OPINI

Riset sebagai Ruh Industrialisasi dan Kompas Pembangunan

Foto ilustrasi peneliti sedang melakukan riset. Foto: Pixabay
Foto ilustrasi peneliti sedang melakukan riset. Foto: Pixabay
Oleh: Eko Wahyuanto*

Gagasan bernas dan teknokratis disodorkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam berbagai forum publik belakangan ini.

Sebuah konsep fundamental yang memposisikan riset bukan sekadar lampiran administratif, melainkan ruh dan mesin penggerak dalam setiap proyek infrastruktur fisik maupun pembangunan sumber daya manusia.

Premisnya rasional: Indonesia tidak akan pernah bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) jika hanya mengandalkan otot tanpa sentuhan otak. Riset bukan sekadar tugas akademik yang berakhir menjadi dokumen usang di rak perpustakaan, melainkan jantung industrialisasi yang memberikan nilai tambah pada setiap gerak langkah pembangunan.

Belajar dari The Miracle on the Han River. Bagaimana riset mampu mengubah nasib sebuah bangsa? Tengoklah Korea Selatan. Pada era 1960-an, PDB per kapita mereka berada di bawah Indonesia dan beberapa negara di Afrika. Namun, mereka melakukan langkah yang dianggap "gila" saat itu: Investasi besar-besaran pada riset dan pengembangan (R&D).

​Korea Selatan mengalokasikan hampir 5 persen dari PDB-nya untuk R&D, salah satu yang tertinggi di dunia. Mereka berhenti mengekspor komoditas mentah dan beralih ke teknologi tinggi, mulai dari chip semikonduktor, otomotif, hingga reaktor nuklir. Riset bagi mereka adalah nyawa dan harga diri bangsa.
​Pakar ekonomi dari Harvard University, Ricardo Hausmann, dalam teorinya tentang Economic Complexity, sering menekankan bahwa kemakmuran sebuah negara tidak ditentukan oleh jumlah sumber daya alamnya, tetapi oleh jumlah pengetahuan kolektif yang dimiliki.

Hausmann berpendapat bahwa negara yang maju adalah negara yang mampu merangkai pengetahuan (riset) menjadi produk-produk yang kompleks.

Jika Indonesia hanya mampu menjual apa yang digali dari tanah, kita akan tertinggal oleh negara yang mampu mengolah data dan atom menjadi inovasi.

​Maka, relevansi pernyataan Satryo sangat kuat: Perguruan tinggi harus menjadi agen pembangunan ekonomi. Harus ada hilirisasi, sebuah "perkawinan paksa" antara laboratorium kampus dan lantai pabrik industri.

Paradigma Baru

Cara pandang masyarakat yang menganggap perguruan tinggi hanya sebagai sekolah lanjutan setelah SMA adalah kekeliruan besar. Perguruan tinggi tanpa riset hanyalah pabrik penghasil ijazah. Dosen tanpa riset hanya akan mengajarkan pengetahuan masa lalu tanpa keberanian menatap masa depan, apalagi terlibat memecahkan problem bangsa.

Dalam perspektif Mariana Mazzucato, profesor dari University College London dan penulis buku The Entrepreneurial State, riset dasar yang didanai negara adalah kunci dari inovasi besar dunia.

Mazzucato membuktikan bahwa hampir semua teknologi di dalam iPhone; mulai dari GPS, layar sentuh, hingga Siri, adalah hasil riset yang didanai pemerintah. Hal ini mengoreksi pandangan sempit bahwa riset adalah beban anggaran; riset justru adalah investasi strategis yang menciptakan pasar baru.

Di Indonesia, transisi ini memerlukan nyali politik. Investasi di bidang sains bersifat jangka panjang (long-term investment) yang terkadang tidak sejalan dengan tren politik lima tahunan. Namun, jika ingin mencapai Indonesia Emas 2045, kita harus mulai berinvestasi pada deep tech—teknologi berbasis riset mendalam— agar kita tidak melulu menjadi pasar bagi bangsa lain.

Kesenjangan dan Realitas

Persoalan berikutnya adalah talenta. Indonesia membutuhkan sedikitnya 17 juta talenta digital hingga 2030, namun faktanya kita kekurangan sekitar 600 ribu orang per tahun. Kebijakan micro-credential dan kolaborasi dengan raksasa teknologi seperti Google atau Intel adalah langkah taktis yang patut diapresiasi.

Namun, ada tantangan psikologis dan hukum yang menghambat: bagaimana ekosistem kita menghargai kegagalan riset? Di negara maju, kegagalan adalah bagian dari proses iterasi untuk menemukan kebaruan.

Amy Edmondson, pakar manajemen dari Harvard Business School, menyebut ini sebagai psychological safety. Tanpa rasa aman untuk gagal, peneliti tidak akan pernah berani melakukan eksperimen radikal.
Di sini, kegagalan riset kerap dicurigai sebagai kerugian negara yang berujung pada investigasi aparat penegak hukum. Ketakutan akan delik korupsi dalam kegagalan sains harus dihilangkan jika kita ingin para peneliti melakukan lompatan besar. Inovasi membutuhkan ruang untuk salah.

Menghubungkan riset dengan Astacita nomor 5 tentang hilirisasi dan industrialisasi adalah langkah prestisius. Indonesia tidak bisa terus-menerus bangga mengekspor nikel mentah atau CPO. Nilai tambahnya ada pada sentuhan teknologi pengolahannya. Jika teknologi terus kita impor, maka keuntungan terbesar pembangunan akan tetap lari ke luar negeri.

Pakar strategi bisnis Michael Porter pernah menekankan tentang competitive advantage. Ia berpendapat bahwa keunggulan kompetitif tidak lagi didasarkan pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan pada kemampuan inovasi untuk meningkatkan produktivitas. Jepang, misalnya, mampu mengekspor produk pertanian dengan nilai tambah tinggi berkat riset genomik dan teknologi pascapanen.

Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa; potensi ekonomi genomik jika dikelola dengan riset serius bisa menjadi sumber pertumbuhan baru yang jauh lebih berkelanjutan daripada lubang tambang. 

Tugas berat Satryo Soemantri Brodjonegoro adalah melakukan "revolusi mindset" di birokrasi dan industri. Riset bukan hanya pilar industrialisasi, tetapi juga strategi keamanan nasional. Bangsa yang tidak menguasai teknologi akan selalu didikte oleh bangsa lain.
​Indonesia tidak butuh lebih banyak gedung megah di kampus jika di dalamnya tidak ada perdebatan ilmiah yang menghasilkan invensi. Kampus butuh keberanian mengalokasikan anggaran riset yang signifikan, penyederhanaan birokrasi penelitian, dan memastikan industri mau menanamkan modalnya di laboratorium-laboratorium mereka.

Jika pesan-pesan dari Menteri yang profesor riset itu hanya dianggap angin lalu, mimpi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi narasi indah dalam seminar-seminar, bukan menjadi lapangan kerja di industri atau makanan bergizi di meja makan rakyat.

Mari kita kawal nyali industrialisasi berbasis riset ini agar menjadi kebijakan nyata demi kedaulatan bangsa.

*) Dosen dan pengamat kebijakan publik