LIFESTYLE
Cuaca Panas Ekstrem, "Heat Stroke" Mengintai Anak
apakabar.co.id, JAKARTA - Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Siti Rizki Fauziah mengingatkan orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko heat stroke pada anak di tengah cuaca panas ekstrem.
Siti Rizki mengatakan anak-anak memiliki kerentanan lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena sistem pengaturan suhu tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
"Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, sehingga sistem regulasi tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa. Kondisi panas yang berlangsung terus-menerus memberikan beban lebih besar bagi tubuh anak," ujarnya di Jakarta, Senin (15/6).
Menurut dia, kerentanan tersebut dipengaruhi oleh faktor fisiologis, dimana luas permukaan tubuh anak relatif lebih besar dibandingkan berat badannya, sehingga tubuh mereka lebih cepat menyerap panas dari lingkungan sekitar.
Selain itu produksi panas metabolik anak saat beraktivitas fisik cenderung lebih tinggi, sementara mekanisme pendinginan melalui penguapan keringat belum bekerja seefektif orang dewasa. Hal tersebut membuat proses pelepasan panas menjadi kurang efisien.
Siti Rizki menambahkan faktor perilaku juga menjadi perhatian. Anak-anak sering kali terlalu fokus bermain, sehingga mengabaikan tanda-tanda awal kelelahan akibat panas (heat exhaustion) seperti haus, pusing, atau rasa lemas.
"Heat stroke harus dipandang sebagai kondisi kegawatdaruratan medis yang serius karena merupakan kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh. Jika tidak segera ditangani, dapat mengganggu fungsi organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal," tegasnya.
Gejala awal heat exhaustion yang perlu diwaspadai orang tua meliputi keringat berlebihan, pusing, sakit kepala, lemas, mual, muntah, serta kram otot. Jika kondisi berkembang menjadi heat stroke, anak akan menunjukkan perubahan perilaku, seperti kebingungan, sulit berkomunikasi, mengantuk berlebihan, hingga pingsan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sebelumnya juga telah mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi dan balita, untuk menjaga hidrasi dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari langsung guna mengantisipasi dehidrasi ekstrem dan heat stroke.
"Bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan. Kewaspadaan orang tua sangat penting agar tanda-tanda awal gangguan akibat panas dapat dikenali lebih dini sebelum menjadi kondisi yang lebih berbahaya," pungkasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

