LINGKUNGAN HIDUP

Petani Kakao Sarmi Terapkan Agroforestri Hadapi Perubahan Iklim

Petani kakao mengikuti pelatihan budidaya kakao cerdas iklim di Kampung Anus, Kabupaten Sarmi, Papua. Foto: ANTARA
Petani kakao mengikuti pelatihan budidaya kakao cerdas iklim di Kampung Anus, Kabupaten Sarmi, Papua. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Yayasan EcoNusa mendorong petani kakao di Kampung Anus, Kabupaten Sarmi, Papua, menerapkan sistem agroforestri sebagai upaya meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim yang mulai memengaruhi produktivitas kebun kakao di wilayah tersebut.  

Program Associate EcoNusa Simon Bonay mengatakan perubahan pola musim, banjir, dan abrasi menjadi tantangan yang dihadapi petani, sehingga diperlukan praktik budidaya yang lebih adaptif terhadap iklim.   

"Agroforestri merupakan praktik yang tahan iklim, pangan, dan ekonomi bagi petani," kata Simon dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (24/7).

Ia menjelaskan pendekatan agroforestri mendorong petani tidak hanya menanam kakao secara monokultur, tetapi mengombinasikannya dengan tanaman lain seperti kelapa, pisang, pinang, gamal, dan matoa. Pola tanam tersebut dinilai mampu menjaga kelembapan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta memberikan sumber pendapatan alternatif ketika harga kakao menurun.  
Menurut EcoNusa, praktik pengelolaan lahan yang masih dilakukan sebagian petani, seperti membabat seluruh vegetasi dan membakar sisa tanaman saat membuka lahan, berpotensi menurunkan kualitas tanah karena mengganggu keseimbangan ekosistem serta mengurangi peran mikroorganisme pengurai.  

Untuk meningkatkan kapasitas petani menghadapi perubahan iklim, EcoNusa menggelar Pelatihan Praktik Budidaya Kakao Cerdas Iklim pada 15-20 Juni 2026 di Kampung Anus yang diikuti sekitar 20 petani kakao.    

Pelatihan tersebut mencakup penerapan agroforestri, teknik budidaya, pemangkasan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, hingga teknik sambung samping dan sambung pucuk guna meningkatkan kualitas tanaman tanpa harus melakukan penanaman ulang.  

Selain itu, peserta memperoleh pelatihan mengenai panen dan pascapanen, termasuk proses fermentasi biji kakao untuk meningkatkan mutu hasil panen. Dalam kegiatan tersebut, EcoNusa bersama masyarakat membangun dua unit kotak fermentasi guna mendukung peningkatan kualitas biji kakao agar memiliki nilai jual lebih tinggi.  

Salah seorang petani Kampung Anus, John Firtar, mengatakan pelatihan tersebut mendorong perubahan perilaku petani dalam mengelola kebun.

"Bahkan sebelum sesi dimulai atau setelah kegiatan selesai, petani langsung bergerak membersihkan kebun masing-masing. Kami langsung tanya ada bibit unggul atau tidak supaya bisa segera ditanam di kebun," ujar John.   
EcoNusa berharap peningkatan kapasitas petani melalui penerapan budidaya kakao cerdas iklim dapat membantu memulihkan produktivitas kakao di Sarmi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.  

Pengalaman petani kakao Kampung Anus dalam mengembangkan pertanian berbasis agroforestri menjadi salah satu contoh praktik ekonomi berkelanjutan di Papua.

Pendekatan ini akan menjadi bagian dari pembahasan dalam Papeda Summit yang diselenggarakan di Sorong pada 2-4 September 2026. Forum tersebut akan mendorong pertukaran gagasan mengenai pembangunan berkelanjutan, inovasi lokal, serta strategi pengelolaan sumber daya alam yang selaras dengan kebutuhan masyarakat Papua.