SPORT

Komdis PSSI Dinilai Belum Efektif, Kerusuhan Suporter Terus Berulang

Kerusuhan suporter terjadi saat Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC pada pertandingan playoff Liga 2  di Stadion Lukas Enembe, beberapa waktu lalu. Foto: Antara
Kerusuhan suporter terjadi saat Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC pada pertandingan playoff Liga 2 di Stadion Lukas Enembe, beberapa waktu lalu. Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Kerusuhan suporter yang terus berulang di sepakbola Indonesia kembali memunculkan pertanyaan soal efektivitas hukuman Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Berbagai sanksi berat seperti denda ratusan juta rupiah, laga tanpa penonton, hingga hukuman satu musim penuh dinilai belum mampu memberikan efek jera.

Sejumlah klub bahkan harus menerima dampak finansial besar akibat ulah suporternya sendiri. Persela Lamongan pernah menjalani hukuman kandang tanpa penonton selama satu musim, yang berdampak langsung pada pemasukan klub dan keberlangsungan investasi.

Situasi serupa kini dialami Persipura Jayapura setelah mendapat sanksi pertandingan tanpa penonton akibat kerusuhan suporter. Klub tetap harus menanggung biaya operasional, akomodasi, dan transportasi tanpa pemasukan tiket pertandingan.

Belum reda polemik tersebut, insiden kembali terjadi saat laga PSM Makassar kontra Persib Bandung ketika sejumlah suporter masuk ke lapangan dan memicu ketegangan pertandingan.

Ketua Panitia Pelaksana Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief, menilai hukuman tegas memang diperlukan agar pelanggaran tidak menular ke pertandingan lain. Namun ia menyebut masih ada persoalan mendasar yang belum diselesaikan dalam sepakbola Indonesia.


Menurut Ferry, regulasi selama ini terlalu fokus pada kepentingan kompetisi dan sponsor, sementara ruang komunikasi dengan suporter masih minim. Ia juga mengusulkan agar dana hasil denda suporter digunakan kembali untuk program edukasi seperti jambore suporter, sosialisasi aturan pertandingan, hingga diskusi regulasi sepakbola.

Sementara itu, pengamat sepakbola Haris Pardede atau Bung Harpa menilai hukuman yang ada saat ini belum efektif karena kerusuhan terus terulang dari musim ke musim.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya soal hukuman, tetapi juga lemahnya crowd control dan pengawasan di stadion. Bung Harpa menegaskan klub tetap harus bertanggung jawab, namun pelaku individu juga perlu mendapat hukuman lebih berat, termasuk sanksi pidana.

Ia menambahkan, perubahan budaya sepakbola harus dimulai dari internal suporter sendiri. “Suporter harus menghukum suporternya sendiri. Karena kalau sesama suporter yang menegur, biasanya lebih dihormati,” ujarnya.