OPINI

Memahami Disleksia, Gangguan Belajar Anak yang Sering Disalahpahami

Foto ilustrasi anak-anak mengalami disleksia. Foto: Klik Dokter
Foto ilustrasi anak-anak mengalami disleksia. Foto: Klik Dokter
Oleh: A. Roni Kurniawan*

Di sebuah sekolah di daerah Bogor, seorang anak remaja masih duduk di bangku kelas 4, padahal usianya seharusnya sudah berada di kelas 7.

Tahun demi tahun ia mengikuti pelajaran, mendapat tambahan jam belajar, bahkan mengikuti kelas tambahan. Namun satu hal tak berubah bahwa ternyata ia belum mampu membaca dan menulis.

Di luar itu, ia tampak seperti anak lain yang berbicara dengan lancar, mampu bercanda, memahami instruksi lisan, dan berinteraksi dengan baik. Tidak ada yang aneh dari penampilannya. Yang berbeda hanya satu yakni ketika berhadapan dengan huruf dan teks, ia seperti tersesat di dunia yang tidak ia pahami.

Hal yang lebih mengusik adalah fakta bahwa para guru di sekolah tersebut tidak mengenal istilah disleksia. Padahal, dengan mencari secara sederhana di internet tentang penyebab anak tidak bisa membaca dan menulis, istilah itu akan muncul.

Ketidaktahuan inilah yang sering kali menjadi akar masalah. Bukan pada diri anak, melainkan pada sistem yang belum siap memahami keragaman cara belajar.
International Dyslexia Association menjelaskan bahwa disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang ditandai dengan kesulitan dalam membaca dan atau mengeja kata. Disleksia bukan penyakit, melainkan kondisi neurobiologis yang sudah ada sejak lahir.

Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya disleksia, antara lain kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah, riwayat keluarga dengan disleksia, paparan nikotin, alkohol, NAPZA, atau infeksi selama kehamilan, serta cedera atau kelainan pada struktur otak yang berfungsi mengolah bahasa dan kata.

Kondisi ini membuat seseorang mengalami kesulitan mengenali huruf, menghubungkan huruf dengan bunyi, membaca, mengeja, dan menulis.

Namun satu hal penting harus ditegaskan bahwa disleksia tidak berkaitan dengan kecerdasan. Banyak individu dengan disleksia justru memiliki kemampuan berpikir logis, kreativitas tinggi, dan kecerdasan luar biasa.

Sejarah mencatat nama-nama seperti Albert Einstein, Leonardo da Vinci, dan Steve Jobs sebagai tokoh yang diketahui memiliki disleksia. Di dunia hiburan internasional ada Whoopi Goldberg dan Tom Cruise.
Di Indonesia, Deddy Corbuzier, Aska, serta Tamara Bleszynski juga terbuka mengenai kondisi tersebut. Mereka bahkan bukan sekadar bertahan, tetapi mampu menggali potensi uniknya dan berprestasi di bidang masing-masing.

Pertanyaannya, bagaimana jika seorang anak dengan disleksia tidak dipahami, bahkan dicap bodoh atau malas? Label semacam itu bisa menjadi luka yang jauh lebih dalam dibanding kesulitan membaca itu sendiri.

Kehilangan Peluang

Anak yang terus-menerus gagal tanpa penjelasan akan mulai meragukan dirinya. Rasa rendah diri, kecemasan, depresi, hingga penolakan terhadap sekolah dapat muncul. Dalam kasus ekstrem, anak bisa memilih putus sekolah dan kehilangan peluang masa depan.

Padahal, tanda-tanda awal disleksia sebenarnya dapat diamati sejak dini. Pada usia prasekolah, anak mungkin sulit mengingat nama huruf, sering tertukar antara huruf b dan d, p dan q, atau m dan n.

Mereka kesulitan membedakan bunyi yang mirip seperti b dan d, sulit menghafal lirik lagu, atau kesulitan menyebutkan urutan angka dan huruf.

Ketika mulai belajar membaca, anak dengan disleksia mungkin membaca sangat lambat, terbata-bata, salah mengucapkan kata seperti membaca bisa menjadi bias, atau mengeja dengan pola yang tidak konsisten.
Menulis dan menyalin teks panjang menjadi tugas yang melelahkan. Namun dalam kemampuan lisan, diskusi, atau aktivitas non-baca tulis, mereka sering menunjukkan performa yang jauh lebih baik.

Disleksia tidak terlihat dari fisik atau perilaku sosial. Inilah yang membuat banyak orang keliru menilai. Karena tampak normal, anak dianggap kurang berusaha.

Sistem pendidikan yang seragam cenderung mengukur semua anak dengan cara yang sama, tanpa menyadari bahwa cara kerja otak setiap anak berbeda.

Pendekatan terhadap disleksia bukanlah menyembuhkan, melainkan mengelola. Dengan metode yang tepat, anak dengan disleksia dapat belajar membaca dan menulis secara fungsional. Langkah awal adalah identifikasi dini.
Bila tanda-tanda yang disebutkan muncul secara konsisten, orang tua dan guru sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau ahli pendidikan khusus. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang intervensi efektif.

Penguatan psikologis juga sangat penting. Anak perlu diyakinkan bahwa dirinya cerdas dan berharga. Kalimat sederhana seperti kamu hanya belajar dengan cara berbeda dapat mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.

Dukungan emosional dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar menjadi fondasi yang tidak kalah penting dibanding teknik belajar.

Metode Fonik

Dalam praktik pembelajaran, metode fonik multisensori seperti Orton Gillingham terbukti membantu. Anak diajak melihat bentuk huruf, mendengar bunyinya, mengucapkannya, dan menelusuri bentuk huruf dengan tangan.

Proses ini dilakukan bertahap, dimulai dari huruf kecil, memberi perhatian khusus pada huruf yang mirip, lalu berlanjut ke suku kata sederhana, kalimat pendek, dan seterusnya. Kuncinya adalah konsistensi dan kesabaran, tanpa tekanan dan tanpa memaksakan kecepatan.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan secara bijak. Fitur text to speech, speech to text, buku audio, hingga kecerdasan buatan dapat menjadi alat bantu yang membuka akses terhadap informasi tanpa menjadikan teks sebagai penghalang utama. Dalam era digital, dukungan semacam ini seharusnya semakin mudah diakses.

Namun upaya individu tidak cukup. Sekolah perlu memiliki mekanisme skrining dan rujukan yang jelas, bukan sekadar menambah jam les. Guru perlu dibekali pengetahuan tentang disleksia dalam pelatihan formal.
Pemerintah melalui dinas pendidikan dapat memasukkan materi ini dalam kurikulum pelatihan guru, menyediakan modul nasional, memperkuat keberadaan guru pendidikan khusus, serta mengatur akomodasi resmi dalam evaluasi akademik bagi siswa dengan disleksia.

Tanpa kebijakan sistemik, anak-anak ini akan terus menjadi korban senyap dalam statistik pendidikan. Memberikan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak lalu membiarkannya tertinggal bertahun-tahun bukan hanya persoalan teknis.

Itu adalah kegagalan memahami hak dasar anak untuk belajar sesuai potensinya. Disleksia bukan tragedi. Ketidaktahuanlah yang menjadikannya tragedi.

Setiap anak berhak dipahami, bukan diseragamkan. Dari anak-anak dengan disleksia bisa lahir inovator, ilmuwan, seniman, atau pemimpin masa depan.

Sejarah sudah membuktikannya. Tantangannya kini bukan pada kemampuan mereka, melainkan pada kesiapan kita sebagai orang dewasa dan sebagai sistem pendidikan untuk melihat, mengenali, dan mendampingi dengan cara yang tepat. Masa depan anak-anak itu tidak boleh ditentukan oleh ketidaktahuan kita hari ini.

*) Praktisi Pendidikan, Trainer/Educator di Yamjaya, dan Pengembang Metode Edukasi Praktis berbasis Psikologi pada Rumah Belajar Bersama (Rbebe)