NEWS

Kondisi Terbaru Aktivis KontraS: Komplikasi-Jalani Operasi Lanjutan

Di tengah desakan pengusutan rantai komando, kondisi Andrie Yunus justru mengalami komplikasi serius dan harus menjalani operasi lanjutan di RSCM.
Polda Metro Jaya saat menggelar konferensi pers update kasus penyiraman air keras ke aktivis KontraS Andrie Yunus, beberapa waktu lalu. Foto via Detik
Polda Metro Jaya saat menggelar konferensi pers update kasus penyiraman air keras ke aktivis KontraS Andrie Yunus, beberapa waktu lalu. Foto via Detik
apakabar.co.id, JAKARTA - Perkembangan terbaru penanganan medis aktivis KontraS korban penyiraman air keras, Andrie Yunus, menunjukkan kondisi yang masih memerlukan penanganan intensif.

Dalam tiga hari terakhir, tim dokter menemukan adanya iskemia atau gangguan aliran darah pada bagian bawah mata kanan yang menyebabkan penipisan jaringan. Berdasarkan evaluasi tersebut, tim medis melakukan operasi lanjutan pada Rabu (25/3/2026) dengan melibatkan spesialis mata dan bedah plastik.

Dalam tindakan itu, mengutip siaran pers Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang telah diveriikasi oleh Koalisi Masyarakat Sipil Reformasi Sektor Keamanan, dilakukan pemindahan jaringan untuk menutup area terbuka, pemasangan membran amnion, serta pemasangan kembali pelindung bola mata.

Selain itu, tim medis menemukan pula penipisan kornea yang bersifat progresif akibat inflamasi, sehingga dilakukan tindakan tambahan untuk melindungi jaringan, termasuk penjahitan sementara kelopak mata.
Dari sisi bedah plastik, dokter melakukan pembersihan jaringan mati serta cangkok kulit pada area mata, dada, dan pundak. Saat ini, fokus utama penanganan disebut adalah mempertahankan integritas bola mata kanan dan mengendalikan peradangan. "Kondisi pasien masih dalam pemantauan ketat dan dijadwalkan evaluasi lanjutan pada 28 Maret 2026," demikian bunyi keterangan resmi RSCM. 

Perkembangan medis ini terjadi di tengah sorotan terhadap penanganan kasus hukum yang belum sepenuhnya terungkap. Sebelumnya, kasus penyiraman terjadi pada Kamis malam (12/3/2026) di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Berdasarkan penyelidikan, korban diserang saat mengendarai sepeda motor.

Dalam rekaman CCTV, korban terlihat disiram cairan oleh pelaku hingga langsung kehilangan kendali dan terjatuh di pinggir jalan. Polisi menyebut cairan tersebut menyebabkan luka serius, bahkan pakaian yang dikenakan korban ditemukan dalam kondisi rusak hingga meleleh.

Penyelidikan mengungkap pelaku berjumlah empat orang dan diduga telah mengikuti pergerakan korban sebelum melakukan penyerangan. Sejumlah barang bukti diamankan dari lokasi kejadian, termasuk pakaian korban dan helm yang diduga milik pelaku. Barang bukti tersebut telah dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik Polri untuk pemeriksaan sidik jari dan DNA.
Di sisi lain, penanganan kasus ini juga mendapat sorotan dari koalisi masyarakat sipil, termasuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan KontraS. Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, menyatakan langkah penyerahan jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI tidak dapat dipandang sebagai bentuk akuntabilitas yang utuh.

“Pergantian Kepala BAIS bukan solusi. Negara harus membongkar rantai komando di balik serangan air keras terhadap Andrie Yunus dan menyeret pelaku ke peradilan umum,” ujarnya.

Koalisi menilai pengungkapan kasus belum menyentuh aspek mendasar, terutama terkait dugaan keterlibatan pihak lain dalam struktur komando.

Hingga kini, empat anggota Badan Intelijen Strategis TNI telah ditetapkan sebagai terduga pelaku dan masih menjalani pemeriksaan internal. Motif serangan juga belum dijelaskan secara resmi, sementara kondisi korban masih memerlukan penanganan medis berkelanjutan.