OPINI

Jejak Banjir Bandang Menggerus Hutan di Hulu

Suasana permukiman Jorong Kayu Pasak yang rusak akibat banjir bandang di Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). Foto: Antara
Suasana permukiman Jorong Kayu Pasak yang rusak akibat banjir bandang di Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). Foto: Antara
Oleh: Dian Fiantis*

Citra satelit memantau perubahan Bumi dari waktu ke waktu dengan setia. Dengan membandingkan citra sebelum dan sesudah kejadian, kita dapat membaca perubahan permukaan bumi akibat bencana alam di suatu kawasan.

Pada 4 Oktober 2025, ketika Satelit Sentinel-2 memotret hulu Batang Kuranji di Kota Padang, Sumatra Barat, dari ketinggian orbit sekitar 786 kilometer, bentang alam yang terlihat adalah hamparan hijau tua yang tertata rapi. Hutan masih tertutup vegetasi alami berupa pepohonan tinggi dengan tajuk rapat.

Alur sungai tampak sempit dan gelap, menandakan air yang masih jernih. Lereng bukit tertutup vegetasi hijau yang menyatu rapi. Batas hutan, semak, dan lahan budidaya mengikuti bentuk lereng dengan jelas. Di lembah, belum terlihat endapan baru; tanah masih berada di tempatnya.

Tanah menyerap butiran air hujan, menyimpannya, lalu melepaskannya perlahan ke sungai. Air mengalir tenang, dan tanah tetap berada di lerengnya. Itulah gambaran DAS Batang Kuranji yang masih berfungsi baik sebelum bencana hidrometeorologis melanda Kota Padang pada 26–27 November 2025.

Namun pada 1 Februari 2026, setelah didapatkan citra satelit yang bebas awan pada citra warna alami (true color), sensor merekam perubahan tutupan lahan di hulu. Permukaan yang semula hijau kini menampakkan bagian-bagian cokelat terang, terutama di lereng sepanjang tepi sungai. Ini menandakan areal yang tadinya hutan lebat kini menjadi lahan terbuka. Sungai tampak melebar dan keruh, lereng menunjukkan tanah terbuka, dan alur limpasan baru memotong rona vegetasi.

Jejak Bencana

Ketajaman citra warna alami terlihat dari tampilannya yang apa adanya. Tanah yang baru terbuka tampak coklat terang, minim vegetasi, dan masih basah sehingga kontras dengan hijau di sekitarnya. Tanpa perhitungan rumit, perubahan yang terjadi dapat langsung terlihat. Citra menjadi arsip visual yang jujur tentang di mana tanah hilang dan di mana tanah menumpuk.

Perubahan warna ini bukan sekadar perbedaan estetika pada foto satelit. Perubahan tersebut adalah rekaman peristiwa geomorfologi: tanah yang terlepas dari lereng, diangkut air, lalu dihamparkan kembali di lembah hingga hilir. Air hujan dan sungai tidak lagi sekadar mengalirkan air, tetapi juga memindahkan tanah dari lereng atas ke lembah sampai hilir.

Analisis indeks vegetasi (NDVI) menunjukkan sekitar 80 hektare hutan hilang, area yang tadinya didominasi vegetasi hijau menjadi tanah terbuka atau endapan lumpur. Tanah yang kehilangan penutup vegetasi ini menjadi sangat mudah tererosi. Analisis ini menunjukkan bahwa bagian hulu tidak lagi mampu menahan tanahnya saat hujan ekstrem datang.
Untuk sungai, berdasar analisis indeks air seperti NDWI (Normalized Difference Water Index) yang dikombinasikan dengan kanal SWIR (Short Wave Infra Red), luas aliran sungai di hulu DAS Batang Kuranji yang diteliti membesar dari sekitar 37 hektare menjadi 153 hektare.

Pelebaran koridor sungai hingga 153 hektare tergolong besar secara geomorfik karena dalam kondisi normal sungai hanya menempati sebagian kecil bentang alam. Perubahan sebesar ini menandakan sungai meluap keluar alurnya, mengangkut dan mengendapkan sedimen dalam jumlah besar. Ketika hujan ekstrem, sungai tidak lagi hanya mengalirkan air, tetapi telah menjadi dataran banjir.

Ketika koridor sungai telah melebar hingga 153 hektare, sungai berada dalam kondisi belum stabil: tebing rapuh dan endapan longgar. Saat hujan normal, sungai tetap keruh dan dasar sungai perlahan meninggi. Ketika hujan deras, alur lebih mudah bergeser dan banjir cepat meluas. Andaikan hujan ekstrem, risiko berulangnya banjir bandang sangat besar.

Dampak Lebih Dalam

Banjir bandang di Kota Padang sudah mengubah hulu Batang Kuranji menjadi terbuka. Kondisi ini membuat kemampuan tanah menyerap dan menahan air hujan menurun drastis, sehingga aliran permukaan meningkat lebih cepat saat hujan turun.

Lereng yang kehilangan penutup vegetasi juga menjadi lebih rentan terhadap erosi dan longsor, yang pada gilirannya menambah beban sedimen ke sungai. Akibatnya, kawasan DAS Batang Kuranji kini berada pada tingkat kerawanan yang lebih tinggi terhadap banjir susulan di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Dampak serupa juga terlihat di Kabupaten Agam, ketika banjir bandang membuka tutupan lahan di bagian hulu sehingga tanah kehilangan kemampuan alaminya menahan air hujan. Di Aceh Tamiang, limpasan permukaan meningkat tajam setelah vegetasi rusak, mempercepat erosi dan pengangkutan sedimen ke badan sungai. 

Sementara itu di Kabupaten Tapanuli Tengah, perubahan serupa membuat kawasan hulu menjadi lebih rentan terhadap banjir berulang saat musim hujan dan penurunan debit air pada musim kemarau.

Dari dua citra satelit dengan resolusi temporal berbeda, kita bisa membaca kisah besar tentang bagaimana hutan, tanah, air, dan sungai saling terhubung, serta bagaimana perubahan di hulu menentukan nasib di hilir.
Perhatian terhadap bencana tidak boleh hanya muncul ketika air sudah meluap atau lereng sudah runtuh. Upaya ini harus dimulai jauh sebelumnya dengan menjaga tutupan lahan dan fungsi tanah. Pascabencana pemulihan hulu DAS dilakukan melalui revegetasi cepat dengan tanaman lokal seperti bambu, pengendalian erosi di lereng, serta penataan kembali sempadan sungai agar fungsi resapan dan penahan aliran permukaan pulih bertahap.

Menjaga tutupan vegetasi alami di lereng dan menghentikan pembukaan hutan, meski demi alasan ekonomi, adalah pilihan yang perlu kita ambil bersama.

Sudah saatnya kita melakukan aksi yang seirama memulihkan lingkungan yang rusak, baik akibat proses alami maupun ulah manusia.

*) Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas