NEWS

Banjir Terparah 2026 Rendam Kubar, Bantuan Belum Menjangkau Warga

apakabar.co.id, JAKARTA - Derita warga terdampak banjir di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, kian memprihatinkan. Memasuki hari keempat sejak luapan Sungai Mahakam merendam enam kecamatan, Kamis (21/5/2026), sebagian warga di Kecamatan Long Iram mengaku masih belum menerima bantuan logistik dari pemerintah.

Di tengah kepungan banjir yang belum menunjukkan tanda-tanda surut, warga kini harus bertahan dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Kondisi diperparah oleh lumpuhnya akses transportasi darat yang membuat distribusi bantuan tersendat.

Tak sedikit warga yang terpaksa berjalan kaki menerobos banjir sedalam dada orang dewasa demi mencari kebutuhan pokok seperti beras, telur, hingga mi instan. Aktivitas sehari-hari praktis lumpuh total sejak air mulai menggenangi permukiman beberapa hari terakhir.

Salah seorang warga RT 05 Kecamatan Long Iram, Arbian Saputra, mengatakan hingga kini lingkungan tempat tinggalnya belum menerima bantuan pangan sama sekali.


“Setahu saya, di lingkungan RT 05 belum ada bantuan yang masuk. Kami sangat berharap ada distribusi logistik darurat secepatnya, terutama bahan makanan pokok seperti beras,” ujar Arbian, Kamis (21/5/2026).

Menurut pria yang akrab disapa Arbi itu, keterlambatan bantuan membuat warga harus saling membantu menggunakan persediaan seadanya. Sebagian warga bahkan mulai kesulitan mendapatkan air bersih dan kebutuhan dapur lainnya.

Kampung Anah Terendam Hingga 2,5 Meter

Arbi menjelaskan, kondisi banjir di wilayah Long Iram semakin mengkhawatirkan. Di pusat Long Iram Kota, ketinggian air berkisar antara satu hingga 1,5 meter. Namun di sejumlah kawasan pinggiran, debit air jauh lebih tinggi.

Salah satu wilayah terparah berada di Kampung Anah. Di kawasan tersebut, air dilaporkan mencapai ketinggian hingga 2,5 meter dan merendam hampir seluruh rumah warga.

Situasi darurat memaksa masyarakat melakukan evakuasi mandiri. Kendaraan bermotor, peralatan elektronik, hingga hewan ternak mulai dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi seperti kawasan Sukomulyo.

Sebagian warga memilih bertahan di rumah dengan membuat bale-bale atau panggung kayu tambahan di dalam rumah. Sementara warga yang rumahnya terendam total mulai mengungsi ke rumah kerabat maupun posko darurat.

“Saya sendiri sudah mulai mengemasi barang-barang berharga sebagai langkah antisipasi. Kalau air kembali naik, saya akan langsung mengungsi ke posko darurat di Puskesmas,” katanya.

Di tengah sulitnya kondisi logistik, warga kini dihantui ancaman lain yang tak kalah berbahaya. Banjir besar membuat sejumlah satwa liar keluar dari habitatnya dan masuk ke kawasan permukiman.

Kemunculan ular kobra menjadi ketakutan terbesar warga dalam beberapa hari terakhir. Apalagi sebagian wilayah Long Iram berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

“Ketakutan terbesar kami sekarang selain makanan adalah ular kobra. Karena rumah kami dekat hutan, ular-ular mulai sering muncul sejak banjir meninggi,” ungkap Arbi.

Warga mengaku waspada setiap saat, terutama pada malam hari ketika ular kerap terlihat berenang di sekitar rumah atau bersembunyi di sela-sela tumpukan barang yang terendam banjir.


Anak-anak dan lansia disebut menjadi kelompok paling rentan dalam situasi tersebut. Warga berharap ada bantuan evakuasi sekaligus penanganan darurat dari pemerintah maupun tim penyelamat untuk mengantisipasi ancaman satwa liar.

Banjir akibat luapan Sungai Mahakam sebenarnya menjadi fenomena musiman yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kutai Barat. Bahkan pada April lalu, banjir serupa juga sempat terjadi.

Namun kali ini, warga menyebut banjir yang terjadi merupakan yang paling parah sepanjang 2026. Tingginya curah hujan ditambah meluapnya Sungai Mahakam membuat ribuan rumah terendam dalam waktu singkat.

Hingga kini, warga masih berharap air segera surut dan bantuan logistik bisa segera menjangkau seluruh kawasan terdampak sebelum kondisi semakin memburuk.