi berada pada tahap peringatan, tetapi telah memasuki fase terdampak perubahan iklim.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan muka laut mengancam kawasan pesisir, pemukiman, infrastruktur, dan berbagai aktivitas ekonomi yang menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat.

Pemanasan global juga meningkatkan kemampuan atmosfer menampung uap air sehingga memperbesar peluang terjadinya hujan ekstrem. Akibatnya, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem semakin meningkat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa frekuensi banjir terus bertambah di banyak kota Indonesia, termasuk Jakarta.
Ancaman lain adalah siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia. Siklon Tropis Senyar pada akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa risiko cuaca ekstrem di kawasan maritim Indonesia semakin kompleks. Meskipun belum ada bukti kuat bahwa wilayah pembentukan siklon tropis telah bergeser ke dekat ekuator, ancaman siklon tropis terhadap Indonesia tidak dapat diabaikan.

Perubahan iklim juga memberikan tekanan besar pada sektor pertanian. Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, dan semakin seringnya kekeringan mengganggu kalender tanam serta menurunkan produktivitas pertanian.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional. Selain itu, perubahan suhu dan pola hujan meningkatkan risiko penyebaran penyakit sensitif iklim, sehingga memperbesar beban kesehatan masyarakat dan pemerintah.

Kesadaran Meningkat, Aksi Belum Mengikuti

Kabar baiknya, kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim terus meningkat. Penelitian Prof Taciano L Milfont yang dipublikasikan di Nature Communications tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 73 persen masyarakat percaya bahwa perubahan iklim sedang terjadi. Angka ini kemungkinan lebih tinggi saat ini karena masyarakat semakin sering menyaksikan dampaknya secara langsung.

Namun, meningkatnya kesadaran belum diikuti perubahan perilaku. Berbagai penelitian menunjukkan adanya knowledge-action gap, yaitu kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan. Banyak orang memahami risiko perubahan iklim, tetapi belum terdorong untuk mengubah perilaku secara signifikan.
Tantangan serupa juga terlihat pada tingkat global. Dr Jonas Bahlmann dalam artikel yang diterbitkan pada Juni 2026 di Advances in Space Research menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca global masih terus meningkat setelah lahirnya Persetujuan Paris. Jika kebijakan saat ini dipertahankan, dunia berpotensi mengalami pemanasan sekitar 3,2 derajat celcius pada akhir abad ini, jauh di atas target yang telah disepakati.

Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi melalui Nationally Determined Contribution (NDC) dan menunjukkan komitmen pada berbagai kesepakatan internasional. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan.

Saatnya Bekerja untuk Iklim

Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi kurangnya kesadaran, melainkan bagaimana mengubah kesadaran menjadi tindakan nyata. Aksi iklim perlu dibangun di atas keyakinan bahwa setiap tindakan memiliki arti. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aksi berbasis komunitas lebih efektif dibandingkan aksi individu yang berjalan sendiri-sendiri.

Pengelolaan sampah, efisiensi energi, konservasi air, rehabilitasi lingkungan, dan penguatan ketahanan pangan lokal merupakan langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat. Program seperti Kampung Iklim (ProKlim), rehabilitasi mangrove, dan restorasi gambut telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Namun, aksi masyarakat tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang kuat. Indonesia perlu mempercepat transisi energi, mengurangi kebergantungan pada bahan bakar fosil, memperkuat pembiayaan iklim, melindungi hutan dan lahan gambut, serta memperluas program adaptasi berbasis masyarakat. Pengembangan energi surya, panas bumi, hidro, dan energi terbarukan lainnya dapat menjadi fondasi ketahanan energi sekaligus mendukung pencapaian target iklim nasional.
Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, media massa, dan organisasi masyarakat sipil memiliki peran penting dalam mempercepat transformasi menuju pembangunan rendah karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Pendidikan lingkungan yang berkelanjutan sejak usia dini hingga perguruan tinggi juga menjadi kunci untuk membentuk perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini harus menjadi momentum untuk bergerak dari kesadaran menuju aksi nyata. Indonesia tidak dapat menunda. Setiap tahun keterlambatan dalam mengurangi emisi dan meningkatkan ketahanan iklim akan memperbesar biaya yang harus ditanggung generasi mendatang.

Karena itu, makna terdalam tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” adalah ajakan untuk menutup dua kesenjangan sekaligus: kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan, serta kesenjangan antara komitmen dan implementasi kebijakan.

Masa depan Indonesia akan ditentukan bukan oleh seberapa banyak kita berbicara tentang perubahan iklim, tetapi oleh seberapa cepat dan seberapa serius kita bertindak untuk menghadapinya.

*) Guru Besar Fisika Atmosfer Universitas Andalas, Ketua LPPM Universitas Andalas