LIFESTYLE

Menopause Bisa Mempengaruhi Otak, Ini Temuan Ilmuwannya

Ilustrasi seorang perempuan menedeirita menopause yang berisiko mempengaruhi penyakit otak menyerupai Alzheimer. Foto: femtechworld.co.uk
Ilustrasi seorang perempuan menedeirita menopause yang berisiko mempengaruhi penyakit otak menyerupai Alzheimer. Foto: femtechworld.co.uk
apakabar.co.id, JAKARTA – Menopause kini tak hanya dipandang sebagai fase alami dalam kehidupan perempuan, tetapi juga mulai dikaitkan dengan perubahan struktural pada otak yang menyerupai ciri awal penyakit Alzheimer. 

Hal ini terungkap dalam sebuah studi besar di Inggris yang melibatkan hampir 125.000 perempuan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa menopause berkaitan dengan berkurangnya materi abu-abu di sejumlah area otak yang berperan penting dalam memori, pembelajaran, dan pengaturan emosi. 

Perubahan ini mirip dengan pola yang sering ditemukan pada pasien Alzheimer.
Dari total peserta, sekitar 11.000 perempuan menjalani pemindaian otak menggunakan MRI. Hasilnya memperlihatkan perbedaan signifikan pada beberapa wilayah otak utama, termasuk hipokampus, korteks entorhinal, dan korteks cingulata anterior.

Hipokampus dikenal sebagai pusat pembelajaran dan penyimpanan memori, sementara korteks entorhinal berperan dalam pembentukan ingatan dan navigasi spasial. 


Adapun korteks cingulata anterior membantu mengatur perhatian serta emosi. Ketiga wilayah ini juga merupakan area yang paling awal terdampak pada penyakit Alzheimer.

Profesor Barbara Sahakian dari Universitas Cambridge, selaku penulis senior penelitian ini, mengatakan bahwa temuan tersebut memberikan petunjuk penting mengenai kerentanan perempuan terhadap demensia di usia lanjut.

“Wilayah otak tempat kami melihat perbedaan ini cenderung terpengaruh oleh penyakit Alzheimer,” ujar Sahakian dikutip bbc.com, Selasa (27/1).

“Menopause dapat membuat sebagian perempuan lebih rentan di kemudian hari. Meskipun ini bukan keseluruhan cerita, temuan ini mungkin membantu menjelaskan mengapa hampir dua kali lebih banyak kasus demensia terjadi pada perempuan dibandingkan pria,” lanjutnya. 

Penelitian ini juga menyoroti peran terapi penggantian hormon atau hormone replacement therapy (HRT). Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine tersebut, penggunaan HRT tidak tampak mencegah hilangnya materi abu-abu di otak.

Selain itu, perempuan yang menjalani HRT tercatat lebih sering mengalami masalah kesehatan mental. Namun, para peneliti menegaskan bahwa banyak di antara mereka sudah memiliki gangguan kesehatan mental sebelum terapi hormon diresepkan, sehingga hubungan sebab-akibat masih belum dapat dipastikan.

Materi abu-abu dan materi putih sendiri merupakan komponen penting sistem saraf pusat. Materi abu-abu terdiri dari badan sel neuron dan dendrit yang berfungsi memproses informasi, sementara materi putih berisi akson panjang yang menghubungkan berbagai wilayah otak dan sumsum tulang belakang.

Dr. Christelle Langley, rekan peneliti dalam studi ini, menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap dampak menopause, bukan hanya secara fisik tetapi juga mental.

“Banyak kesulitan dapat muncul selama masa menopause,” kata Langley.
“Kita semua perlu lebih peka terhadap kesehatan mental perempuan selama periode ini. Tidak perlu merasa malu untuk berbagi pengalaman dan meminta bantuan,” ujarnya. 

Pandangan serupa disampaikan Michelle Dyson dari Alzheimer’s Society. Ia menyebutkan bahwa perempuan menyumbang sekitar dua pertiga dari total penderita penyakit Alzheimer di Inggris.

“Meskipun kita belum sepenuhnya memahami mengapa perempuan lebih rentan, hormon diperkirakan memainkan peran penting,” ujarnya. “Studi besar ini menambah bukti bahwa menopause memengaruhi otak, termasuk perubahan fisik seperti berkurangnya volume otak,” sambungnya.


Namun demikian, Dyson mengingatkan bahwa penelitian ini belum dapat memastikan apakah perubahan otak yang terkait menopause benar-benar meningkatkan risiko demensia di masa depan. 

Hal itu disebabkan belum adanya pelacakan jangka panjang terhadap partisipan untuk melihat apakah mereka kemudian mengembangkan penyakit tersebut.

Sebagai langkah pencegahan, para ahli tetap merekomendasikan gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga, tidak merokok, serta membatasi konsumsi alkohol, yang diketahui dapat membantu menurunkan risiko demensia.

Temuan ini diharapkan dapat membuka diskusi lebih luas mengenai kesehatan otak perempuan dan mendorong penelitian lanjutan untuk memahami hubungan kompleks antara menopause, hormon, dan risiko penyakit neurodegeneratif di kemudian hari.