NEWS

Iran: Tak Ada Alasan Berunding dengan Amerika Serikat

Pemerintah Iran menegaskan tidak memiliki rencana untuk membuka perundingan dengan Washington dan siap melanjutkan permusuhan yang telah berlangsung lama di antara kedua negara.
Aparat penyelamat Israel bekerja di lokasi jatuhnya rudal balistik yang ditembakkan Iran di Tel Aviv (1/3/2026). Foto: ANTARA/Xinhua
Aparat penyelamat Israel bekerja di lokasi jatuhnya rudal balistik yang ditembakkan Iran di Tel Aviv (1/3/2026). Foto: ANTARA/Xinhua
apakabar.co.id, JAKARTA - Pemerintah Iran menegaskan tidak memiliki rencana untuk membuka perundingan dengan Washington dan siap melanjutkan permusuhan yang telah berlangsung lama di antara kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Mokhber, ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam siaran televisi nasional pada Rabu (4/3). Ia menegaskan bahwa Teheran tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap Amerika Serikat.

"Tak ada kepercayaan pada Amerika, juga tak ada alasan untuk berunding," ujar Mokhber secara tegas.

Menurutnya, pengalaman sejarah telah membentuk sikap keras Iran dalam menghadapi konflik. Ia merujuk pada perang panjang antara Iran dan Irak pada 1980-1988 yang menelan korban besar di kedua belah pihak. 

Delapan tahun perang tersebut, kata Mokhber, menjadi bukti bahwa Iran mampu bertahan dalam tekanan dan konflik berkepanjangan.

"Pengalaman sejarah menunjukkan kita tak takut perang, kita tak gentar melanjutkannya," tegasnya.

Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) lalu. Target serangan dilaporkan berada di sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran.

Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa dalam serangan tersebut, Ali Khamenei dilaporkan gugur. Informasi ini memicu gelombang kemarahan di dalam negeri dan memperkeruh situasi keamanan kawasan Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) langsung bereaksi keras. Mereka bersumpah tidak akan tinggal diam atas serangan tersebut. 

IRGC menuding Amerika Serikat dan Israel sengaja menargetkan fasilitas sipil untuk menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Menurut pernyataan resmi mereka, sejumlah sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, hingga gedung pernikahan disebut menjadi sasaran. IRGC mengklaim jumlah korban jiwa warga sipil telah melampaui 700 orang, meski angka tersebut belum diverifikasi secara independen.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Langkah tersebut semakin memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.

Sikap tegas Iran yang menolak negosiasi dinilai akan menyulitkan upaya diplomasi internasional. Sejumlah pengamat khawatir, tanpa jalur dialog, situasi bisa berkembang menjadi konflik terbuka yang melibatkan lebih banyak negara.

Hubungan Iran dan Amerika Serikat memang telah lama tegang, terutama sejak berbagai sanksi ekonomi dijatuhkan Washington terhadap Teheran. Ketidakpercayaan yang mendalam membuat peluang perundingan semakin tipis.

Dengan pernyataan terbaru ini, Iran menunjukkan bahwa mereka memilih jalur konfrontasi ketimbang diplomasi. Dunia internasional kini menunggu apakah akan ada upaya mediasi dari negara lain untuk meredakan situasi, atau justru konflik akan terus berlanjut dengan eskalasi yang lebih besar.