NEWS
Harga Plastik Naik, Ketua DPR: Momentum Beralih ke Bahan Alami
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketua DPR RI Puan Maharani mengatakan bahwa lonjakan harga plastik yang saat ini terjadi, perlu jadi momentum bagi masyarakat untuk beralih ke penggunaan kemasan dari bahan yang alami dan lebih ramah lingkungan.
Dia pun tak menampik bahwa kemasan berbahan plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena penggunaannya sangat praktis. Namun, dia mengingatkan bahwa plastik memiliki beban ekologis yang sangat tinggi.
"Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau," kata Puan di Jakarta, Rabu (15/4).
Dia menilai bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pasti tertekan atas kenaikan harga plastik itu, karena pelaku UMKM di sektor makanan dan minuman selama ini bergantung pada kemasan sekali pakai.
“Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi,” katanya.
Untuk itu, dia mendorong agar penggunaan kemasan produk dapat dikembalikan dengan model kearifan lokal. Di masa para pendahulu, kata dia, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama.
"Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” kata dia.
Dia pun mencontohkan bahwa kemasan daun pisang atau daun jati masih banyak ditemukan di sejumlah daerah, misalnya di Jawa Tengah di mana banyak penjual nasi liwet, gudeg atau mi lethek menggunakan daun untuk pembungkusnya.
Bahkan untuk jenis tertentu, menurut dia, penggunaan kemasan alami justru lebih efektif karena dapat membuat makanan lebih awet dan mengharumkan aromanya. Bahkan yang masih umum digunakan adalah pemakaian daun pisang untuk makanan seperti lontong dan lemper.
“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor, tapi juga bisa menambah nilai jual,” kata dia.
Selain itu, dia mengatakan bahwa penggunaan kemasan dari bahan organik dapat membantu agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam hal pengelolaan limbah untuk mendukung kelestarian bumi.
“Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan,” katanya.
Maka dari itu, dia meminta kementerian dan lembaga terkait menyiapkan sistem yang matang, regulasi, sekaligus sosialisasi yang masif apabila penggunaan kemasan tradisional kembali dihidupkan.
“Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai,” kata dia.
Sejumlah kementerian terkait seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Ekonomi Kreatif, menurut dia, perlu berkolaborasi mencari solusi kemasan alternatif pengganti plastik bagi pelaku usaha.
“Pemerintah perlu memberikan dukungan dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap alternatif kemasan, khususnya bagi para pelaku usaha dan konsumen. Kami di DPR akan ikut melakukan pengawasan sesuai tugas dan kewenangan dewan,” kata dia.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

