Festival Tenun Iban Sadap: Merawat Hutan dan Menenun Masa Depan
Masyarakat Dayak Iban di Kapuas Hulu secara turun-temurun menjaga hutan sebagai sumber kehidupan bersama. Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon, pengatur tata air, dan benteng alami dari bencana akibat perubahan iklim.
Penulis:
Tim Redaksi
Selasa, 6 Januari 2026 | 21:21 WIB
Penanaman Tanaman Pewarna Alam untuk Pewarnaan Tenun Iban. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Kapuas Hulu yang terletak di Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis di Indonesia. Di wilayah itu, hutan bukan hanya bentang alam, tetapi ruang hidup yang dijaga dengan penuh kesadaran oleh masyarakat adat.
Berbagai kajian lembaga lingkungan mencatat bahwa tingkat deforestasi di wilayah adat jauh lebih rendah, terutama di kawasan yang hak ulayatnya diakui dan dikelola berdasarkan hukum adat. Dengan pengetahuan lokal, zonasi adat, serta larangan eksploitasi berlebihan, masyarakat adat mampu menjaga hutan sekaligus mempertahankan keberlanjutan hidup mereka.
Stand Pameran Festival Tenun Iban Sadap: Foto Istimewa untuk apakabar.co.id
Salah satu contoh nyata hadir dari masyarakat Dayak Iban di Kapuas Hulu. Secara turun-temurun, mereka menjaga hutan sebagai sumber kehidupan bersama. Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon, pengatur tata air, dan benteng alami dari bencana akibat perubahan iklim.
Lebih dari itu, kelestarian hutan menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi menenun, karena seluruh pewarna alami tenun Iban berasal dari alam sekitar, seperti daun, kulit kayu, akar, dan serbuk batang tumbuhan hutan.
Susur Sungai Menuju Lokasi Penanaman Tanaman Pewarna Alam. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Komunitas Dayak Iban Sadap Ketemenggungan Iban Batang Kanyau yang berada di Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, memiliki wilayah adat seluas 5.785,45 hektare. Komunitas ini dikenal luas sebagai salah satu kelompok yang masih aktif melestarikan tradisi menenun.
Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, perempuan adat Sadap tetap menjaga praktik menenun sebagai warisan leluhur yang sarat nilai budaya, spiritual, dan ekologis.
Upaya menjaga tradisi dan alam tersebut diwujudkan melalui Festival Tenun Iban Sadap. Festival ini diselenggarakan oleh masyarakat Rumah Panjang Sadap dengan dukungan berbagai lembaga, seperti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Forest Watch Indonesia (FWI), WWF Indonesia, Yayasan Pelestari Budaya Dayak, Matata, Rekam Nusantara Foundation, dan Rangkong Indonesia.
Rangkaian Acara Seminar dalam Festival Tenun Iban Sadap. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Festival Tenun Iban Sadap 2025 dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Kapuas Hulu, Agustinus Sargito, mewakili Bupati Kapuas Hulu.
Acara pembukaan juga dihadiri perwakilan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pemerintah daerah, ATR/BPN, Forkopincam, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan AMAN. Kehadiran berbagai pihak turut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan hutan adat merupakan tanggung jawab bersama.
Ketua Panitia Festival Tenun Iban Sadap, Moses Bungkong, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar acara budaya. Menurutnya, festival adalah perayaan hubungan manusia, alam, dan pengetahuan leluhur yang terus hidup di rumah panjang.
"Melalui festival ini, masyarakat ingin menunjukkan bahwa kelestarian hutan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan tradisi menenun", ujarnyar Moses dalam keterangannya di Kapuas Hulu, Selasa (6/1),
Festival Tenun Iban Sadap merupakan implementasi nyata dari Perencanaan Pengelolaan Wilayah Adat (PPWA) yang disusun bersama oleh masyarakat adat. Tenun, penggunaan pewarna alami, dan regenerasi penenun muda dipandang sebagai elemen penting dalam menjaga adat, ekonomi keluarga, dan perlindungan hutan.
Mengusung tema “Merawat Alam, Menenun Pengetahuan”, festival ini diisi dengan pameran tenun, workshop pewarna alami, kelas menenun, seminar budaya, pertunjukan seni, penanaman tanaman pewarna alam, hingga kunjungan ke ruang hidup masyarakat adat.
Herkulanus Sutomo Manna dari AMAN Kapuas Hulu menekankan bahwa kegiatan ini memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga hutan adat sebagai sumber kehidupan. Ia juga berharap motif Tenun Iban Sadap dapat didaftarkan sebagai kekayaan komunal agar tidak mudah ditiru pihak lain.
"Dukungan dari pemerintah, dunia usaha, NGO, dan tokoh masyarakat dinilai penting agar inisiatif ini terus berlanjut," ujarnya.
Penampilan Seni Tari Tenun dari SMAN 01 Embaloh Hulu. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Keunikan Tenun Iban Sadap terletak pada motif dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Motif seperti tauk randau entimau, silup langit, karak jangkit, dan tersang pedara bukan sekadar hiasan visual. Setiap motif merekam jejak leluhur, hubungan spiritual dengan alam, serta struktur sosial masyarakat Iban.
"Tenun menjadi media penyampai nilai-nilai tersebut kepada generasi muda," imbuhnya.
Bagi masyarakat Iban Sadap, menenun bukan hanya kegiatan ekonomi, melainkan cara merawat hutan dan menjaga warisan leluhur. Hutan menyediakan bahan dan inspirasi, sementara tenun menjadi sarana meneruskan pengetahuan dan kosmologi Iban. Jika hutan rusak, tradisi menenun pun ikut terancam.
Apresiasi disampaikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Yulianus Limbeng yang menekankan pentingnya pendaftaran Hak Kekayaan Komunal.
Dukungan juga datang dari Forest Watch Indonesia. Dalam penutupan festival, Mufti Fathul Barri selaku Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia menyampaikan bahwa ketika budaya lestari, alam terjaga, dan masyarakat berdaya, maka masa depan yang adil dan berkelanjutan sedang dirajut bersama.
Festival Tenun Iban Sadap menjadi pengingat bahwa masyarakat adat adalah teladan dalam menyeimbangkan hubungan dengan alam.
"Perjuangan ini membutuhkan dukungan luas, termasuk kebijakan negara yang berpihak pada pengakuan dan perlindungan masyarakat adat di Indonesia," tandas Mufti.