EKBIS

Tarif AS Picu Kepanikan Global, Investor Kabur ke Aset Aman

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menjelaskan investor global membaca kebijakan tarif AS sebagai sumber volatilitas kebijakan atau policy uncertainty.
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berdialog dengan Presiden AS Donald J. Trump dalam kerja sama perdagangan timbal balik di Washington D.C, AS, Kamis (19/2/2026). Foto: Sekretariat Kabinet
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berdialog dengan Presiden AS Donald J. Trump dalam kerja sama perdagangan timbal balik di Washington D.C, AS, Kamis (19/2/2026). Foto: Sekretariat Kabinet
apakabar.co.id, JAKARTA - Kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan pelaku pasar global. Bukan semata soal proteksionisme perdagangan, kebijakan ini dinilai memicu ketidakpastian yang membuat investor memilih bermain aman.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menjelaskan investor global membaca kebijakan tarif AS sebagai sumber volatilitas kebijakan atau policy uncertainty.

Menurut Rizal, ketika aturan perdagangan dapat berubah dalam waktu singkat, proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, hingga arus logistik global menjadi sulit diprediksi. Situasi ini membuat para pelaku pasar mengurangi risiko.

"Karena itu investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS, sementara aset emerging market dianggap lebih berisiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah," ujar Rizal di Jakarta, Minggu (22/2).

Risiko dari sentimen
Rizal menegaskan, dampak kebijakan tarif AS lebih banyak bekerja melalui jalur sentimen risiko global (risk sentiment), bukan secara langsung melalui perdagangan barang.

Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya mengambil posisi risk-off, yakni mengurangi kepemilikan aset negara berkembang dan beralih ke instrumen yang dianggap aman.

Bagi Indonesia, efek awal biasanya terlihat di pasar keuangan. Rizal menyebut potensi arus keluar dana asing jangka pendek dari pasar obligasi dan saham sangat mungkin terjadi.

Dampaknya antara lain, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta tekanan pada likuiditas pasar domestik. "Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil," papar Rizal.

Rupiah dan IHSG bergejolak
Tekanan paling cepat, lanjut Rizal, biasanya terjadi pada nilai tukar rupiah. Mata uang domestik sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS dan arus modal global.

Penguatan dolar AS yang dibarengi dengan capital outflow berpotensi membuat rupiah melemah sementara. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung bergerak volatil.

Namun tidak semua sektor terdampak sama. Rizal menilai sektor komoditas relatif lebih tahan dibanding sektor manufaktur dan perbankan yang lebih sensitif terhadap arus modal dan permintaan global.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kondisi ini masih didorong sentimen. Artinya, arah pasar dalam beberapa hari ke depan sangat tergantung pada stabilitas global, bukan semata faktor domestik.

"Namun sifatnya masih sentiment driven, sehingga arah pasar akan sangat tergantung stabilitas global beberapa hari ke depan," ujarnya.

Tiga faktor penentu
Memasuki pekan depan, investor disebut akan mencermati tiga faktor utama.

Pertama, arah kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS. Setiap sinyal pengetatan atau pelonggaran kebijakan moneter akan memengaruhi arus modal global.

Kedua, respons kebijakan Bank Indonesia, khususnya dalam menjaga stabilitas rupiah dan likuiditas pasar. Langkah antisipatif dari otoritas moneter dinilai penting untuk meredam gejolak.

Ketiga, kepastian implementasi tarif AS terhadap negara mitra, termasuk Indonesia. Kejelasan kebijakan diyakini dapat mengurangi ketidakpastian di pasar.

Selain itu, data domestik seperti inflasi, cadangan devisa, serta perkembangan arus modal asing juga akan menjadi indikator penting. Data tersebut akan menunjukkan apakah tekanan eksternal hanya bersifat sementara atau mulai memengaruhi stabilitas makroekonomi nasional.

Di tengah dinamika global yang cepat berubah, pelaku pasar kini menunggu sinyal kepastian. Bagi Indonesia, tantangannya adalah menjaga kepercayaan investor agar gejolak eksternal tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih dalam terhadap ekonomi nasional.