NEWS
[ANALISIS] Mencari Penyebab Terjadinya Longsor di Cisarua
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Geologi mengungkapkan bencana tanah bergerak yang menimbun 30 hektare lahan di Desa Pasilangu, Cisarua, Bandung Barat, tidak hanya sekadar bencana hidrometeorologi semata.
Berdasarkan analisis Badan Geologi, kombinasi geologi purba dan kejenuhan air tanah menjadi penyebabnya. Akibat dari kondisi tersebut turut memicu kegagalan lereng di kawasan cukup padat penduduk tersebut.
"Karakteristik tanah di lokasi kejadian, sebuah bom waktu geologis yang akhirnya meledak," Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria, Senin (26/1).
Berdasarkan analisis data sekunder dan deskwork terkini, Lana menjelaskan lokasi bencana yang berada di koordinat LS 6,796861° dan BT 107,539694° ini berdiri di atas satuan batuan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).
"Satuan ini umumnya terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat," ujar dia.
Pelapukan lanjut pada batuan vulkanik ini, menurunkan kuat geser tanah secara drastis. Situasi diperparah oleh keberadaan struktur geologi berupa sesar dan rekahan berarah barat laut-tenggara.
Celah-celah mikroskopis ini menjadi jalan tol bagi air hujan untuk menyusup jauh ke dalam tanah, menciptakan bidang-bidang lemah yang siap menggelincirkan jutaan ton material tanah kapan saja.
Faktor pemicu utama yang tak terelakkan adalah curah hujan tinggi. Infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah pelapukan menyebabkan peningkatan tekanan air pori (pore water pressure) yang signifikan.
Ketika tekanan air ini meningkat, daya ikat (kohesi) tanah melemah. Pada saat gaya pendorong lereng melebihi gaya penahan, terjadi pergerakan massa tanah dan batuan mengikuti bidang gelincir yang berkembang pada zona lemah.
Hal ini, menjelaskan mekanisme teknis mengapa longsoran mencakup luasan yang begitu besar.
Selain faktor alam, aktivitas manusia turut mempercepat proses ini. Tata guna lahan yang didominasi permukiman dan pertanian, ditambah pemotongan lereng untuk jalan tanpa sistem drainase memadai, telah mengganggu kestabilan lereng alami yang kemiringannya mencapai lebih dari 40 derajat di beberapa titik.
Mengingat lokasi kejadian masuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah dalam Peta ZKGT, tim teknis mengeluarkan rekomendasi krusial yang wajib dipatuhi demi mencegah bertambahnya korban jiwa.
Rekomendasi teknis menegaskan agar masyarakat di sekitar lokasi terdampak segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Potensi longsoran susulan masih sangat tinggi, terutama karena struktur tanah yang sudah terganggu.
"Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras," jelasnya.
Faktor Lainnya
Sementara itu, Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heriwaseso mempunyai analisis tersendiri. Alih fungsi lahan bukan faktor utama longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, melainkan akibat morfologi lereng yang curam dan curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan kajian awal yang telah dilakukan menunjukan pergerakan tanah dipengaruhi kombinasi faktor alam, mulai dari kemiringan lereng, karakter tanah, hingga sistem drainase alami di lokasi kejadian.
“Faktor alih fungsi lahan memang berpengaruh, tetapi kita melihat sumbernya. Sumbernya ini di morfologi yang sangat curam. Kita bisa melihat bahwa di samping curam tanahnya, juga sangat gembur," ujarnya.
Ia menjelaskan dari hasil identifikasi, terdapat perbedaan morfologi yang sangat signifikan antara bagian atas dan bawah lereng dengan kemiringan mencapai 30–40 derajat di bagian atas, lalu menurun ke 20–30 derajat di bagian bawah, sehingga memicu massa tanah bergerak ke arah lembah.
Selain morfologi, faktor material tanah juga berperan besar, karena terbentuk dari endapan vulkanik yang sangat tebal, diperkirakan lebih dari 15 meter, dengan sifat gembur dan mudah jenuh air.
“Tanah vulkanik yang tebal ini mengalami penjenuhan akibat curah hujan tinggi, sehingga kekuatan tanah melemah dan mudah terbawa ke bagian lereng bawah,” katanya.
Badan Geologi juga menyoroti peran drainase alami yang menyebabkan material longsoran meluncur dengan jarak tempuh cukup jauh dan membuat air hujan terkumpul dalam satu jalur drainase sempit membawa tanah dan batuan secara bersamaan, sehingga menciptakan daya erosi yang kuat.
“Kondisi lembah yang sempit mempercepat aliran material. Saat mencapai area yang lebih landai, material kemudian menyebar mengikuti jalur sungai yang sudah ada,” ucapnya.
Terkait tipe longsoran, Badan Geologi juga menyebut kategori peristiwa longsor ini sebagai aliran bahan rombakan, yakni pergerakan campuran tanah dan batuan dengan dominasi material berbutir halus menyebabkan longsoran dapat meluncur lebih jauh.
Pada kesempatan tersebut, ia menyebut curah hujan ekstrem mencapai 200 milimeter per hari juga menjadi faktor utama lainnya dalam longsor tersebut.
"Sumber utama longsoran berada di morfologi yang sangat curam dengan tanah yang gembur. Pemicu hujan ekstrem yang berdasarkan data BMKG mencapai lebih dari 200 milimeter per hari, sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi,” ujarnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY



