LIFESTYLE
Boleh Pakai Paylater Asal Tahu Triknya
Jika tidak dikelola dengan hati-hati, layanan yang awalnya membantu justru bisa menjadi bumerang yang menjerat keuangan jangka panjang.
apakabar.co.id, JAKARTA - Di era serba digital seperti sekarang ini, tren "beli dulu, bayar belakangan" alias paylater semakin akrab. Hanya dengan beberapa klik, barang impian sudah bisa didapat tanpa perlu uang tunai di tangan.
Fitur ini tersebar luas di platform belanja, travel, hingga hiburan, dan sangat digemari terutama oleh kalangan muda dan pekerja.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, tersembunyi risiko besar yakni penumpukan utang. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, layanan yang awalnya membantu justru bisa menjadi bumerang yang menjerat keuangan jangka panjang.
Perencana keuangan, Rista Zwestika, menekankan bahwa kunci menggunakan paylater secara sehat adalah memahami jenis utang. Utang terbagi dua yakni utang produktif dan utang konsumtif.
Utang produktif merupakan utang yang digunakan untuk hal yang justru menghasilkan pemasukan atau meningkatkan nilai aset. Contoh: membeli laptop secara cicilan untuk freelance editing video, yang hasil kerjanya menghasilkan income lebih besar daripada cicilannya.
Adapun utang konsumtif digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat yang tidak menghasilkan tambahan penghasilan. Misalnya, membeli pakaian merek mahal atau gadget terbaru hanya untuk gaya (flexing) tanpa kebutuhan riil.
"Flexing tidak serta-merta membuat seseorang bertambah income-nya," tegas Rista. Intinya, utang sebaiknya dialokasikan untuk hal yang produktif atau mendesak, bukan sekadar keinginan.
Rista menjelaskan prinsip penting sebelum memakai paylater. Menurutnya, berutang boleh saja asal mematuhi rambu-rambu berikut, yakni cicilan maksimal 30%.
Total semua cicilan (termasuk paylater, KPR, kredit kendaraan) tidak boleh melebihi 30% dari penghasilan bulanan. “Lebih dari itu, kestabilan keuangan akan terganggu,” katanya.
Setelah itu, siapkan dana darurat yang berfungsi sebagai penyangga keuangan saat kondisi tak terduga terjadi. Sayangnya, saat ini, banyak orang tergantung pada paylater karena tidak punya dana darurat.
“Dana ini adalah penyangga untuk kebutuhan mendadak, sehingga kita tidak serta-merta berutang,” paparnya.
Juga lakukan financial check-up. Pastikan sumber pembayaran cicilan jelas dan sudah dialokasikan dalam anggaran bulanan.
Kata Rista, perlu bertanya pada diri sendiri: "Jika suatu saat gagal bayar, adakah aset yang bisa dijual atau solusi lain?" Pertanyaan ini sering terabaikan saat tergiur promo.
Hal lainnya, siapkan mental. Risiko utang bukan hanya finansial, tetapi juga mental. Tekanan penagihan, kecemasan, dan konflik personal bisa muncul.
"Kalau tidak siap menghadapi konsekuensi seperti tekanan psikologis, sebaiknya jangan berutang," imbau Rista.
Menurut Rista, paylater adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia alat yang memudahkan transaksi dan bisa membantu cash flow. Di sisi lain, ia adalah jebakan jika digunakan tanpa kendali.
Literasi keuangan dan kedisiplinan adalah tameng terbaik. Selalu evaluasi, apakah ini kebutuhan atau keinginan? Produktif atau konsumtif? Apakah saya sanggup membayarnya tanpa mengganggu kebutuhan pokok?
Dengan fondasi perencanaan yang matang, dana darurat, dan pemahaman risiko, Anda bisa memanfaatkan paylater sebagai alat bantu, bukan menjadi budaknya.
“Ingat, utang yang tidak terkelola akan menggerogoti kantong dan ketenangan pikiran Anda,” tandasnya.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK